Sistem Khilafah di Mata Emha Ainun Nadjib

PARA TOKOH BERKUMPUL: Emha Ainun Nadjib (empat dari kiri) bersama sejumlah tokoh nasional yang menghadiri Halal bi Halal e Arek Suroboyo yang digelar Yayasan Kalimasadha Nusantara, Rabu (19/7) malam. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Dalam pengajiannya saat Halal bi Halal e Arek Suroboyo yang digelar Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) di Jalan Imam Bonjol, Surabaya, Rabu (19/7) malam, budayawan Emha Ainun Nadjib menyinggung sistem khilafah.

Jamak kita dengar dan lihat, sistem politik kenegaraan ini lekat dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang baru dibubarkan pemerintah.

Cak Nun — sapaan akrabnya — mengibaratkan khilafah seperti benih. “Nanti ditanam di Amerika tumbuh pohon begini, ditanam di Indonesia tumbuhnya pohon lain lagi. Tergantung cuacanya, tanamnya dan jenis petaninya,” katanya.

• Baca: Gus Ipul Maju Gubernur, Cak Nun: Belum Tentu Saya Restui

Maka, tandas Cak Nun, Republik Indonesia itu sudah khilafah karena pohon khilafah bisa jadi republik, kesultanan, kerajaan dan bisa jadi apa saja.

“Yang penting prinsipnya bisa menjaga keamanan satu sama lain di antara manusia, adil satu sama lain di antara manusia, serta sayang satu sama lain di antara manusia,” ucapnya.

Lantas apa bedanya dengan sistem khilafah ala HTI? “(Bagi HTI) khilafah itu barang jadi di atas meja, tinggal makan. Sistem besar, prasmanan,” ujarnya. Dia juga mengaku telah menyampaikan konsep khilafah menurutnya ini, baik kepada HTI maupun pihak Mabes Polri yang menemuinya.

“NKRI ini khilafah. Bedanya saya dengan HTI, (bagi saya) khilafah itu memang konsepnya Tuhan. Tuhan itu ciptakan alam dan manusia disuruh jadi dutanya Dia, sebagai representasinya Dia,” tambahnya.

• Baca: Gus Ipul Suka Traktir Kiai Biar Didukung Jadi Gubernur

Belum cukup dengan ilustrasi “benih”, tokoh kharismatik yang selama Orde Baru dijuluki “Kiai Mbeling” itu mengilustrasikan pemikirannya bak hubungan antara pelukis dengan hasil karyanya. “Kalau tidak ada lukisannya, maka pelukisnya tidak representatif. Maka, manusia adalah representasi Tuhan,” tandasnya.

Lantas, apa komentar Cak Nun soal penerbitan Perppu Ormas yang berujung pembubaran HTI?

Baginya, penerbitan Perppu Ormas adalah salah satu produk hukum yang lahir dari ketidakseimbangan di negeri ini. “Ketidakseimbangan berpikir, manajemen, apa saja. Lahirnya Perppu Ormas adalah hasil dari ketidakseimbangan,” tuturnya.