Gelombang Muslimat NU Lebih Dahsyat Dibanding Massa PKS

PKS VERSUS MUSLIMAT NU: Gus Ipul (kiri) mendapat sokongan dari PKS, sementara jamaah Muslimat NU istiqomah bersama ketua umumnya, Khofifah Indar Parawansa. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN/IST
PKS VERSUS MUSLIMAT NU: Gus Ipul (kiri) mendapat sokongan dari PKS, sementara jamaah Muslimat NU istiqomah bersama ketua umumnya, Khofifah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN/IST

Militansi massa PKS menyokong kekuatan Gus Ipul. Muslimat NU istiqomah bersama Khofifah. Dukungan kubu mana yang lebih menggurita untuk memenangi Pilgub Jatim 2018? 

DUEL Saifullah Yusuf (Gus Ipul) versus Khofifah Indar Parwansa di Pilgub Jatim 2018 berlangsung sengit. Selain berebut irisan warga Nahdlatul Ulama (NU), keduanya didukung barisan massa militan: Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di kubu Gus Ipul, jamaah Muslimat NU di pihak Khofifah.

Nahdliyin (warga NU) masih menjadi rebutan utama, karena — merujuk hasil survei The Initiative Institute — calon pemilih berlatar belakang politik aliran dari NU masih tertinggi, 63,10 persen. Disusul Nasionalis Soekarno (24,60 persen), Muhammadiyah (6,80 persen), Nasionalis Soeharto (5,10 persen) dan Masyumi (0,40 persen).

Namun peta irisan massa NU sudah tergambar sangat jelas, bahkan sebelum penetapan pasangan Cawub-Cawagub. Sejumlah kiai struktural PWNU Jatim yang dimotori KH Hasan Mutawakkil ‘Alallah menyokong Saifullah, meski di level PC (tingkat kabupaten/kota) dan MWC (kecamatan) tak semuanya patuh dan lebih memilih merapat ke Khofifah.

• Baca: Di Rumah Ketua MWCNU, Kiai Gresik Dukung Paslon Nomor 1

Sebaliknya, Khofifah didukung para kiai NU kultural pengasuh Ponpes besar, di antaranya KH Muzakki Syah (Ponpes Al Qodiri Jember) dan KH Afifuddin Muhajir (Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo). Belum lagi tambahan energi dari cucu dan putri pendiri NU, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Nyai Machfudhoh binti KH Wahab Chasbullah.

Dengan demikian, massa Nahdliyin masih sangat cair, tergantung calon mana yang bisa mengkonversi menjadi dukungan suara saat coblosan, 27 Juni 2018. Maka menjadi menarik menakar pendulang suara dari militansi kader PKS dalam mendukung Gus Ipul, serta Muslimat NU dalam memenangkan ketua umumnya.

• Baca: Muslimat NU: Kita Tak Pernah Kapok Dukung Bu Khofifah

Selama ini, kedua pihak dikenal militan. Bedanya militansi kader PKS lebih ke ranah partai, sementara jamaah Muslimat NU terhimpun dalam Ormas keagamaan lewat Banom perempuan NU. “Namun secara kuantitatif, tentu lebih banyak Muslimat NU,” nilai pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surochim Abdussalam saat dihubungi wartawan, Sabtu (10/3).

Merujuk hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 di Jatim, perolehan suara PKS memang tak terlalu besar: 992.640 (5,08 persen). Angka ini masih di bawah PPP yang meraih 1.208.275 suara (6,19 persen) atau PAN dengan 1.211.194 suara (6,20 persen). Bandingkan dengan jumlah warga Muslimat NU di Jatim yang mencapai sekitar tujuh juta — data PP Muslimat NU. Belum lagi dukungan dari Fatayat NU.

