Khofifah: Partisipasi Politik di Muslimat NU Berjalan Baik

HARLAH MUSLIMAT NU: Khofifah dalam kegiatan Harlah ke-72 Muslimat NU dan Peringatan Kemerdekaan ke-73 RI di GOR Bojonegoro, Senin (27/8). | Foto: Barometerjatim.com/MARJAN AP
HARLAH MUSLIMAT NU: Khofifah dalam kegiatan Harlah ke-72 Muslimat NU dan Peringatan Kemerdekaan ke-73 RI di GOR Bojonegoro, Senin (27/8). | Foto: Barometerjatim.com/MARJAN AP

BOJONEGORO, Barometerjatim.com – Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa menyebut partisipasi dan edukasi politik di Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) yang dipimpinnya sudah berjalan baik.

Insyaallah sudah (baik),” katanya saat memberi arahan dalam kegiatan Harlah ke-72 Muslimat NU dan Peringatan Kemerdekaan ke-73 RI di GOR Bojonegoro yang dihadiri ribuan jamaah, Senin (27/8).

Partisipasi politik tersebut, lanjut Khofifah, di antaranya bisa dilihat dari tak sedikit pengurus Muslimat NU yang mendapatkan kepercayaan publik dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

• Baca: Khofifah Pilih Bicara Program Ketimbang soal Rais Aam

Setidaknya, ada lima orang yang terpilih dalam Pilkada 2018 lalu. Selain Khofifah yang memenangi Pilgub Jatim, empat lainnya yakni Ketua Bidang Sosial PC Muslimat NU Mojokerto, Ika Puspitasari yang terpilih sebagai wali kota Mojokerto.

Lalu Ketua PC Muslimat NU Jombang, Mundjidah Wahab terpilih sebagi bupati Jombang. Berikutnya Sekretaris IV PP Muslimat NU, Ana Muawanah terpilih sebagai Bupati Bojonegoro dan Ketua PC Muslimat NU Kediri, Lilik Muhibah terpilih menjadi wakil wali kota Kediri.

“Jadi saya menilai edukasi politik di Muslimat NU itu sudah baik,” tegasnya.

• Baca: Ketua PWNU Jatim: Bu Khofifah Pemimpin Berpengalaman

Meski demikian, tambah Khofifah, ada yang berbeda dan harus disikapi dengan cerdas pada Pemilu 2019 karena Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) digelar bersamaan.

“Ini adalah bagian dari dinamika politik dan dinamika itu akan ada perubahan, maka perubahan akan menjadi bahan dari pendewasaan politik kita,” tuturnya.

• Baca: Khofifah: Persatuan NU Penting untuk Membangun Jatim

Hal lain yang patut diwaspadai, yakni pencerdasan dalam menggunakan media sosial. Mantan menteri sosial itu meminta jamaah Muslimat NU untuk melakukan saring sebelum sharing postingan.

Bahkan edukasi juga perlu dilakukan melalui pelatihan berjenjang. “Mari perempuan berpolitik etik yang berkualitas,” tandasnya.