Jangan Lupa! Ada Kekuatan Arumi di Balik Kehebatan Emil

SUMBANG ELEKTABILITAS: Arumi Bachsin, pengaruhnya turut sumbang elektabilitas pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SUMBANG ELEKTABILITAS: Arumi Bachsin, pengaruhnya turut sumbang elektabilitas pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Banyak faktor menjadi penentu kemenangan  Khofifah-Emil Dardak di Pilgub Jatim 2018. Satu paling signifikan, yakni elektabilitas Emil yang terkerek tajam, terlebih di hari-hari jelang coblosan.

“Kalau untuk Cagubnya (Khofifah dan Gus Ipul) sudah enggak bisa dikerek lagi, karena sudah di batas maksimal popularitas dan elektabilitas,” nilai pengamat politik asal Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UNINSA) Surabaya, Ahmad Zainul Hamdi saat dihubungi Barometerjatim.com, Sabtu (30/6).

“Itu bisa kita lihat dari servei-survei awal, maka pilihan yang menentukan ada di Cawagubnya. Dan kalau kita komparasikan antara Emil dan Puti (Guntur Soekarno), Emil lebih bisa dipasarkan sosoknya.”

• Baca: Emil Sungkem Orang Tua dan Ziarah ke Makam Leluhur

Tentang sentimen masyarakat, misalnya. Emil bisa lebih dipasarkan sebagai anak muda Nahdlatul Ulama (NU) yang cerdas. “Di Jatim dia dikenal sebagai pemimpin muda yang progresif, kurang lebih karakternya kayak Azwar Anas di Banyuwangi,” paparnya.

Tapi figur Emil juga harus dikasih tanda plus, karena ditopang pengaruh istrinya, Arumi Bachsin. “Karena itu dia lebih bisa men-grab (merebut) anak-anak muda dibanding Puti. Jadi itu yang kemudian bisa mendongkrak elektabilitas pasangan nomor satu,” katanya.

Dengan diiringi popularitas Arumi, faktor kemudaan Emil bisa menjadi faktor entertainment yang mengundang daya tarik pemilih muda. Sedangkan Emil diidentikkan sebagai pemimpin muda yang progresif, pintar, cerdas dengan latar belakang pendidikan sangat baik. “Saya kira ini dua pasangan yang sangat bisa mengisi,” tegasnya.

• Baca: ‘Diserbu’ Pengunjung Mall, Emil Membalas dengan Lagu

Di sisi lain, tutur Zainul, sekalipun Puti menyandang klan Soekarno tapi mantan anggota DPR RI itu sama sekali tidak dikenal di Jatim karena baru dipasarkan ketika digandengkan dengan Gus Ipul.

Begitu pula ketika Puti diposisikan untuk merebut pemilih muda. “Puti ini kan lebih dikenal sebagai emak-emak daripada embak-embak, baik secara usia, penampilan dan sebagainya,” jelasnya.

“Dia (Puti) tidak mencitrakan dirinya sebagai embak-embak. Kalau sudah ngomong emak-emak, ya sudah pasti ‘dimakan’ sama Khofifah-lah,” tandasnya.