Sudah 20 Tahun Khofifah Ketum, Gus Hasan: Muslimat Perlu Ditata!

PERLU REGENERASI: Gus Hasan (kiri) dan Khofifah yang sudah 20 tahun menakhodai Muslimat NU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PERLU REGENERASI: Gus Hasan (kiri) dan Khofifah yang sudah 20 tahun menakhodai Muslimat NU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, KH Maulana Ahmad Hasan alias Gus Hasan berharap Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung, 23-25 Desember 2021, tak sekadar menjadi perhelatan akbar dalam prosesi pemilihan ketua umum PBNU.

Tapi juga menjadi evaluasi kerja-kerja organisasi hingga penertiban periodisasi ketua badan otonom (Banom). Terlebih hal itu sudah terjadi dan tidak bisa dibiarkan lepas begitu saja, karena bisa menjadi hal yang sangat tidak baik bagi organisasi sebesar NU.

Kiai yang juga wakil katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyumas itu mencontohkan Muslimat NU, yang sudah 20 tahun atau empat periode (2000-2021) diketuai Khofifah Indar Parawansa. Bahkan, gubernur Jawa Timur itu naga-naganya akan terpilih lagi untuk periode kelima pada Kongres ke-18 yang dijadwalkan November 2021.

“Sebenarnya di dalam AD/ART NU itu tertulis bahwa tentang masa jabatan ketua Banom itu maksimal dua kali periode, kecuali Banom yang berbasis usia itu malah bisa hanya satu periode, seperti IPNU, IPPNU itu,” katanya kepada Barometerjatim.com, Rabu (29/10/2021).

“Jadi Muslimat ini pun perlu ditata yang baik. Marwah PBNU harus bisa mengendalikan dalam artian menertibkan organisasi, baik kinerja-kinerja maupun ketertiban terhadap disiplin mematuhi amanah AD/ART NU,” tegasnya.

Ketua PCNU Banyumas periode 2012-2017 itu meminta kader lain juga diberi kesempatan untuk mengabdi dan berhikmah, sekaligus agar ada regenerasi di tubuh Banom.

“Yakinlah bahwa di Muslimat, di Ansor, di Banom-Banom itu, banyak kader yang siap melanjutkan tonggak estafet untuk mengabdi dan berhikmah kepada bangsa dan umat,” kata Gus Hasan.

“Jadi nanti tidak stagnan. Banyangkan saja, kalau organisasi sudah dikendalikan sampai empat periode itu sudah kayak bukan milik orang banyak, tapi seperti milik sendiri,” tandasnya.

Dan asumsi yang muncul, tentu akan banyak varian dalamnya, termasuk asumsi bahwa organisasi tersebut dipakai untuk untuk kepentingan tertentu.

“Kalau organisasi sudah dikendalikan sampai empat periode itu sudah kayak bukan milik orang banyak, tapi seperti milik sendiri.”

“Kalau saya harus ngomong untuk kepentingan ini itu kan enggak etis. Apapun, jejak digital kan tetap tidak akan bisa dihilangkan begitu saja,” ucap pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Tengah itu.

Lagi pula, kata Gus Hasan, semangat Indonesia adalah semangat reformasi yang membatasi jabatan selama dua periode. Bukan untuk menang dan kalah, tapi untuk kemaslahatan kinerja dan regenerasi.

“Karena pada setiap masanya, generasi itu butuh pimpinan, dan memberikan kesempatan generasinya untuk memimpin pada setiap masanya,” ujar jajaran ketua Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) PBNU 2015-2020 tersebut.

Tak hanya dari Jawa Tengah, sebelumnya desakan agar terjadi regenerasi di pucuk pimpinan Muslimat NU juga terlontar dari Jawa Timur.

“Muslimat butuh regenerasi. Regenerasi itu sangat penting di segala lini. Di Fatayat, Muslimat, terutama juga di NU-nya,” kata Pengasuh Ponpes Metal Muslim Al Hidayah Pasuruan, KH Nur Kholis Al Maulani alias Gus Nur Kholis.

Ya, dari deretan ketua umum Banom NU, Khofifah memang paling lama menjadi ketua umum Muslimat NU, hingga 20 tahun. Khofifah — saat itu masih menjabat Menteri Sosial — terpilih secara aklamasi untuk periode keempat (2016-2021) lewat Kongres XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, November 2016.

Tiga bulan kemudian, 28 Maret 2017, Khofifah dan kepengurusannya dilantik Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

» Baca Berita Terkait Muslimat NU