Usai Surabaya, Sidoarjo Protes Data Covid-19 Pemprov Jatim

PROTES: Nur Ahmad Syaifuddin, mengelukan data kesembuhan Corona di Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PROTES: Nur Ahmad Syaifuddin, mengelukan data kesembuhan Corona di Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Lagi-lagi gaduh soal data Covid-19. Jika Pemkot Surabaya menuding data Pemprov Jatim tak valid untuk dasar melakukan tracing, kali ini Pemkab dan Forkopimda Sidoarjo mengeluhkan soal angka kesembuhan pasien.

Plt Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin protes, lantaran ratusan pasien sembuh di kabupaten yang dipimpinnya tidak tercatat di data yang dikeluarkan Pemprov Jatim.

“Selisihnya banyak, yang sembuh itu kan 200 lebih,” kata pejabat yang akrab disapa Cak Nur tersebut saat mengikuti rapat koordinasi (Rakor) Analisa dan Evaluasi Penanganan Covid-19 di Wilayah Sidoarjo dan Gresik di Mapolda Jatim, Senin (6/7/2020) malam.

Rakor dipimpin Kapolda Jatim, Irjen Pol Mohammad Fadil Imran bersama Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Widodo Iryansyah dan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Hadir pula Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto.

Cak Nur merasa data kesembuhan pasien Covid-19 itu penting, karena bisa menjadi ukuran dari kerja keras sekaligus penghargaan Forkopimda maupun elemen masyarakat Sidoarjo dalam menanggulangi Corona.

“Data itu kita ambil dari Babinsa, Babinkamtibmas sama kepala desa. Jadi ngecek di desa-desa itu, dan kenyataanya memang sudah sembuh tapi tidak masuk di situ,” ujar Cak Nur yang juga wakil ketua DPC PKB Sidoarjo.

“Salah satunya tadi Pak Kapolsek yang bicara itu confirm dan sekarang sembuh, setelah kita cek lho ini masih merah. Belum masuk di data sebagai yang didata sudah sembuh,” sambungnya.

Cak Nur berharap, problem data ini segera teratasi agar kerja keras di daerah dalam menanggulangi Covid-19 memang ada hasil,” tandasnya.

Hal sama disampaikan Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol Sumardji. Bahkan dia menyebut sudah berkali-kali komplain ke Dinkes Sidoarjo karena merasa sudah kerja keras tapi hasilnya tak tercatat.

“Lho Pak itu yang input, yang publish bukan saya, itu provinsi, jawabannya ya begitu terus, lho kan bingung saya.”

“Saya sempat, mohon maaf, agak ngeyel, karena saya pikir kita ini sudah melupakan capek masa enggak ada hasilnya, kan enggak masuk akal,” katanya sembari minta izin ke Kapolda untuk bicara apa adanya dan diizinkan.

Pun saat pertemuan Forkopimda, Kapolres sempat menanyakan ke Kepala Dinkes Sidoarjo, dr Syaf Satriawarman. Menurutnya aneh kalau setiap hari positif naik drastis, tapi angka kesembuhan cuma menurun sedikit. Padahal banyak pasien yang sembuh, termasuk yang dirawat di RS Lapangan Indrapura Surabaya.

“Saya tanya mana (hasil) laporannya? (Jawab Kadinkes) Lho Pak itu yang input, yang publish bukan saya, itu provinsi, jawabannya ya begitu terus, lho kan bingung saya. Jadi jawabannya selalu provinsi,” ungkapnya.

Input Data dari Kabupaten

IKUT KOMPLAIN: Kombes Pol Sumardji, ikut komplian soal data kesembuhan Covid-19 di Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
KOMPLAIN: Kombes Pol Sumardji, ikut komplian data kesembuhan Corona di Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Mendapat komplain dari Forkopimda Sidoarjo, Khofifah menuturkan semua data yang di-publish Pemprov Jatim berdasarkan data yang di-input pihak kabupaten maupun kota.

“Begini, yang pegang username dan password itu adalah Dinkes kabupaten/kota. Saya rasa beliau yang nanti diajak koordinasi,” katanya.

Khofifah lantas menjelaskan, data yang ter-publish sifatnya all report masuk dari hospital online pusat. Lalu secara gelondongan dimasukkan ke provinsi, pihak provinsi kemudian men-deliver ke seluruh kabupaten/kota.

Dia mencontohkan hari itu ada lima terkonfirmasi sembuh untuk Sidoarjo dari data pusat. Padahal, mungkin sebenarnya yang sembuh ada 15 atau 20 setelah closing data.

“Ketika sore, data ini (lima pasien sembuh baru) kita deliver ke pemegang username dan password kabupaten/kota mohon langsung dirapikan,” katanya.

Sebab, bisa jadi di Jakarta closing kompilasi data pukul 12.00 WIB, tapi setelah jam itu ternyata ada kesembuhan baru di kabupaten maupun kota.

“Maka pemegang username dan password di kabupaten/kota jam berapa pun boleh meng-input dengan revisi yang baru,” katanya.

“Jadi mohon nanti Pak Kapolres, terutama Pak Plt bupati, Pak Dandim, panjenengan cek siapa sebenarnya pemegang username dan password karena hanya beliau yang tahu,” sambungnya.

Khofifah kemudian meminta Cak Nur menghubungi Divisi P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinkes Sidoarjo, karena divisi ini yang pegang username dan password.

Usai Rakor, saat ditanya terkait penjelaskan Khofifah, Cak Nur menegaskan akan membicarakan lagi di internal Pemkab Sidoarjo. “Ya nanti akan kita kroscek ya,” katanya.

Apakah hal itu menunjukkan ketidaksinkronan data yang dikeluarkan Pemprov dan Pemkab?

“Ndak, intinya kita lihat dulu di kabupaten, karena yang memasukkan input itu petugas di kabupaten, kenapa yang begitu banyak (sembuh) itu belum masuk,” ujarnya.

Sementara Ketua Gugus Kuratif Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov Jatim, dr Joni Wahyuhadi menambahkan, data sangatlah penting sebagai bahan analisa dan evaluasi penanganan Covid-19.

“Jadi mungkin bisa ketemu jawabannya, bahwa laporan input data itu luar biasa pentingnya untuk evaluasi,” tandas dokter yang juga Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya itu.

TANGANI CORONA: Rakor analisa dan evaluasi penanganan Covid-19 Sidoarjo-Gresik di Mapolda Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
KOORDINASI: Rakor analisa dan evaluasi tangani Corona Sidoarjo-Gresik di Mapolda Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca Berita Terkait Wabah Corona