Khofifah Korban ‘Kampanye Hitam’, NU Ikut Dipojokkan

 KHOFIFAH KORBAN KAMPANYE HITAM: Di tengah popularitasnya yang makin tinggi, Cagub Jatim Khofifah Indar Parawansa mulai jadi sasaran kampanye hitam. | Foto: Capture FB
KHOFIFAH KORBAN KAMPANYE HITAM: Di tengah popularitasnya yang makin tinggi, Cagub Jatim Khofifah Indar Parawansa mulai jadi sasaran ‘kampanye hitam’. | Foto: Capture FB

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pasangan Cagub-Cawagub Jatim belum ditetapkan, tapi ‘kampanye hitam’ mulai disebar. Sama seperti di dua Pilgub Jatim sebelumnya (2008 dan 2013), sasarannya adalah Khofifah Indar Parawansa. Sedihnya lagi, kali ini Nahdlatul Ulama (NU) ikut dipojokkan.

Adalah sebuah ‘meme hitam’ yang disebar beberapa jam usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Idrus Marham sebagai Menteri Sosial (Mensos) menggantikan Khofifah di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/1) pagi.

Meme itu bergambar Khofifah tengah duduk dan di atas meja ada pelakat Menteri Sosial yang dicoret dengan kalimat bernada serangan untuk Khofifah dan NU: Akhirnya NU Kehilangan Menteri Sosial karena Ambisi.

• Baca: Teringat ‘Dibesarkan’ PMII, Air Mata Mensos Khofifah Terurai

Reaksi keras — terutama dari kalangan Nahdliyin — pun bermunculan di media sosial, karena NU seolah digambarkan sebagai jamiyah yang hanya berorientasi mengejar jabatan. Selain itu pembuat meme kurang memahami kalau pengganti Khofifah, Indrus Marham adalah kader NU tulen.

“Idrus Marham itu alumni IPNU, juga alumni PMII. Tapi mereka bilang bukan kader NU. Kok segitunya mereka bikin materi agitasi, demi sebuah ambisi,” tulis akun facebook, Fairouz Huda.

Sampean waras? Saya rasa tidak, karena kewarasan sampean telah terkalahkan dengan kepentingan kuasa, yang tak berdasar pada visi ideologis. Sebaliknya lebih pada pilihan pragmatis. Oh no,” tambahnya.

Akun Abdullah Sam ikut menimpali, “Agitasi kampungan.. NU tidak pernah kemana-mana tapi ada dimana mana,” tulisnya. “Banyak yang ngerorong pada NU, tujuannya untuk memecah NU,” tambah akun Hendrik Agustya Alfatih.

• Baca: Lucu! Undang Khofifah, Izin Gedung Acara PMII Putri Dicabut

“Mau membuat kambing hitam bahwa Khofifah biang kerok menjadikan NU rugi. Heheheh.. Isu murahan, rakyat sak iki wes cerdas,” tambah akun Abdullah Sam.

Saat dihubungi wartawan, Fairouz Huda yang juga Koordinator Jaringan Muda Nahdlatul Ulama (Jarmunu) Jatim itu menegaskan, seharusnya bakal paslon dan tim pemenangan tidak menggunakan simbol NU untuk kepentingan Pilgub Jatim.

“Agar tidak mencederai marwah NU itu sendiri, jika memang banyak tokoh NU menginginkan NU tidak pecah,” tandas ketua umum PKC PMII Jatim 2011-2013 tersebut.

Khofifah-NU ‘Diserang’

KHOFIFAH DAN NU DISERANG: Kalimat bernada serangan untuk Khofifah dan NU: Akhirnya NU Kehilangan Menteri Sosial karena Ambisi. Padahal Idrus Marham kader NU tulen. | Foto: Capture FB
KHOFIFAH DAN NU DISERANG: Kalimat bernada serangan untuk Khofifah dan NU: Akhirnya NU Kehilangan Menteri Sosial karena Ambisi. Padahal Idrus Marham kader NU tulen. | Foto: Capture FB

Respon Fairouz mendapat dukungan dari sejumlah kader PMII di Jawa Timur. Mereka menganggap tidak semestinya ‘agitasi murahan’ tersebut disebar hanya untuk kepentingan Pilgub Jatim. Apalagi hal itu dilakukan bukan atas dasar fakta.

“Semua aktivis juga tahu kalau Pak Idrus ini kader PMII. Dia juga NU. Maka menjadi aneh ketika muncul gambar tersebut. Meme itu untuk kepentingan siapa?” kata M Najih Muslim, mantan anggota IKA PMII Malang.

“Kami yakin hal itu sengaja disebar untuk menyudutkan Ibu Khofifah. Beda pilihan tidak menjadi soal, tetapi ya jangan menghalalkan segala cara begitu.”

• Baca: Kasihan Umat, Stop ‘Akrobat Politik’ Atas Nama Kiai Kampung

Hal senada diungkapkan Mabinda PMII Jatim, Aan Ainurrofiq. “Beliau (Idrus Marham) alumnus PMII Semarang seangkatan Ali Maskur Musa. Bahkan rival Ali Maskur saat kongres PMII tahun 90-an,” terangnya.

Selebihnya Aan mengapresiasi pergantian posisi Menteri Sosial tersebut karena tetap diisi kader PMII. “Sebagai alumnus dan sekretaris Ika PMII tentu ada kebanggaan, dan ini sebuah penghargaan yang tinggi kepada kami aktivis pergerakan kususnya PMII,” pungkas Ketua PMII cabang Surabaya 2002-2003 itu.