Industri Kriya Sumbang PDRB Jatim Rp 170,86 Triliun

HUT DEKRANASDA: Ketua Dekranasda Jatim, Nina Soekarwo saat Peringatan HUT ke-38 Dekranasda Jatim di Surabaya, Selasa (6/3). | Foto: Ist
HUT DEKRANASDA: Ketua Dekranasda Jatim, Nina Soekarwo saat Peringatan HUT ke-38 Dekranasda Jatim di Surabaya, Selasa (6/3). | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Membanggakan! Industri kerajinan hastakarya keterampilan tangan (Kriya) masyarakat Jatim, sukses menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp 170,86 triliun atau 9,21 persen dari total Rp 1,855,04 triliun PDRB Jatim.

Sukses tersebut tak lepas dari peran serta Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim, “Lewat peningkatan kontribusi industri kerajinan dalam pembangunan nasional maupun daerah,” tutur Ketua Dekranasda Jatim, Nina Soekarwo saat Peringatan HUT ke-38 Dekranasda Jatim di Surabaya, Selasa (6/3).

Nina menambahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016 mencatat, struktur ekonomi kreatif Jatim mayoritas didukung tiga sektor utama, yakni kuliner, kriya dan fashion.

• Baca: Sambut Bonus Demografi dengan Generasi Gemar Ikan

Khusus sub sektor kriya, PDRB Jatim mendapat sumbangan Rp 25,65 triliun atau 19,87 persen. Jumlah tersebut menempati peringkat kedua setelah sub sektor kuliner sebesar 63,99 persen.

“Dengan capaian tersebut, PDRB sub sektor kriya mampu memberikan kontribusi 18,06 persen untuk PDRB nasional atau sebesar Rp 142,06 trliun,” katanya.

Hal itu menunjukkan, bahwa keberadaan Dekranasda yang mempunyai tugas menggali, melindungi, mengembangkan dan mempromosikan potensi industri kecil dan industri kreatif, mampu digerakkan mulai tingkat desa hingga perkotaan di wilayah Jatim.

• Baca: Catat Janji PU Bina Marga: 1×24 Jam Jalan Berlubang Hilang

“Dengan tujuan apa? Agar masyarakat yang mempunyai keahlian dan kreativitas tersebut bisa terangkat ekonominya serta bisa sejahtera kehidupannya. Bisa dikatakan, cukup berhasil dan bisa terus berkesinambungan dari tahun ke tahun mampu bertahan serta bisa meningkat, terangnya.

Untuk mempertahankan apa yang telah dicapai, Nina mengajak semuanya untuk bekerja lebih keras lagi. Apalagi era global seperti sekarang ini memiliki tantangan cukup kompleks. “Salah satu contoh adalah kerajinan batik yang sudah diakui Unesco,” katanya.

Nah, untuk mempertahankan kerajinan batik membutuhkan keahlian dan kesabaran serta kreativitas yang tinggi. Selain itu, menjaga kualitas produksi, ketepatan waktu dalam memproses dan harganya pun harus bisa bersaing dengan barang-barang dari luar negeri.

Fasilitasi IKM

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Ardi Prasetyawan mengatakan, kinerja Dekranasda pada 2017 lalu telah memberikan banyak fasilitas kepada Indusri Kecil Menengah (IKM) berupa fasilitas teknis kepada 520 IKM kerajinan, serta fasilitasi pameran kepada 99 IKM kerajinan di sektor produksi batik, bordir, aksesoris dan kerajinan kulit.

Dekranasda juga memfasilitasi pemasaran yang ditempatkan di showroom milik Dekkrasda Jatim. Sampai saat ini, koleksi produk kerajinan yang ada di showroom tercatat sebanyak 16.453 item dari 766 IKM seluruh Jatim.

• Baca: Pakde Karwo Ajak HIPMI Jatim Atasi Impor Bahan Baku

“Di showroom tersebut mampu menarik 4.510 orang pengunjung, dan bisa menghasilkan nilai penjualan produk kerajinan sebesar Rp 592 Juta,” katanya.

Sedangkan di 2018, Dekranasda memiliki beberapa program yang akan segera dilaksanakan. Antara lain, mempromosikan produk-produk batik, tenun dan kerajinan. Salah satunya lewat pameran batik bordir dan aksesoris 2018 yang akan diselenggarakan pada 9-13 Mei 2018 di Grand City Surabaya, serta Surabaya Jelewerry Fair 2018 pada 25 28 Oktober di Hotel Shangrila Surabaya.