KEKUATAN BESAR: Cagub Jatim, Khofifah Indar Parawansa bersama warga Muslimat NU. Kekuatan Muslimat NU diyakini lebih dahsyat ketimbang massa PKS. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
KEKUATAN BESAR: Cagub Jatim, Khofifah Indar Parawansa bersama warga Muslimat NU. Kekuatan Muslimat NU diyakini lebih dahsyat ketimbang massa PKS. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Surochim juga meyakini, ikhtiar PKB dalam ‘menggerus’ suara Muslimat NU — terutama lewat pengurus Muslimat NU yang anggota Fraksi PKB — tidak terlalu efektif karena sebatas memecah suara elit. Padahal arus bawah Muslimat maupun Fatayat NU bisa dibilang permanen ke Khofifah. “Paling banter, bisa meraih 10 persen dari swing voters-nya Fatayat dan Muslimat itu sudah bagus,” tegasnya.

Apalagi soliditas warga Muslimat NU dalam memenangkan ketua umumnya terukur dari hasil dua kali Pilgub Jatim sebelumnya (2008 dan 2013). Saat Pilgub Jatim 2008, buah bahu membahu Muslimat NU, Khofifah yang berpasangan dengan Mudjiono (Kaji) meraih 7.669.721 suara (49,80 persen) .

• Baca: Raih Dukungan, Hemm.. Gus Ipul Sebut PKS Ingin Jaga Aswaja

Lalu di Pilgub Jatim 2013 saat bersama Herman S Sumawirdja (Berkah) meraih 6.525.015 suara (37,62 persen). Dukungan suara Muslimat NU sebenarnya tetap utuh, namun ada penurunan hampir 1,2 juta lantaran lawan utamanya di Pilgub Jatim 2008, Soekarwo-Saifullah (Karsa) berubah status menjadi incumbent plus kehadiran PKB tak banyak membantu. Ini sekaligus mempertegas calon yang diusung PKB di Pilgub Jatim tak pernah menang.

Nah, faktor perjalanan berliku Khofifah itulah menurut Surochim yang akan membuat Muslimat dan Fatayat NU kali ini jauh lebih solid. “Dua kali mereka mendukung Khofifah dan mengalami kekalahan, khususunya kekalahan pertama (2008) masih tersimpan rapi di alam bawah sadar mereka soal kecurangan,” katanya.

GUS IPUL-PKS: Cagub Jatim yang kader Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf mendapat dukungan dari DPW PKS Jatim untuk melawan sesama kader NU, Khofifah. | Foto: Ist
GUS IPUL-PKS: Cagub Jatim yang kader Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf mendapat dukungan dari DPW PKS Jatim untuk melawan sesama kader NU, Khofifah. | Foto: Ist

“Itu yang membuat mereka sangat solid dalam banyak Pemilu. Mereka masih memiliki harapan untuk bisa kembali mengantarkan ibunya meraih kursi gubernur,” tambahnya.

Pun demikian dengan Fatayat NU meski Ketua PW Fatayat NU Jatim, Hikmah Bafaqih menjadi ketua tim pemenangan Saifullah-Puti. “Itu ibu dan anak, dalam konteks Pilkada Jatim sama. Ada persoalan dendam kompak anak dan ibu,” tandas Surochim. Apalagi perjalanan Hikmah menjadi ketua masa khidmat 2013-2018 tidak melalui suksesi yang mulus karena diwarnai dua Konferwil.

Meski demikian, lanjut peneliti Surabaya Survey Centre (SSC) tersebut, pertarungan di Pilgub Jatim 2018 tidak hanya ditentukan pendukung semata tapi juga performance kontestan. “Lantaran sangat kompetitif, maka seberapa pun kecil suara tetap memiliki makna bagi kedua belah pihak,” ucapnya.

• Baca: Pilih Muslimat NU, Dua Ketua Cabang Tinggalkan Gus Ipul

Lagi pula, melihat jumlah swing dan undecided voters yang bergerak lamban, masih banyak pemilih yang tetap menunggu untuk diyakinkan pilihannya. Terlebih jumlah pemilih rasional juga terus meningkat, sehingga suara pemilih undecided masih tinggi.

“Suara undecided tinggi, maka kandidat yang punya program solutif realistis akan lebih mudah meraih suara liar tersebut. Solutif yang langsung bisa menyelesaikan masalah jangka pendek di masyarakat realistis,” tuntas Surochim.