Inilah 6 Tokoh Penerima Gelar Pahlawan Nasional 2019

PAHLAWAN NASIONAL: (Atas) Ruhana K, Sardjito, KH Masjkur. (Bawah) Sultan H, Kahar M, AA Maramis. | Foto: IST
PAHLAWAN NASIONAL 2019: (Dari kiri atas) Ruhana K, Sardjito, KH Masjkur. (Bawah) Sultan H, Kahar M, AA Maramis. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Jelang peringatan Hari Pahlawan, 10 November, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh di Istana Negara Jakarta, Jumat (8/11/2010).

Keenam tokoh tersebut ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No 120/TK/2019 tertanggal 7 November 2019. Tanda kehormatan diberikan Jokowi kepada para ahli waris.

Dikutip dari berbagai sumber, inilah sosok, kiprah dan jasa besar keenam Pahlawan Nasional tersebut untuk Indonesia:

1. Ruhana Kudus

Perempuan yang lahir di Kota Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini adalah kakak tiri dari Sutan Sjahrir, bibi penyair Chairil Anwar, serta sepupu H Agus Salim.

Ruhana juga pendiri sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang pada 1911. Sembari aktif di bidang pendidikan, dia menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Setelah dibredel pemerintah Belanda, Ruhana lantas mendirikan surat kabar Sunting Melayu. Inilah satu surat kabar pertama untuk segmen perempuan di Indonesia.

2. Sultan Himayatuddin

Lahir di Buton, Sulawesi Tenggara. Sultan Himayatuddin menyandang pejuang gerilyawan yang menentang penjajahan Belanda di wilayah Kesultanan Buton.

Lewat perang gerilya sejak 1755 hingga 1776, dia penuh gagah berani berjuang dari dalam hutan untuk mengusir VOC Belanda dari tanah Buton.

Buah kesuksesannya mengusir kaum penjajah di tanah Buton, pihak Kesultanan Buton menobatkan Sultan Himayatuddin sebagai “Oputa Yi Koo”.

3. Prof M Sardjito

Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) 1950-1961 dan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) 1964-1970.

Pria kelahiran DI Yogyakarta ini juga membuat makanan khusus untuk bakal tentara RI di medan perang. Makanan tersebut dikenal dengan biskuit Sardjito yang sangat membantu persediaan logistik.

Bahkan untuk mengenang jasanya, UGM mengabadikan nama Sardjito menjadi nama rumah sakit di lingkungan kampus legendaris tersebut.

4. Abdoel Kahar Moezakir

Bersama AA Maramis dan KH Masjkur, Kahar adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)/Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Lahir di Kotagede, Yogyakarta, Kahar juga tercatat sebagai rektor UII periode 1945-1948 dan 1948-1960. Selain itu, Kahar pendiri Perhimpunan Indonesia Raya pada 1933 usai mengenyam pendidikan di Universitas Kairo, Mesir.

5. Alexander Andries (AA) Maramis

Lahir di Sulawesi Utara, Maramis selain pernah menjadi anggota BPUPKI/PPKI yang bertugas merumuskan dasar negara, juga pernah menjadi Menteri Keuangan periode 1945-1945 dan 1948-1949.

Maramin-lah orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia (ORI) pertama dengan denominasi 1, 5, dan 10 sen ditambah 1/2, 1, 5, 10, dan 100 rupiah.

6. KH Masjkur

Selain tercatat sebagai pendiri Pembela Tanah Air (Peta), Kiai Masjkur yang kelahiran Singosari, Malang, Jatim merupakan Menteri Agama Indonesia pada 1947-1949 dan 1953-1955.

Kiai Masjkur juga mengomandoi Laskar Sabilillah untuk menggerakkan semangat perjuangan kalangan pesantren dan para kiai, dalam pertempuran arek-arek Suroboyo, November 1945.

» Baca Berita Terkait Pahlawan Nasional