Teror Bom! Tim Khofifah-Emil Puji Gerak Cepat Jokowi

GERAK CEPAT PRESIDEN: Presiden Jokowi gerak cepat meninjau lokasi pengeboman di Surabaya. Negara hadir dalam peristiwa yang dikutuk banyak pihak tersebut. | Foto: Ist
GERAK CEPAT PRESIDEN: Presiden Jokowi gerak cepat meninjau lokasi pengeboman di Surabaya. Negara hadir dalam peristiwa yang dikutuk banyak pihak tersebut. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Gerak cepat dan perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap peristiwa pengeboman di tiga gereja di Surabaya mendapat respek dari kalangan masyarakat Jatim, tak terkecuali Juru bicara Khofifah-Emil Dardak, KH Zahrul Azhar As’ad.

“Kami memberikan respek kepada Pak Jokowi. Walaupun telah hadir di Jatim, kami juga turut menemani waktu di Pasuruan, tapi karena menunjukkan rasa simpati dan empatinya beliau datang lagi ke Jatim. Bahkan sebelum evakuasi berjalan maksimal,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Senin (14/5).

Gerak cepat seperti itu, kata kiai muda yang arab disapa Gus Hans tersebut, memang sangat diharapkan masyarakat yang membutuhkan kehadiran negara dalam situasi terguncang akibat teror bom.

• Baca: Jubir Khofifah-Emil: Teror Bom Tak Usik Suasana Damai Pilgub

“Kita berharap, mudah-mudahan Pak Jokowi membuat langkah-langkah positif dan strategis. Mungkin dengan merevitalisasi struktur yang ada, dalam hal yang bertanggung jawab berkaitan dengan keamanan,” katanya.

“Bisa juga segera mengesahkan UU Anti Terorisme, sehingga bisa segera diberlakukan dengan baik,” tambah pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang itu.

Di sisi lain, Gus Hans menilai, para pelaku pengeboman adalah orang-orang yang mendapatkan asupan keagamaan secara instan.

• Baca: Jaringan Pelaku Bom Surabaya dalam Analisa Adik Amrozi

“Ketika asupan agama tak terserap sempurna karena diperoleh dengan cara instan, maka yang lahir adalah produk gagal yang justru menjadi beban agama,” katanya.

Selain itu, peristiwa ini juga memunculkan fenomena baru, bahwa pelakunya bukan masyaraat rural (perdesaan) tapi urban (perkotaan). “Ini harus kita antisipasi dari sekarang, apakah pola pendidikan dan proses dakwah kita masih belum bisa mengena,” katanya.

Koreksi Metode Dakwah

Bagi Gus Hans, situasi ini sekaligus menjadi koreksi bagi para kiai, pemuka agama, agar lebih konsentrasi dalam membangun jiwa kebangsaan masyarakat. Terlebih masyarakat haus untuk mendapatkan kiai-kiai yang memiliki jiwa kenegarawanan.

Saat ditanya, apakah pemahaman agama instan terjadi karena para kiai lebih sibuk berurusan dengan politik praktis, Gus Hans menegaskan agar peristiwa ini menjadi muhasabah bersama, tanpa harus saling menyalahkan.

“Menjadi semacam koreksi, berarti kan ada masalah dalam metode dakwah yang diberikan kepada masyarakat. Pasti ada hulu dan hilir, ada sebab dan akibatnya dari pristiwa ini,” katanya.

• Baca: Pasca Teror Bom, Emil Apresiasi Kinerja Aparat di Lapangan

Bisa jadi, tambahnya, sistem dan cara dakwah kita tidak bisa diterima kalangan tertentu. “Jadi ini bukan tanggung jawab negara samata, tapi juga elemen masyarakat yang harus bersama-sama melawan terorisme,” ucapnya.

Karena itu, dia mengajak untuk menjauhi orang-orang yang tidak tegas terhadap terorisme. “Mau tokoh agama, tokoh partai, siapapun yang tidak tegas terhadap terorisme,” tuntasnya.