Urusan NU, Anwar Sadad dan Kiai Asep Jadi Satu Lagi!

JADI SATU LAGI: Anwar Sadad dan Kiai Asep Saifuddin Chalim digandeng Habib Shodiq. | Foto: Barometerjatim.com/Roy HS
JADI SATU LAGI: Anwar Sadad dan Kiai Asep Saifuddin Chalim digandeng Habib Shodiq. | Foto: Barometerjatim.com/Roy HS

PROBOLINGGO, Barometerjatim.com – KH Asep Saifuddin Chalim dan Anwar Sadad. Dua tokoh ini kerap muncul di media massa sebagai dua pihak yang berseberangan dalam urusan kontestasi demokrasi.

Di Pilgub Jatim 2018, Kiai Asep yang pengasuh Ponpes Amantul Ummah Mojokerto, berada di kubu Khofifah-Emil Dardak. Sedangkan Sadad yang sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim di pihak Gus Ipul-Puti Guntur.

Perseteruan politik keduanya berlanjut di Pilpres 2019. Sadad didapuk sebagai Ketua Harian Badan Pemenangan Provinsi (BPP) Prabowo-Sandiaga wilayah Jatim, Kiai Asep ketuai Dewan Penasihat Jaringan Kiai Santri Nusantara (JKSN) untuk pemenangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin.

Nah, sekian waktu usai berseteru di kedua panggung politik tersebut, Sadad dan Kiai Asep bertemu lewat haul ke-35 Habib Husein bin Hadi Al Hamid di Ponpes Ahlusunnah wal Jamaah, Desa Brani Kulon, Maron, Kabupaten Probolinggo, Minggu (13/10/2019) sore.

Tak hanya menghadiri haul, keduanya juga terlihat memasang batu pondasi, tanda dimulainya pembangunan salah satu unit sekolah di lingkungan Ponpes Ahlussunnah wal Jama’ah asuhan Habib Muhammad Shodiq bin Husein Al Hamid, putra Habib Husein.

Habib Shodiq bahkan terlihat menggandeng tangan Sadad dan Kiai Asep, seolah ingin menunjukkan pada publik kalau perseteruan politik keduanya di panggung Pilgub Jatim 2018 dan Pilpres 2019 sudah berakhir.

Adakah obrolan khusus? “Enggak ada. Kalau sudah urusan NU (Nahdlatul Ulama) jadi satu lagi, itu saja intinya,” kata Sadad saat ditanya Barometerjatim.com terkait pertemuannya dengan Kiai Asep, Senin (14/10/2019).

Sadad menjelaskan, dirinya dan Kiai Asep sama-sama diundang pihak tuan rumah. “Dua orang cucu Habib Husein sudah berteman dengan saya sejak masih kuliah, dan sama-sama aktif di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia),” katanya.

Soal perbedaan pilihan politik di kalangan Nahdliyin (warga NU), tandas Sadad, biasa saja. Sebab, politik wilayah ijtihadi sehingga ruang perbedaan menjadi terbuka. Artinya urusan Pilkada bisa beda lagi? “Ya, bisa beda lagi nanti,” sergahnya sambil tersenyum. “Tapi kalau urusan NU jadi satu.”

Terpenting, jelas Sadad, tetap memelihara tradisi Nahdliyin, bahwa kekuasaan harus diorientasikan untuk kemaslahatan umum sebagai implementasi dari tasharruf imam ‘ala ar-ra’iyyah manutun bi al-maslaḥah.

“Dalam hal memelihara tradisi, seperti haul, dimana dalam rangkaian acara selalu dibacakan maulid nabi dan tahlil, pasti kami satu pandangan,” sambung Sadad yang masih keluarga Ponpes Sidogiri, Pasuruan.

Demikian pula dalam hal komitmen memajukan pendidikan pesantren, pasti berada dalam barisan yang sama untuk memberikan support dan dukungan. Terlebih Sadad dan Kiai Asep sama-sama pernah menjadi pengurus NU dan akar pesantren.

» Baca Berita Terkait Nahdlatul Ulama