Abaikan Protes! Pakde Karwo Tetap Ubah Nama Dua Jalan

Soekarwo letakkan batu pertama pembangunan momumen Mas TRIP. | Foto: Barometerjatim.com/abdillah hr

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sempat diprotes sejumlah pihak, perubahan sebagian nama Jalan Gunungsari dan Jalan Dinoyo tetap dilangsungkan. Peresmian dilakukan Gubernur Jatim, Soekarwo di depan Bukit Yani Golf Surabaya, Minggu (3/2/2019).

Perubahan sebagian nama jalan tersebut, diresmikan bersamaan dengan peletakan batu pertama rencana pembangunan momumen perjuangan Mas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) sebagai wujud proses dari Harmoni Budaya Jawa-Sunda.

Terkait perubahan nama jalan ini, Pakde Karwo — sapaan akrab Soekarwo —  menceritakan latar belakangnya. Bagaimana dirinya dan Ahmad Heryawan (gubernur Jawa Barat sebelum Ridwan Kamil) meresahkan konflik budaya Jawa dan Sunda yang telah terjadi 601 tahun lamanya.

Nah, pada 6 Maret 2018, keduanya lantas me-launching rencana pengubahan nama jalan ini sebagai upaya rekonsiliasi budaya di Gedung Negara Grahadi. Sejak itu, protes dari sejumlah kelompok masyarakat bermunculan.

Bahkan, protes masih terjadi pada saat peresmian. Kelompok masyarakat yang menamakan diri KBRS (Keluarga Besar Rakyat Surabaya) Perjuangan berunjuk rasa di trotoar Jalan Ahmad Yani, di seberang gedung Perkumpulan Golf Ahmad Yani, menolak peresmian.

Namun Pakde Karwo bergeming. Menanggapi biasa saja penolakan tersebut karena bagian dari iklim demokrasi. “Kalau itu (unjuk rasa) kan biasa dalam proses demokrasi,” katanya.

Soal mengapa baru sekarang diresmikan, menurut Pakde Karwo, karena harus menunggu keputusan Panitia Khusus (Pansus) DPRD Surabaya. “Kami juga musyawarah dengan teman-teman TRIP,” ujarnya.

Lewat peresmian ini, Jalan Gunungsari berubah nama menjadi Jalan Prabu Siliwangi sepanjang 500 meter, dimulai dari traffic light pertigaan Bumi Marinir hingga pintu tol. Perubahan itu sesuai dengan kesepakatan Paguyuban Mas TRIP Jatim dan Pemprov Jatim.

Sedangkan untuk Jalan Dinoyo berubah nama menjadi Jalan Sunda sepanjang 300 meter, ditandai dengan adanya kesepakatan dengan jumlah warga sebanyak 44 kepala keluarga (KK).

Perubahan dua jalan di Surabaya ini juga diikuti perubahan jalan di Bandung. Pemkot Bandung juga sepakat mengubah dua nama jalan di wilayahnya. Jalan Gazebo menjadi Jalan Majapahit dan Jalan Kopo Pendek menjadi Jalan Hayam Wuruk.

Disetujui Warga Terdampak

Sementara itu perwakilan tokoh masyarakat, Suryuhadi menuturkan, saat ditunjuk menjadi ketua Lembaga Perberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), dirinya telah berkoordinasi dengan pihak RT/RW dari seluruh Kelurahan Keputran untuk merapatkan barisan.

Dari koordinasi diperoleh kesepakatan bersama, bahwa Jalan Dinoyo sebagian dapat diganti dengan Jalan Sunda. Semua warga, menurut Suryuhadi, saat itu menyetujui lewat aklamasi serta tanda tangan kesediaan.

Pergantian nama jalan ini, tambah Suryuhadi, ditandatangani seluruh warga yang terdampak dan RT/RW di Kelurahan Keputran. Dokumen publik dari warga bersama saat ini sudah komplet dan telah diserahkan ketua RW V kepada DPRD Surabaya serta Wali Kota Tri Rismaharini.

“Jadi bisa digarisbawahi, bahwa semua warga Dinoyo menyetujui perubahan menjadi Jalan Sunda,” tegasnya.•

» Baca Berita Terkait Pemprov Jatim, Pemkot Surabaya