Tanggap Bencana, Khofifah Lebih Cepat dari Gus Ipul

LERENG GUNUNG WILIS: Untuk melihat lokasi longsor secara menyeluruh, Mensos Khofifah Indar Parawansa melihat dengan menggunakan teropong. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

NGANJUK, Barometerjatim.com – Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa bergerak cepat dalam mengunjungi lokasi serta korban longsor di Dusun Dlopo, Desa Kepel dan Dusun Jati, Desa Blongko Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk.

Sehari setelah mendengar kabar longsor, Khofifah langsung mendatangi kedua dusun tersebut, Senin (10/4). Bahkan kehadirannya lebih cepat dari Wakil Gubernur (Wagub) Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Khofifah datang di lokasi pukul 14.45 WIB, sementara Wagub baru datang sekitar pukul 16.45 WIB.

Ya, tanggap bencana serta kecepatan Khofifah dalam bekerja ini patut diapresiasi tinggi, terlebih dia pejabat dari pusat tapi mendahului kepala daerah di provinsi yang notabene lebih dekat dengan lokasi.

Soal kecepatan dalam bekerja, bukan kali ini saja ditunjukkan Khofifah. Dalam banyak kesempatan dia malah mendahului perintah presiden. Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka Kongres ke-17 Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, 24 November tahun lalu. Secara khusus, presiden memberikan pujian atas kinerja menteri yang enerjik tersebut.

• Baca: Beda Cara: Khofifah Naik Motor, Gus Ipul Pilih Helikopter

“Saya senang sekali dengan Ibu Khofifah. Sangat lincah, sangat dinamis, kadang-kadang saya telepon beliau: Bu, ada banjir bandang mohon ditengok secepat-cepatnya. Jawabnya: Pak, saya sudah di Garut,” kata presiden kala itu.

Begitu pula ketika terjadi bencana longsor di Yahukimo, Papua. Saat presiden menelepon untuk memberi perintah, Khofifah sudah dalam perjalanan dari Jayapura menuju Yahukimo.

“Jadi mendahului perintah. Bu Khofifah sudah di sana, saya baru telepon. Pemerintah bersyukur sekali memiliki menteri yang hebat, Bu Khofifah,” tandas presiden.

Serahkan Bantuan

LAGI, MENUJU LOKASI DENGAN MOTOR: Mensos Khofifah Indar Parawansa menuju lokasi longsor dengan naik motor trail. Hal sama yang dilakukan saat mengunjungi lokasi longsor di Nganjuk. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Tiba di lokasi longsor, Mensos didampingi Bupati Nganjuk, Taufiqurrahman; Danrem Madiun, Kol Inf Piek Budiyakto; Dandim 0810, Letkol Arh Sri Rusyono; Kapolres Nganjuk, AKBP Joko Sadono; serta Wakil Bupati Nganjuk, Abdul Wahid Badrus.

Turun dari mobil, Khofifah berjalan cepat meninjau dapur umum yang dikelola Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk menyiapkan logistik bagi relawan dan tim pencarian korban.

Selanjutnya Khofifah menuju Posko Bencana Alam. Di tempat ini dia mendapat detail penjelasan terkait lokasi longsor dan korban dari Dandim 0810, Letkol Arh Sri Rusyono.

Setelah mendapat penjelasan, Mensos menyerahkan santunan kematian kepada lima orang ahli waris. Para korban meninggal dunia yakni kakak beradik Donny (24) dan Bayu (14), Kodri (16), Dwi (18). Keempatnya merupakan warga Dusun Dlopo. Sedangkan korban kelima yakni Paidi (55) warga Dusun Jati.

• Baca: Tertimbun 17 Meter, 26 Korban Longsor Sulit Dievakuasi

Masing-masing korban meninggal dunia mendapat santunan Rp 15 juta, sehingga total santunan yang diberikan kepada ahli waris sebanyak Rp 75 juta. Selain itu, Mensos juga menyerahkan bantuan logistik untuk bencana alam di Kabupaten Nganjuk senilai Rp 78,9 juta.

“Bapak, kami turut berduka cita atas meninggalnya anak Bapak. Ikhlas ya Pak, Insyaallah mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah,” kata Mensos kepada Askan, orang tua Donny dan Bayu.

Usai menyerahkan bantuan, Khofifah bergegas menuju lokasi longsor. Meski sempat dicegah karena tingkat kerawanan tinggi dan masih ada kemungkinan tanah bergerak, Khofifah tetap melanjutkan peninjauan dengan menggunakan motor trail.

Dari meninjau lokasi, Mensos kemudian berkunjung ke rumah duka keluarga Askan. Istri Askan, Hartini sangat terpukul kehilangan dua putranya sekaligus, Donny dan Bayu. Sementara Mensos terlihat larut dalam duka, memeluk hangat Hartini, serta mengajak keluarga Askan berdoa untuk almarhum kedua putranya.

Rangkaian Lereng Wilis

TURUT RASAKAN DUKA: Mensos Khofifah Indar Parawansa memeluk Hartini, ibu kakak beradik Donny dan Bayu, korban meninggal dunia longsor di Kabupaten Nganjuk. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Mensos menuturkan, musibah di Nganjuk ini situasinya hampir sama dengan longsor di Trenggalek dan Ponorogo yang masih satu rangkaian lereng Gunung Wilis.

“Jadi ini zona daerah merah yang sebenarnya sudah teridentifikasi. Tapi daerah-daerah ini memiliki tingkat kesuburan tinggi, sehingga masyarakat banyak yang bercocok tanam di tempat-tempat dengan produktifitas pertanian tinggi,” katanya.

Karena itu, pemetaan detail harus dilakukan dengan edukasi secara komprehensif. Artinya, kalau di situ ada pemukiman penduduk harus disampaikan resikonya tinggi. “Kalau, misalnya, ada intensitas hujan tinggi atau pergerakan tanah maka harus segera dievakuasi,” katanya.

• Baca: Pakde Karwo Tak Mau Sedikit-sedikit Minta Bantuan Mensos

Evakuasi itu bisa insidental, bisa apula permanen. Kalau daerah-daerah di zona merah dan keretakannya mulai dilihat, maka ada evakuasi permanen alias relokasi.

Sedangkan evakuasi insidental kalau memang kerentanan dan keretakan tanah tidak terlalu membahayakan. “Nah, yang mengetahui pemetaan seperti itu ya BMKG atau ahli geologi,” kata Mensos.

  • LONGSOR KABUPATEN NGANJUK
    1. Donny (24) – Warga Dusun Dlopo
    2. Bayu (14) – Warga Dusun Dlopo
    3. Kodri (16) – Warga Dusun Dlopo
    4. Dwi (18) – Warga Dusun Dlopo
    5.Paidi (55) – Warga Dusun Jati
  • BANTUAN KEMENTERIAN SOSIAL
    Korban Meninggal Dunia: Rp 75.000.000
    Logistik Bencana Alam: Rp 78.976.285
    Sumber: Kementerian Sosial