Ajaib! Proyek Embung Rampung Sebelum Anggaran Turun

RAMPUNG SEBELUM ANGGARAN TURUN: Proyek pengerukan proyek pembuatan embung di Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR
RAMPUNG SEBELUM ANGGARAN TURUN: Proyek pengerukan pembuatan embung di Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR

LAMONGAN, Barometerjatim.com – Proyek pembuatan embung atau cekungan penampung air hujan untuk kebutuhan pertanian warga di Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, diduga bermasalah. Proses pembuatannya bak sulapan: Bim salabim! Langsung jadi. Ajaib!

Hal itu karena proyek bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) tersebut sudah dikerjakan terlebih dahulu oleh Kelompok Tani (Poktan) desa setempat dengan cara swakelola, meski anggaran dana bantuan belum turun.

“Sebelum dimulainya pengerukan embung, petugas dari Bidang Sarpras Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Lamongan bersama konsultan telah melakukan survei lokasi proyek,” kata Bendahara Poktan Sarwo Rukun Desa Cangkring, Nano Sasuliono saat dikonfirmasi.

• Baca: Kejari Usut Dugaan Korupsi di Dinas Kominfo Lamongan

Nano mengaku tidak mengetahui secara persis gambar perencanaannya maupun Petunjuk Teknis (Juknis) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebagai pedoman pembangunan, serta berapa jumlah nominal anggaran dana bantuan untuk pembuatan embung di desanya tersebut.

Pria yang juga menjabat kepala dusun di Desa Cangkring itu mengaku hanya melaksanakan pekerjaan dan menyediakan lahan tanah desa, yang akan digunakan dan dibangun sebagai embung.

“Kita hanya diminta menyiapkan lahan untuk embung saja. Bagi orang desa, sudah senang sekali dapat bantuan itu tanpa harus mengeluarkan biaya,” tuturnya.

• Baca: Roda Pemdes Mati Suri, Pemkab Lamongan Dinilai Abai

Terkait urusan biaya pengerjaan proyek pembuatan embung, tambah Nano, semua dikendalikan pihak Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Tanaman Pangan, Holtikutura dan Perkebunan (TPHP) Kecamatan Bluluk, termasuk penggunaan alat berat untuk pengerukan embung.

“Mungkin setelah dana bantuan terealisasi, ketua Poktan dan bendahara dipanggil ke kantor UPT Kecamatan Bluluk untuk totalan, termasuk permintaan biaya-biaya lainnya, seperti kalau ada tamu yang datang ke sana,” terangnya.

Nano mengatakan, proses pengerjaan pengerukan embung dimulai sejak Juli lalu di lokasi lahan tanah desa, yang berada di depan kantor Desa Cangkring dan kini pengerjaan juga sudah rampung.

Bantuan Rp 120 Juta

Dari informasi yang dihimpun, tanah hasil pengerukan embung oleh Poktan dijual dengan harga 150 ribu per ritase dump truck. Sedangkan hasil penjualan digunakan untuk menutup biaya sewa alat berat (back hoe) selama seminggu dan beberapa tenaga kerja.

Padahal, proyek swakelola pembuatan embung tersebut merupakan bantuan dari Kementan, yang anggarannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp 120 juta.

• Baca: Warga di Lamongan Blokade Jalan Gunakan Keranda Mayat

Sementara Kepala UPT Dinas TPHP Kecamatan Bluluk, Suprapto membenarkan perihal pengerjaan proyek pembuatan embung di Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk untuk kebutuhan pertanian sebelum dana bantuan turun terlebih dahulu.

“Memang bantuan belum turun, tapi saya minta mengerjakan dulu. Untuk tanah kerukan sebagian dijual untuk menutup biaya tenaga kerja dan sewa alat berat. Selebihnya untuk menguruk pasar desa dan jalan desa,” terangnya.