Spekulasi Duet Whisnu-Eri, Pakar: Tak Untungkan Risma!

TAK DIUNTUNGKAN: Risma, tak diuntungkan jika Eri Cahyadi hanya diusung sebagai bakal Cawawali. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
TAK DIUNTUNGKAN: Risma, tak diuntungkan jika Eri Cahyadi hanya diusung bakal Cawawali. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pakar Politik dari Lembaga Transformasi (Eltram), Moch Mubarok Muharam menilai Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma tak diuntungkan jika Kepala Bappeko, Eri Cahyadi hanya diusung PDIP sebagai calon wakil wali kota di Pilwali Surabaya 2020.

“Banyak yang memperkirakan prestasi Risma harusnya mampu mengawal rekomendasi ke Eri Cahyadi, apalagi Eri merupakan ‘anak emas’ Risma,” kata Mubarok, Minggu (5/6/2020), menanggapi kabar terkait rekom PDIP untuk Cawali yang jatuh ke Whisnu dan spekulasi duet Whisnu-Eri.

Bahkan, jika benar rekom diberikan ke Whisnu, Mubarok menyebut jerih payah dan prestasi Risma selama dua periode memimpin Surabaya sama sekali tidak diperhitungkan DPP PDIP. Terlebih menggandengkan Whisnu-Eri ibarat kawin paksa.

“Kawin paksa ini berat. Karena untuk membangun image sebelumnya tidak ada luka itu sangat berat. Walaupun tidak pernah bekerja sama, paling tidak, tidak ada luka antardua kubu berkoalisi itu kan,” terangnya.

Terlebih Whisnu maupun Eri sama-sama berpeluang menjadi calon wali kota. Tapi karena waktu Pilwali yang terus berjalan dan sangat mepet masa pendaftaran, PDIP tidak bisa mencari irisan lainnya.

“Waktu yang semakin mepet, apalagi kansnya hampir sama Whisnu dan Eri untuk menjadi calon wali kota. Tidak bisa mencari irisan lain ketika dua itu bersatu,” katanya.

Sudah begitu, kader organik PDIP lainnya yang juga anggota DPRD Jatim, Armuji memutuskan mundur dari bakal calon wali kota. Alasan Armuji pun cukup menohok lantaran merasa dijegal sesama kader yang juga pengurus PDIP Surabaya.

Pertarungan di Pilwali Surabaya 2020 akan semakin berat bagi PDIP, karena Whisnu maupun Eri basisnya sama yakni dari kalangan abangan. “Basisnya sama, tidak memperluas basis kalau kedua kubu bersatu,” ujarnya.

Efek lainnya, kalau pasangan Whisnu-Eri mengalami kemenangan atau kekalahan di Pilwali, Eri tetap tidak bisa membawa ‘pesan’ Risma. Juga tidak menutup kemungkinan hubungan tak harmonis antara wali kota dan wakilnya, yang berimbas tidak menguntungkan bagi warga Surabaya.

“Karena mereka ‘kawin paksa’. Komunikasi antara wali kota dan wakilnya akan terputus, tidak ada pembagian tugas yang jelas untuk kepentingan masyarakat Surabaya,” katanya.

“Eri tidak bisa mengambil policy, semua kebijakan dari Whisnu. Jadi sebenarnya mereka berpasangan ini karena kompromi, bukan sehati,” tuntas Mubarok.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya