Tepis Gerindra! Gus Hans: JKSN Tak Dukung Ulama ‘Jadi-jadian’

DUKUNG 100 PERSEN KIAI: Gus Hans (kiri) dan Anwar Sadad, JKS dukung KH Ma'ruf Amin karena 100 persen kiai, bukan kiai jadi-jadian. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
DUKUNG 100 PERSEN ULAMA: Gus Hans (kiri) dan Anwar Sadad, JKS dukung KH Ma’ruf Amin karena 100 persen ulama, bukan ulama ‘jadi-jadian’. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN), KH Zahrul Azhar As’ad menegaskan KH Ma’ruf Amin yang didukung jaringannya di Pilpres 2019 bukanlah ulama ‘jadi-jadian’ atau mendadak ulama, tapi memang ulama atau kiai yang benar-benar alim.

Terlebih, mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut digandeng Joko Widodo (Jokowi) yang terbukti menunjukkan kinerjanya untuk rakyat hampir satu periode memimpin negeri ini.

“Sekarang ini kita menjaga marwahnya kiai. Kita memiliki kewajiban moral yang lebih, kecuali kalau calonnya orang biasa-biasa saja,” kata kiai muda yang akrab disapa Gus Hans tersebut saat dihubungi Barometerjatim.com, Selasa (2/10).

• Baca: Gerindra Sindir JKSN: Kiai Berpolitik Praktis Ditinggal Umat

Pernyataan Gus Hans sekaligus menepis kritik Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad yang menyatakan tak akan ikut-ikutan Dewan Penasihat JKSN, KH Asep Saifuddin Chalim yang mengklaim kiai-kiai NU kultural di barisan Jokowi-Kiai Ma’ruf.

Klaim itu, menurut Sadad, justru akan menjauhkan kiai dengan umat. “Saya ndak mau ikut-ikutan Pak Asep. Saya tidak mau latah seperti ngikutin Pak Asep untuk mengklaim (dukungan) kiai ke Prabowo,” katanya, Jumat (28/9) lalu.

Bagi Sadad, para kiai tidak bisa digeneralisasikan pada satu calon tertentu. Meski para kiai berpolitik, tapi politik nilai, politik kebangsaan, bukan politik praktis.

• Baca: Kiai Penasihat JKSN: Jokowi Shalatnya Baik

“Ketika ada yang mengklaim pada kandidat tertentu, 1.000 persen saya tidak yakin akan diikuti umat,” kata politikus yang juga Ketua Dewan Pakar IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) tersebut.

Gus Hans menambahkan, lantaran Kiai Ma’ruf 100 persen kiai serta Jokowi terbukti menunjukkan kinerjanya untuk rakyat, mau tidak mau para kiai dan santri serta jaringannya di JKSN harus memiliki ghirah (semangat) yang sama untuk memenangkan pasangan nomor urut satu tersebut.

• Baca: Dukung Jokowi, TKD-JKSN Beda Target Kemenangan di Jatim

“Kalau calon kami misalnya ustadz, kiai atau ulama ‘jadi-jadian’, atau pengusaha yang mendadak ustadz, kita tidak perlu ngoyo (bekerja keras) seperti ini. Tapi kita menjaga marwah kiai yang 100 persen memang kiai,” paparnya, seolah menyindir Cawapres Sandiaga Uno yang ‘mendadak disebut ulama’.

“Bisa jadi kiai tak sengotot ini, andaikan saja Pak Jokowi tidak menggandeng kiai sealim Kiai Ma’ruf,” tambah pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Queen Al Azhar Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang tersebut.

Jaga Marwah NU

Sementara soal tudingan kiai yang berpolitik praktis bakal ditinggalkan umat, Gus Hans kembali menegaskan para kiai di JKSN malah tidak ada yang terikat dengan partai politik (Parpol) manapun.

“Kiai-kiai kita itu justru tidak pada posisi di Parpol, tetapi karena memiliki kesamaan visi dan rasa sesama Nahdliyin, maka mau tidak mau harus cancut taliwondo (bekerja sama dengan segenap kemampuan yang dimiliki),” ucapnya.

Gus Hans juga mengingatkan Sadad, mengapa statement-nya tersebut baru terlontar sekarang. “Kenapa enggak saat Pilgub Jatim kemarin?” katanya, seakan merujuk kiai NU struktural yang berpolitik praktis mendukung Gus Ipul-Puti Guntur.

• Baca: Pengamat: Pencawapresan Kiai Ma’ruf Hanya Untungkan PKB

Satu hal lagi yang harus dipahami, tegas Gus Hans, “JKSN itu bukan kiai dan santri saja, tapi jaringannya kiai dan santri. Bisa pengusaha, bisa apa saja.”

Lagi pula, tambahnya, JKSN mendukung Kiai Ma’ruf setelah memastikan akan mundur dari pengurus NU. “Begitu mundur dari rais aam, kita gerak. Ini menunjukkan kita sedang mendukung personal kiai dan tetap menjaga marwah NU,” jelasnya.•