Teror Bom Usung Anak, Khofifah Pesan Jangan Keliru Pilih Guru

BLUSUKAN DI PASAR: Hari pertama puasa Ramadhan, Cagub Khofifah blusukan di Pasar Pahing, Rungkut, Surabaya, Kamis (17/5). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
BLUSUKAN DI PASAR: Hari pertama puasa Ramadhan, Cagub Khofifah blusukan di Pasar Pahing, Rungkut, Surabaya, Kamis (17/5). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Cagub Jatim nomor urut satu, Khofifah Indar Parawansa berpesan kepada para orang tua agar tidak keliru dalam memilih guru. Sebab, dalam teror bom di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya, ternyata pelakunya dua keluarga berbeda yang sama-sama melibatkan anak mereka.

“Jangan salah memilih guru, sebab doktrin sampai membawa anak dalam melakukan aksi teror tentu pada dua keluarga itu sangatlah kuat,” katanya usai blusukan di Pasar Pahing, Rungkut, Surabaya, Kamis (17/5).

“Mereka pahamnya, jika mati syahid bersama keluarga maka mereka akan ketemu bareng di surga,” tandas mantan Menteri Sosial tersebut, sembari menyebut penting memilih guru yang tepat sejak anak di jenjang pendidikan usia dini.

• Baca: Larut Malam, Khofifah Takziah ke Rumah Korban Teror Bom

“Dari aksi teror yang terjadi di Surabaya, kita tahu bahwa teror itu ada. Bahaya teror itu faktual, maka tokoh pendidik mulai PAUD harus diajak untuk sama-sama mengajarkan bahwa kita hidup di dunia harus memberikan manfaat pada orang lain,” paparnya.

Semalam, di tengah kesibukannya menyapa masyarakat Jatim, Khofifah menyempatkan diri berkunjung ke persemayaman jenazah Evan dan Nathan, korban ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Surabaya.

Sehari sebelumnya, dia juga takziah ke rumah duka almarhum Nuchin di Tropodo, Waru, Sidoarjo yang menjadi korban ledakan bom di Jalan Arjuno. “Efek yang ditimbulkan atas tindakan teror ini besar,” katanya.

• Baca: Kutuk Teror Bom di Surabaya, Khofifah Minta Warga Tak Takut

“Anak-anak yang tidak berdosa harus kehilangan nyawa, anak yang seharusnya masih bisa berkumpul dengan ayahnya mendadak menjadi anak yatim. Ada sisi kemanusiaan yang akhirnya terengut akibat tindakan teror.”

Meski demikian, tandas Khofifah, pendidikan deradikalisme bukan hanya tugas guru agama tapi juga guru mata mata pelajaran yang lain. “Sehingga paham radikalisme harus dilawan dari segala lini, terutama di jenjang pendidikan anak sejak dini,” tuntasnya.