Surabaya-Jatim Gaduh Data Corona, Jibril Angkat Bicara!

TAK PERLU POLEMIK: Dokter Jibril (kiri) bersama dokter Joni Wahyuhadi, tak perlu polemik soal dana Corona. | Grafis: Barometerjatim.com/ROY HS
DATA CORONA: Dokter Jibril (kiri) bersama dokter Joni Wahyuhadi, tak perlu polemik data Corona. | Grafis: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Gaduh soal data Corona (Covid-19) antara Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim belum tuntas. Kali ini, sejumlah camat di Surabaya mengeluhkan saat melakukan tracing berdasar data yang diturunkan Pemprov melalui Dinkes Surabaya.

Sebelumnya Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang juga Kepala Dinkes Surabaya, Febria Rachmanita bahkan menyebut data Pemprov soal jumlah positif di Kota Pahlawan tak valid, persentasenya di atas 50.

Lantas, bagaimana sebenarnya alur data Corona di Pemprov Jatim? Anggota Gugus Tugas Covid-19 Jatim, dokter Makhyan Jibril Al Farabi pun angkat bicara soal data di Pemprov yang disebutnya sudah sesuai dengan alur dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Menurut dokter muda yang akrab disapa Jibril tersebut, data Covid-19 Jatim dikumpulkan dari laboratorium jejaring yang dijadikan satu ke provinsi. Selanjutnya ke PHEOC (Public Health Emergency Operating Center) Kemenkes untuk dilakukan pendataan secara nasional dan verifikasi.

“Data tersebut sudah ada nama laboratorium, nama pasien, domisili pasien dan kabupaten/kota,” tutur Jibril di Surabaya, Jumat (26/6/2020).

Data dari PHEOC, lanjut Jibril, lalu dikirim ke provinsi dan diteruskan ke kabupaten/kota untuk dilakukan tracing dan verifikasi domisili setiap pagi.

Jadi, provinsi membaginya berpedoman pada keterangan domisili dari PHEOC Kemenkes. Setelah tracing dan verifikasi, masing-masing Dinkes kabupaten/kota melakukan input ke aplikasi Covid-19 Jatim untuk divisualisasikan.

“Selama ini Dinkes kota dan kabupaten lain oke-oke saja dan input tiap jam 4 sore tepat waktu, tidak pernah ada masalah,” tandas Jibril.

“Selama ini, justru kita selalu bersabar menunggu verifikasi dari Surabaya, karena kita tahu data dari PHEOC yang domisili Surabaya biasanya jumlahnya ratusan,” sambungnya.

Akibatnya, data dari Surabaya seringkali masuk terakhir, antara pukul 18.00 hingga 19.00 WIB. Bahkan seringkali tracing dan verifikasi dari Surabaya belum selesai jam itu.

“Akhirnya kita sediakan kolom konfirmasi di web untuk kasus yang domisilinya menurut PHEOC di Surabaya, namun masih belum selesai diverifikasi Dinkes Surabaya,” ucapnya.

Tak Perlu Berpolemik

Jibril pun meminta Dinkes Surabaya tidak gaduh berpolemik. Sebab, data yang ada di peta sebaran Gugus Tugas Covid-19 Jatim, yakni data yang diinput sendiri oleh Dinkes kabupaten/kota se-Jatim sesuai domisili kasus.

Username dan password yang pegang adalah staf Dinkes kabupaten/kota masing-masing.

Misal mereka input 200 ya keluar 200 hari ini. Misal Surabaya ingin kasusnya hari ini 0, mereka input 0, maka hari ini di web juga akan muncul 0,” katanya.

“Kita tidak pernah mengubah data apapun dari kabupaten dan kota, karena kita menghargai otonomi dan kerja keras mereka,” imbuhnya.

Bagi Jibril, justru di era pandemi ini transparansi data sangat penting. Terlebih data sebaran kabupaten/kota, saat ini juga secara transparan dibuka Gugus Tugas Pusat maupun berbagai macam lembaga independen.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona