SSC: Kalau Niat Maju Pilpres, Khofifah Jangan Malu-malu!

JANGAN MALU-MALU: Khofifah, sebaiknya jangan malu-malu kalau memang berniat maju di Pilpres 2024. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
JANGAN MALU-MALU: Khofifah, jangan malu-malu kalau memang niat maju Pilpres 2024. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengamat Politik yang juga Dirut Surabaya Survey Center (SSC), Mochtar W Oetomo menyarankan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa agar tak malu-malu kalau memang berniat maju di Pilpres 2024.

Pernyataan Mochtar terlontar saat ditanya wartawan terkait elektabilitas Khofifah yang masih sangat rendah dari hasil survei sejumlah lembaga, termasuk SSC sendiri.

“Itu terjadi karena Khofifah masih malu-malu dibanding kandidat yang lain yang sudah terang-terangan membangun tim, membangun strategi, membangun citra,” katanya di Surabaya, Selasa (1/6/2021).

Seperti diberitakan, hingga kini elektabilitas Khofifah sebagai kandidat Capres masih nol koma. Merujuk hasil survei nasional Perkumpulan Kader Bangsa (PKB) bersama Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) periode akhir April hingga Awal Mei 2021, Khofifah tercecer di peringat sepuluh (0,66%) top of mind responden.

Posisi puncak ditempati Anies Baswedan (17,01%), disusul Prabowo Subianto (14,31%), Ganjar Pranowo (11,25%), Sandiaga Uno (6,87%), Ridwan Kamil (5,86%), Agus Harimurti Yudhoyono (5,55%), Tri Rismaharini (3,97%), Airlangga Hartarto (3,83%), dan Puan Maharani (2,48%).

Begitu pula dalam survei SSC periode 5 hingga 25 Maret 2021 yang dilakukan di 38 kabupaten/kota di Jatim. Khofifah tercecer di posisi delapan (0,9%) top of mind presiden pilihan milenial. Posisi puncak diduduki Prabowo Subianto (8,9 persen) disusul Tri Rismaharini (7,8 persen).

Pun untuk kategori elektabilitas, Khofifah juga tersendat di posisi tujuh (2,7%). Posisi puncak ditempati Tri Rsimaharini (15%) yang bertukar posisi dengan Prabowo Subianto di peringkat dua (10,8%).

Meski saat ini elektabilitasnya masih nol koma, Mochtar yang juga pengajar di Universitas Tunojoyo Madura (UTM) melihat perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu masih cukup waktu untuk mengejar ketertinggalannya.

“Maka kalau ada niatan ya harus segera dirumuskan, tidak boleh malu-malu. Sudah harus running sejak dini, agar tidak kehilangan ruang, waktu seperti yang terjadi di Pilpres 2014 dan 2019 (minim kandidat perempuan yang menonjol),” ucapnya.

Apalagi, tandas Mochtar, Khofifah berpeluang maju di Pilpres 2024 karena memiliki setidaknya tiga keunggulan positioning. Yakni representasi sebagai pemimpin Jatim dengan jumlah penduduk sekitar 40 juta, Nahdlatul Ulama (NU) terutama Muslimat NU, dan perempuan.

“Itu kan modal politik, modal sosial bagi Khofifah yang bisa menjadi alat bargaining kuat baik untuk partai politik pengusung maupun kandidat lainnya,” katanya.

Bagaimana dengan partai politik? Mochtar melihat bagaimanapun Khofifah pernah di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tentu memiliki kedekatan dengan elite partainya maupun partai lain.

“Sejauh ini kita tahu dekat dengan Golkar, Demokrat, dan seterusnya. Terlepas nanti mereka punya pilihan-pilihan, dinamika politik Pilpres selalu saja sampai detik-detik terakhir, seperti case terpilihnya KH Ma’ruf Amin (mendampingi Jokowi),” katanya.

Artinya, ucap Mochtar, ada banyak faktor di luar partai yang juga berperan dalam mengusung kandidat. Sebab, pilihan sebuah partai juga sangat bergantung pada dinamika bagaimana pilihan partai lain.

» Baca Berita Terkait Pilpres 2024