Usmar Ismail, Bapak Film Nasional Warnai Google Doodle

BAPAK FILM NASIONAL: Umar Ismail, sosok paling berpengaruh di industri perfilman Indonesia. Hari ini dikenang di Google Doodle. | Foto: ESQ-News
BAPAK FILM NASIONAL: Umar Ismail, sosok paling berpengaruh di industri perfilman Indonesia. Hari ini dikenang di Google Doodle. | Foto: ESQ-News

UMAR ISMAIL. Bisa dibilang, dialah sosok paling berpengaruh di industri perfilman Indonesia. Sepanjang kariernya, Bapak Film Nasional — sapaan bekennya — menggarap lebih dari 30 film di Tanah Air.

Nah, Selasa (20/3) hari ini, setelah beberapa hari dalam sebulan ini Google menampilkan doodle dari luar negeri, kali ini doodle diciptakan khusus untuk Indonesia. Google Doodle merayakan ulang tahun ke-97 Usmar Ismail dalam ilustrasi vintage pria berkacamata dengan sebuah kamera perekam.

Sekilas, nama Usmar Ismail mungkin terdengar akrab di telinga, terlebih bagi yang tinggal di Jakarta. Namanya menjadi salah satu gedung (Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail) di kawasan Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

• Baca: Hari Perempuan Internasional dalam 12 Kisah Google Doodle

Selama hidup, Umar adalah tokoh perfilman Indonesia sekaligus sutradara terkemuka di era 1950 dan 1960-an. Studio filmnya miliknya, Perfini, menghasilkan beberapa karya film klasik Indonesia yang dikenang masyarakat film negeri ini.

Di antaranya saja film Tiga Dara (1956), Pedjuang (1960) dan Enam Djam di Djogdja (1951). Salah satu paling fenomenal yakni “Darah dan Doa” (The Long March of Siliwangi, 1950). Adaptasi dari cerita pendek karya Sitor Situmorang.

Kisahnya menceritakan seorang guru yang terseret revolusi fisik kala periode perpindahan TNI dari Yogayakarta ke Jawa Barat pada 1948. Sejumlah pengamat dan praktisi perfilman menyebut, film ini menjadi tonggak hidupnya industri film Indonesia.

DARAH DAN DOA: Film "Darah dan Doa" (The Long March of Siliwangi, 1950), karya fenomenal Umar Ismail. | Foto: Ist
DARAH DAN DOA: Film “Darah dan Doa” (The Long March of Siliwangi, 1950), karya fenomenal Umar Ismail. | Foto: Ist

Berkat film itu pula, Presiden ke-2 RI, BJ Habibie dengan Dewan Film Nasional menetapkan Hari Film Nasional berdasarkan hari pertama syuting “Darah dan Doa”.

Usmar lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Maret 1921. Meraih gelar BA (Bachelor of Arts) di bidang sinematografi dari Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat, pada 1952 sebelum wafat pada umur 49 di Jakarta, tepatnya 2 Januari 1971.

• Baca: Kota Fiksi Gabriel Garcia Marquez Hiasi Google Doodle

Usmar sangat aktif sebagai pengurus lembaga yang berkaitan dengan teater dan film. Dia tercatat sebagai wartawan. Termasuk pendiri dan redaktur media “Patriot”, “Majalah Arena” Yogyakarta (1948), “Gelanggang”, Jakarta (1966-1967) serta ketua Persatuan Wartawan Indonesia (1946-1947).