Stop Main Jiplak! Relawan Khofifah-Emil Ajak Adu Karya

SIAP ADU KARYA: Sekber Relawan Khofifah-Emil, Ari Kusuma (kanan) saat kampanye akbar Khofifah-Emil di Jombang, Minggu (1/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SIAP ADU KARYA: Sekber Relawan Khofifah-Emil, Ari Kusuma (kanan) saat kampanye akbar Khofifah-Emil di Jombang, Minggu (1/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kampanye Pilgub Jatim 2018 yang seharusnya menjadi ajang kerativitas lewat adu karya kedua kubu pasangan calon (paslon), malah menjadi arena ‘plagiat’ bahkan cenderung menggencarkan kampanye negatif yang berujung pembohongan publik.

Ini faktanya! Semula, nama Baguss (akronim dari Barisan Gus Sholah) yang mendukung Khofifah Indar Parawasa-Emil Elestianto Dardak ditiru kubu Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dengan membuat nama senada: “Bagus” (satu huruf s dibuang) alias Barisan Gus-Gus.

Lalu “Wis Wayahe” yang jelas-jelas sejak awal menjadi slogan Khofifah-Emil dijiplak untuk kampanye. Tak berhenti di situ, lagu shalawat yang menjadi opening jingle pasangan nomor satu juga disadur.

• Baca: Putri Rhoma Sayangkan ‘Kampanye Kotor’ Kubu Gus Ipul-Puti

Kini foto Rhoma Irama yang terang benderang mendukung Khofifah-Emil, dicatut sebagai pendukung Gus Ipul-Puti dengan cara mengedit foto Sang Raja Dangdut bersama Cagub Jawa Tengah nomor urut dua, Sudirman Said.

Menanggapi bertubu-tubi penyaduran dan kampanye negatif ini, Sekber Relawan Khofifah-Emil, Ari Kusuma mengajak ‘kubu sebelah’ untuk mengedepankan kreativitas yang beretika.

“Mari kita kreativitas kampanye yang mendidik dan menghibur untuk warga Jawa Timur. Bukan sebaliknya, main sadur, lebih-lebih membuat materi kampanye yang membohongi publik,” katanya saat dihubungi wartawan di Surabaya, Rabu (3/4).

• Baca: Lawan Hoax, Relawan Khofifah-Emil Deklarasi RAH-Khamil

Dari awal, tambah Ari, relawan Khofifah-Emil memang siap adu karya, bukan adu domba dengan cara tiru-meniru yang bertujuan membiaskan persepsi pemilih.

“Khofifah-Emil menekankan kami untuk menjaga etika dan norma dalam berkreasi dan berkreativitas dalam berkampanye,” tandasnya. “Etika kesantunan berpolitik selalu disampaikan Bu Khofifah kepada seluruh relawannya.”

Bentuk Kepanikan

Terkait pencatutan nama Rhoma, alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu menegaskan, selain memprotes keras karena sudah menjurus pada pembohongan publik, relawan Khofifah-Emil melihat hal itu bentuk kepanikan dari kubu Gus Ipul-Puti.

“Kami yakini bahwa efek Rhoma Irama cukup kuat di Jawa Timur, sehingga ada pihak yang panik terhadap dukungan Rhoma yang sangat masif kepada kandidat kita,” katanya.

Ari menambahkan, “Boleh panik, tapi kami mohon tidak pakai cara-cara yang tidak etis dan bertujuan mempropaganda persepsi pemilih. Sekali lagi, mari kita adu karya dan kreativitas untuk merebut simpati pemilih dengan cara yang mengedepankan fakta dan elegan.”