Soal Perppu Ormas, Ini Sikap Muslimat NU

DUKUNG PENERBITAN PERPPU: Khofifah Indar Parawansa saat memberi ceramah pada Halal bi Halal yang digelar PC Muslimat NU Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. | Foto: Ist

KONAWE SELATAN, Barometerjatim.com – Inilah sikap Muslimat NU atas penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

“Sama seperti PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Muslimat NU yang notabene adalah badan otonom NU mengambil sikap serupa. Kami mendukung penuh keberadaan Perppu tersebut,” tegas Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa usai menghadiri acara Halal bi Halal di Ponpes Minhajut Thullab, Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara, Senin (17/7).

• Baca: Kalau Khofifah Maju, Cawagub Ditentukan Tim Gus Sholah

Acara dirangkai yang digelar PC Muslimat NU Kabupaten Konsel itu dirangkai dengan deklarasi Laskar Anti Narkoba (LAN), penyerahan bibit cabai dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan pemberian santunan untuk dhuafa.

Sebelumnya PBNU bersama 13 Ormas Islam telah meminta pemerintah untuk merealisasikan segera rencana pembubaran Ormas, kelompok radikal dan anti Pancasila. “Kami dalam gerbong yang sama,” tandas Khofifah.

• Baca: Gerindra: Cak Imin Lihat Khofifah Penghambat Gus Ipul

Menurutnya, Perppu tersebut menjadi instrumen hukum tegas bagi pemerintah untuk mencegah dan menindak Ormas atau gerakan radikal dan anti Pancasila.

“Diharapkan Perppu tersebut mampu meminimalisir potensi yang bisa menganggu kesatuan nasional dan bangsa,” ucapnya.

Penyebaran Radikalisme

Sebelumnya, dalam pidatonya saat halal bi halal Khofifah menuturkan saat ini penyebaran radikalisme telah menyasar kaum pelajar dan mahasiswa.

Paham tersebut disebarkan antara lain oleh guru, dosen atau pengajar yang berafiliasi atau bersimpati terhadap organisasi yang berkeinginan mengganti Pancasila dengan ideologi transnasional. Arahnya adalah doktrinisasi generasi muda bangsa untuk mendukung khilafah.

“Pergerakan mereka tidak statis. Penyebaran pengaruh juga dilakukan dengan serangkaian perekrutan anggota baru, pelatihan dan pendidikan kader yang dilakukan secara masif,” katanya.

“Saya harap kita semua harus meningkatkan kewaspadaan. Minimal jangan sampai merasuk kepada keluarga kita.”

• Baca: Tiga Wanita “Super” dengan Guru yang “Bener”

Khofifiah menuturkan, selain karena pengaruh pengajar, radikalisme juga terjadi akibat derasnya arus informasi yang beredar di media sosial dan internet. Lantaran tidak ada filter, informasi yang beredar pun menjadi tidak terkendali.

Menurut Khofifah, perspektif kemaslahatan umum harus ditata kembali. Termasuk dalam hal berguru dan mencari ilmu. Saat ini, tambahnya, mayoritas orang mencari ilmu lewat gadget. Alhasil, banyak yang menjadi sesat karena tidak mengetahui asal muasal dalil dan sumber informasi tersebut.

“Sanadnya tidak jelas. Jadi kalau mau berguru atau mencari ilmu harus jelas siapa yang menjadi jujugan sehingga tidak salah ajar,” ucapnya.