Tarif Bawah, Gubernur Beda dengan Kemenhub

HALAL BI HALAL: Usai rapat paripurna, Gubernur Soekarwo dan pimpinan serta anggota DPRD Jatim menggelar halal bi halal, Rabu (5/7). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Gubernur Jatim, Soekarwo meminta kepada Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) agar tarif bawah taksi konvensional di Jatim tetap di angka Rp 4.484. Sebaliknya, Kemenhub menginginkan tarif bawah lebih besar dari angka tersebut.

“Kami telah mengirimkan surat kepada Kemenhub. Jika tarifnya ditambah nanti taksi konvensional bisa tutup dan membuat problem akan bertambah kompleks,” katanya gubernur  usai menghadiri sidang paripurna DPRD Jatim di Jl Indrapura Surabaya, Rabu (5/7).

Sementara untuk penetapan tarif atas dan bawah taksi online, Pakde Karwo — sapaan akrab Soekarwo — mendukung penuh. Penetapan tersebut dinilainya sudah melibatkan seluruh pihak, baik pemerintah, pakar transportasi dan pimpinan perusahaan taksi online.

• Baca: Pakde Karwo Buka Ruang Dialog untuk Kelompok Radikal

“Kami mendukung penetapan tarif atas dan bawah itu, karena proses pengambilan keputusannya sudah partisipatoris,” tandasnya.

Pemberlakuan tarif ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26/2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Untuk tarif bawah taksi online di Jawa yakni Rp 3.500/Km dan tarif atas Rp 6.000/Km.

Mudik Lebih Lancar

Sementara ditanya terkait mudik lebaran tahun ini, Pakde Karwo menjelaskan tahun ini relatif lebih lancar dibanding tahun lalu. Terlebih beberapa ruas jalan tol baru seperti jalur fungsional Surabaya-Mojokerto hingga Kertosono sudah beroperasi, sehingga pemudik bisa memiliki berbagai alternatif.

Jalur fungsional tersebut, lanjut Pakde Karwo, akan terus dibenahi agar menjadi jalur operasional. Karena itu dia optimistis tahun depan mudik lebaran akan lebih lancar. “Mudik tahun ini sukses, kami optimis tahun depan akan lebih sukses karena jalur-jalur fungsional akan lebih operasional” ujarnya.

• Baca: PT PWU Menuju Level BUMN Tanpa Kucuran Dana dari Pemprov

Infrastuktur jalan fungsional di antaranya Surabaya-Krian, Krian-Mojokerto, Mojokerto-Jombang, kemudian Jombang sampai Mengkreng sudah operasional, tapi Mengkreng-Kertosono masih fungsional.

“Jalur-jalur itu akan terus kami benahi dan ditingkatkan agar menjadi jalur operasional,” pungkasnya.