Ketum PPP: Jatim Terlalu Besar Dipimpin Gubernur Cengengesan

TOKOH NU BERKUMPUL: Romahurmuziy (tengah) dan Choirul Anam menggelar pertemuan internal usai Istighotsah Menyambut Pilkada Serentak di halaman Gedung Astra Nawa, Surabaya, Sabtu (3/3) pagi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
TOKOH NU BERKUMPUL: Romahurmuziy (tengah) dan Choirul Anam menggelar pertemuan internal dengan Cagub Khofifah Indar Parawansa usai acara di Astra Nawa, Surabaya, Sabtu (3/3). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy atau akrab disapa Romi angkat bicara soal keputusan Parpolnya mengusung Khofifah Indar Parawansa sebagai Cagub Jatim.

Pertama, Jatim adalah provinsi dengan kabupaten dan kota terbanyak (38) se-Indonesia. Dengan demikian, Jatim menjadi salah satu penyangga energi maupun tangan nasional, maka jangan sampai dipimpin gubernur yang tidak pernah serius mengurus provinsi ini.

Ojo ger-geran (guyonan) tok, republik dan provinsi itu terlalu besar untuk diperintah dan dipimpin dengan cengengesan,” kata Romi saat menghadiri acara Istighotsah Menyambut Pilkada Serentak di halaman Gedung Astra Nawa, Surabaya, Jumat (2/3) malam dan Sabtu (3/3) pagi.

• Baca: PPP Tak Akan Usung Calon Kepala Daerah “Cengengesan”

Penegasan Romi itu seolah kembali menyindir Cagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang selama ini dikenal suka melontarkan ‘guyonan’ di setiap pidatonya. Sebelumnya, saat Rapimwil IV DPW PPP Jatim dan Halaqoh Ulama di Surabaya, awal Desember tahun lalu, Romi menegaskan partainya tidak akan memilih Cagub yang hanya bisa cengengesan.

“Banyak orang setelah duduk menjadi kepala daerah enggak tahu apa-apa, cengengesan saja tahunya, ini problem,” katanya kala itu. Dan benar, PPP akhirnya memutuskan mengusung Khofifah yang berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak.

Karena itu, tandas Romi, Jatim butuh dipimpin Khofifah yang jelas-jelas memiliki kapasitas, pengalaman, bersih dan berintergritas, “Serta mampu mengawal khitthah nahdliyah,” tandasnya.

• Baca: Target 3 Besar, Romi Rangkul Para Penghancur PPP

Alasan kedua, lanjut Romi, PPP mendukung Khofifah karena di Pilgub Jatim 2018 ini yang dipertaruhkan adalah masa depan politik NU. “Maka hari ini PPP kembali kepada jati dirinya yang memang dilahirkan dari rahim NU. Di Jatim, PPP harus tegas dan jelas memilih pemimpin yang amanah, bersih dan serius ngurus Jatim,” paparnya.

Sebelumnya, di Pilgub Jatim, PPP memang satu-satunya Parpol parlemen yang mengusung Khofifah yang saat itu berpasangan dengan Mudjiono (Kaji).

“Enggak ada duanya dan waktu itu sebenarnya (Kaji) menang, tetapi dikalahkan. Dan sejak Pilkada langsung digelar 1 Januari 2005, hanya Pilgub Jatim satu-satunya Pilkada yang digelar sampai tiga putaran,” katanya.

Membentur Parpol Penguasa

Romi menambahkan, waktu itu dirinya yang menjadi ketua tim pemenangan serta elemen pendukung lainnya sudah berjibaku untuk memenangkan Kaji tapi membentur tembok Parpol yang berkuasa, Partai Demokrat.

“Maka kita terbentur oleh permainan, dikalahkan. Kalau hari ini partai berkuasanya sudah bertaubat, ingin menebus kesalahan masa lalu, itu namanya khusnul khatimah. Saya enggak menyebut nama partainya lho ya,” selorohnya.

• Baca: Muslimat NU Bojonegoro Satu Suara: Menangkan Khofifah!

Situasi ini lantas membuat PPP berbalik berhadapan dengan Khofifah di Pilgub Jatim 2013 dengan dalih politik PPP adalah politk NU. “Artinya, kalau tidak dapat semua, jangan ditolak semua. Sudah tahu di 2008 membentur tembok, masa akan diulangi di 2013. Karena itu kita kemudian mendukung Pakde Karwo,” jelasnya.

Namun sekarang PPP kembali mendukung Khofifah karena yang dipertaruhkan adalah masa depan politik NU. “Kalau kemarin yang memimpin itu Pakde dari golongan nasionalis di daerah Mataraman, maka sekarang saatnya Jatim sebagai provinsinya NU betul-betul dipimpin orang NU,” katanya.