Tim Kelana-Astutik: Harusnya PKB Nurut NU, Jangan Dibalik!

BEDA NU DAN PKB: Haji Masnuh, harusnya PKB yang nurut NU bukan NU nurut PKB. Jangan dibalik. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
BEDA NU DAN PKB: Haji Masnuh, harusnya PKB yang nurut NU bukan NU nurut PKB. Jangan dibalik. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Pernyataan mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sidoarjo, M Zainal Abidin menggelinding bak bola panas di kalangan Nahdliyin — warga Nahdlatul Ulama (NU).

Zainal yang kini berada di kubu Cabup-Cawabup Ahmad Muhdlor-Subandi menyebut: Orang NU kalau tidak mendukung calon dari PKB, maka orang NU tersebut adalah pengkhianat.

Bagi Ketua Tim Pemenangan Cabup-Cawabup Kelana Aprilianto-Dwi Astutik, Haji Masnuh, pernyataan Zainal tersebut salah besar dan bisa memantik situasi tak kondusif baik di kalangan NU maupun Pilbup Sidoarjo 2020.

“Kalau warga NU yang dikatakan khianat ini misal sampai emosional, malah bisa menjadi suatu dilema bagi dirinya yang mengatakan seperti itu,” tegas Masnuh, Senin (26/10/2020).

“Karena seharusnya PKB yang harus nurut NU, bukan NU nurut PKB. Jangan dibalik! Ya sesuai dengan pengajiannya Kiai Hasyim Muzadi (mantan ketua umum PBNU) kan seperti itu,” tambahnya.

Jadi sekali lagi, tandas Masnuh, jangan dibolak-balik. “Apalagi sampai mengatakan pengkhianat, wah ini terlalu dalam kata-kata khianat itu ya,” ujar mantan bendahara umum PBNU tersebut.

Artinya pernyataan tim Muhdlor-Subandi ini sangat serius? “Iya, itu melukai Nahdliyin. Apalagi dalam NU tak ada istilah khianat. Orang yang dianggap salah saja tabayyun dulu, kalau sudah minta maaf ya sudah,” tegasnya.

Soal beda pilihan dalam Pilkada, menurut orang dekat Gus Dur itu, bagi warga NU hal yang biasa saja. Apalagi NU tidak ke mana-mana tapi kadernya berada di mana-mana. Maka, wajar jika beda pilihan termasuk dalam Pilbup Sidoarjo 2020.

Meski demikian, kata Masnuh, tidak perlu sampai mengatakan pengkhianat atau hal-hal yang bernada negatif lainnya kepada sesama warga NU. Apalagi Zainal adalah mantan Ketua KPU Sidoarjo.

“Dia ngomong kayak begitu, kan dia mantan ketua KPU Sidoarjo yang semestinya sudah hapal dengan aturan-aturan yang harus diterapkan,” ujarnya.

“Mudah-mudahan saja tidak ada gejala apa-apa, dari pihak orang-orang NU yang dikatakan khianat itu. Saya berharap jangan ada apa-apalah,” ucap Masnuh.

Zainal sendiri telah dilaporkan kader Muslimat NU Kecamatan Krian, Tri Pujiati alias Fitri ke Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) setempat, Kamis (23/10/2020) karena dinilai mencederai dan menyakiti hati warga NU.

Artinya, jelas Masnuh, jika Muslimat NU di level kecamatan sampai mengadukan ke Panwas adalah salah satu bukti bahwa pernyataan itu serius dan memang melukai.

“Dikhianatkan gitu, sampai dia (kader Muslimat NU) menuntut kan akhirnya? Lha ini adalah kepedulian mereka dan sudah jelas bisa kita nilai. Jadi mereka serius dan yakin untuk menentukan pilihannya,” terang Masnuh.

Apakah Zainal perlu meminta maaf? “Ya seharusnya seperti itu, minta maaf. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Saya juga mengharap kepada warga NU ya sudahlah, tidak perlu diperdebatkan lagi,” katanya.

NU Bukan Partai Politik

BUKAN PENGKHIANAT: Ahmad Khoiri, orang NU tak dukung calon dari NU bukanlah bentuk pengkhianatan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
BUKAN PENGKHIANAT: Ahmad Khoiri, orang NU tak dukung calon dari NU bukanlah bentuk pengkhianatan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Hal senada disampaikan Pengarah Tim Bintang Sembilan Berkelas, H Ahmad Khoiri. Menurutnya orang NU yang tidak mendukung calon dari NU bukanlah bentuk pengkhianatan.

“Ya enggak lah, kalau seperti itu kan maka banyak yang dikategorikan pengkhianat-pengkhianat,” ujar kiai asal Tulangan tersebut.

Menurutnya, NU berbeda dengan partai. Apalagi, di daerah lain banyak kader NU berangkat dari beda partai. Jadi, Kiai Khoiri menganggap bahwa hal tersebut selayaknya tidak menjadi persoalan.

“Jadi NU sama partai itu beda. Kemudian, di daerah lain banyak kader NU yang berangkat dari mana-mana itu. Enggak ada masalah,” katanya.

Kalau mau contoh konkret, menurut Khoiri banyak. Ada calon bupati dari Gresik, kader PKB yang malah lari dari PKB dan mencalonkan diri melalui PDIP.

“Nah kita sebagai NU itu ada di mana-mana. Enggak ada masalah, yang penting kita lewat dari manapun siapa yang jadi tetap kader NU,” jelasnya.

» Baca Berita Terkait Pilbup Sidoarjo