Survei SCG: 5 Kursi DPR RI Dapil Surabaya-Sidoarjo Milik PDIP

(Dari kiri) Bambang DH, Andre Hehanusa, Citra Oktavia, Indah Kurnia, Puti Guntur, Yuhastihar. | Foto: Ist
(Dari kiri) Bambang DH, Andre Hehanusa, Citra Oktavia, Indah Kurnia, Puti Guntur, Yuhastihar. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – PDIP diprediksi bakal memboyong lima kursi DPR RI dari total alokasi 10 kursi di Dapil Jatim I (Surabaya-Sidoarjo). Hal itu terpapar dari hasil survei lembaga riset politik Surabaya Consulting Group (SCG), periode 18-24 Maret 2019 yang dirilis di Surabaya, Rabu (10/4/2019).

Dari lima kursi, dua di antaranya hampir pasti milik Puti Guntur Soekarno dan Bambang DH. Sedangkan tiga kursi lainnya bakal diperebutkan empat Caleg, yakni Cita Oktavia, Indah Kurnia, Andre Hehanusa, dan Laksda TNI (Purn) Yuhastihar.

”Selisih suara empat Caleg tersebut masih dalam margin of error,” terang Direktur Eksekutif SCG, Didik Prasetiyono.

Bagaimana dengan enam kursi lainnya? Temuan SCG menyebut akan tersebar ke tiga Parpol lain pendukung Jokowi, yakni PKB, Golkar dan Nasdem, serta satu Parpol pendukung Prabowo, yakni Gerindra.

”Di Dapil ini, tingginya elektabilitas Jokowi yang mencapai 77,69 persen telah memengaruhi dan berdampak positif terhadap perolehan Parpol-Parpol yang diidentifikasi sebagai pendukung Jokowi,” kata Didik.

Survei SCG menyebutkan, PDIP mengunci tingkat elektabilitas tertinggi sebesar 35,96 persen, disusul PKB (13,65 persen), Gerindra (6,73 persen), Golkar (3,85 persen), Nasdem (3,46 persen), Demokrat (2,69 persen), PAN (2,69 persen), dan PPP (1,15 persen).

Sedangkan partai lainnya hanya mendapat elektabilitas di bawah satu persen, namun undecided voters masih tinggi, yakni 26,73 persen.

“Setelah hasil survei dikonversi ke metode perhitungan terbaru sainte lague dengan menghilangkan variabel undecided voters, dari 10 kursi DPR, lima kursi menjadi milik PDIP, dua kursi untuk PKB, masing-masing satu kursi untuk Gerindra, Nasdem dan Golkar,” jelas Didik.

Didik menggarisbawahi empat hal dari survei tersebut. Pertama, keberhasilan PDIP yang merajai hingga merebut lima kursi, meningkat pesat dibanding Pemilu 2014 sebesar tiga kursi.

“Tidak bisa dipungkiri Dapil ini, terutama Surabaya, adalah kandang banteng. Capaian PDIP ini juga tidak terlepas dari efek Jokowi serta perubahan sistem penghitungan dari BPP (Bilangan Pembagi Pemilihan) menjadi sainte lague yang menguntungkan partai bersuara besar,” jelas Didik.

Kedua, tak terpilihnya kembali sejumlah incumbent DPR seperti dari Demokrat, PKS, dan PAN karena imbas negatif tingginya suara pemilih Jokowi, yang tentunya akan memilih partai pendukung Jokowi. Selain itu, sistem penghitungan sainte lague turut membuat Caleg partai-partai tersebut tersisih.

Nasdem ‘Pecah Telor’

Ketiga, tambah Didik, yang merupakan kejutan yakni Nasdem untuk kali pertama berhasil memperoleh kursi DPR dari Jatim I sejak Pemilu 2004. Satu kursi bakal diperebutkan Maruli Hutagalung yang unggul, namun masih ditempel Vincesius Awey dan Manohara.

”Masih ada waktu untuk bermanuver. Siapa yang menyalip di tikungan akhir, itulah yang menang, karena persaingan antarCaleg di internal partai masih dalam rentang margin of error,” katanya.

Menurut Didik, selain karena kemampuan mengasosiakan diri dengan Jokowi, fenomena Nasdem ‘pecah telor’ ini adalah hasil strategi cerdas dalam menyusun komposisi Caleg yang dinamis. Artinya, semua Caleg Nasdem bekerja sehingga secara akumulatif mendongkrak suara partai besutan Surya Paloh tersebut.

Fenomena Nasdem tersebut, imbuh Didik, bisa menjelaskan mengapa partai-partai yang hanya mengandalkan popularitas satu Caleg andalan saja gagal memperoleh kursi.

Misalnya, Demokrat dengan Lucy Kurniasari yang popularitasnya 25 persen, PKS dengan Sigit Sosiantomo (10,77 persen), atau Perindo dengan Angelina Herliani (25 persen) ternyata tidak cukup mampu bergotong-royong mengumpulkan suara signifikan untuk memperoleh kursi.

Dua kursi untuk PKB? SCG memprediksi yang teraman adalah Syaikhul Islam. ”Fandi Utomo dan Arzetti Bilbina masih adu kuat rebut satu kursi lainnya,” paparnya.

Berikutnya satu kursi untuk Gerindra, incumbent Bambang Haryo adu kuat dengan Rahmat Muhajirin. Untuk Golkar, Adies Kadir ditempel ketat Abraham Sridjaja untuk memperoleh satu kursi. Jarak keduanya dalam selisih margin of error.

Survei SCG mengambil responden 520 orang dengan metode multistage random sampling. Margin of error 2,45 persen pada tingkat kepercayaan 98 persen. Sedangkan pembiayaan dari dana internal SCG.•

» Baca Berita Terkait Pemilu 2019, PDIP