Jangan Beri Ruang Sukmawati dan Kelompoknya Berkuasa

WASPADAI SUKMAWATI: Gus Hans, bahaya kalau Sukmawati Soekarnoputri dan kelompoknya diberi ruang berkuasa di negeri ini. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
WASPADAI SUKMAWATI: Gus Hans, bahaya kalau Sukmawati Soekarnoputri dan kelompoknya diberi ruang berkuasa di negeri ini. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Queen Al Azhar Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, KH Zahrul Azhar As’ad menilai wajar-wajar saja puisi putri Bung Karno, Sukmawati Soekarnoputri.

Baginya, puisi adalah karya seni yang mencerminkan ekspresi jiwa seseorang. Jika kemudian puisi adik kandung Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri itu dinilai banyak pihak mengandung unsur penistaan agama, berarti jiwa Sukmawati tidak jauh dari hal itu.

“Sehingga kita tahu karakternya, komunitas mereka, teman-teman ‘merah’ ya seperti itu dan itu hak mereka. Mau diubah seperti apapun, wong itu jiwa mereka. Hal-hal seperti ini juga lumrah di negara yang multi-agama dan suku,” katanya saat dihubungi wartawan, Selasa (3/4).

• Baca: Gerindra Jatim: Sukmawati Tak Tahu Sejarah Bangsa Sendiri

Saat ditanya bukankah Jokowi juga dari ‘kelompok merah’, kiai muda yang akrab disapa Gus Hans tersebut menegaskan, “Kalau karakater Pak Jokowi sangat jauh berbeda dengan mereka. Beliau lebih santun dan religius serta tidak ‘menyerang’ kelompok tertentu.”

Karena itu, menyikapi puisi Sukmawati, Gus Hans berharap masyarakat jangan sampai menyalurkan ketidaksetujuannya dengan cara melakukan demo, apalagi sampai anarkis karena bakal menambah masalah.

Sebaliknya, dia mengajak masyarakat untuk menggunakan cara-cara politik dalam menanggapi manuver Sukmawati dan kelompoknya. “Kita salurkan ekspresi ketidaksetujuan dengan tidak memberi mereka ruang untuk berkuasa,” ajaknya.

“Jangan memilih mereka untuk menjadi penguasa. Jangan memilih orang-orang di balik mereka, termasuk yang sekarang berkontestasi dalam semua tingkatan Pemilu, karena value-value itu juga tidak akan jauh dari hati nuraninya.”

• Baca: Kritik Sekjen PKB, Gus Hans: Kiai Bukan Objek Taruhan Politik

Cara-cara politik seperti itu, menurut Gus Hans, selain lebih bermatabat, juga akan menutup ruang mereka karena tidak berperan di pentas kekuasaan. “Kalau tidak setuju dengan mereka, ya jangan biarkan memiliki peran penting di negeri ini,” tegasnya

Akademisi Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang tersebut menambahkan, jika kelompok seperti itu diberi ruang di kekuasaan maka akan sangat berbahaya karena kebijakan politik tidak jauh dari hati siapa yang berkuasa.

“Sekali lagi, tidak perlu emosional. Salurkan emosi itu menjadi energi positif melalui kanal demokrasi dengan cara jangan pilih dari golongan mereka yang punya jiwa seperti itu. Simpel kan!” tuntasnya.