Simak! Gus Hans Bicara Vaksin Covid-19 dan Hubbul Wathon

IKHTIAR: Vaksinasi, ikhtiar yang disepakati ahli dan pemerintah sebagai ulil amri. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
IKHTIAR: Vaksinasi, ikhtiar yang disepakati ahli dan pemerintah sebagai ulil amri. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

MASIH tentang vaksin. Ramadhan kali ini seperti bulan menuju “masa penyembuhan” setelah sebagian belahan dunia didera sakit berbulan-bulan.

Berbagai ikhtiar fisik sudah optimal dilakukan, dan sekarang saat yang tepat kita genjot pula ikhtiar spritual di bulan yang mulia ini, sesuai dengan hadits tentang terijabahnya doa orang-orang yang berpuasa hingga ia berbuka.

Vaksin adalah ikhtiar yang telah disepakati para ahli dan pemerintah sebagai ulil amri di negeri ini. Dalam setiap ikhtiar, pasti ada “masalah sertaan” yang akan menjadi hambatan-hambatan seperti halnya cobaan bagi orang yang sedang naik tingkat.

Salah satu ujian dari ikhtiar ini adalah tentang keputusan pemilihan merek atau brand yang akan digunakan secara massal, pasti harapan pemerintah adalah tingkat efikasi dan efektivitas yang tinggi sehingga berdampak optimal pada penurunan kasus Covid-19 yang signifikan di negeri ini.

Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah untuk memasifkan gerakan ini, mulai dari “iming-iming“ tidak perlu lagi tes antigen atau sejenisnya bagi siapa pun yang sudah tervaksin. Bahkan vaksin akan dijadikan syarat bagi para calon jamaah haji dan umroh.

Namun kabar terkini, pemerintah Arab Saudi justru tidak mengakui merek Sinovac karena belum mengantongi Emergency Used Listing (EUL) resmi WHO. Berdasarkan data terbaru WHO, baru ada empat vaksin yang mendapat EUL: Pfizer, AstraZeneca produksi Korea Selatan, AstraZeneca produksi India, serta Johnson & Johnson.

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah untuk meyakinkan publik, tentang “kemanjuran” vaksin yang sudah di beli dengan jumlah banyak dan sudah  tervaksin kepada sebagian masyarakat Indonesia.

Selain Sinovac, pemerintah juga sudah memutuskan untuk menggunakan vaksin dari AstraZenca. AstraZeneca Plc adalah perusahaan farmasi dan bioteknologi multinasional Inggris-Swedia dengan kantor pusatnya di Cambridge Biomedical Campus di Cambridge, Inggris.

Ini memiliki portofolio produk untuk penyakit utama di berbagai bidang termasuk onkologi, kardiovaskular, gastrointestinal, infeksi, saraf, pernapasan, dan pembengkakan.

Penulis sudah lama menggunakan produk dari AstraZeneca untuk penyembuhan gastritis akut dengan merek nexium, namun mendadak makin terkenal setelah terlibat dalam proyek vaksin Covid-19 ini.

Perjalanan vaksin ini pun tidak mulus. Selain sama-sama belum masuk dalam EUL dari WHIO, vaksin ini juga sempat meramaikan jagat Indonesia berkaitan “kandungan” babi yang “dilibatkan” dalam proses pembuatannya, walaupun sudah difatwakan boleh digunakan oleh otoritas keagamaan Islam di Indonesia/MUI .

Kini yang masih hangat adalah adanya vaksin Nusantara yang diklaim “paling Indonesia” daripada merek-merek yang lain. Isu nasionalisme menjadi bumbu penyedap yang disajikan dalam scene ini, tentunya berdampak pada biasnya cara pandang dan objektifitas dalam memandang masalah ini.

Sesuatu yang seharusnya dilihat dengan kacamata ahli oleh profesional group dengan otoritas keilmuan tertentu, kini beradu dengan penilaian interest group yang tidak memiliki otoritas keilmuan dan hanya sebatas pada “interest” yang kadang ke utara dan kadang ke kiri.

***

Rasa Nasionalisme atau hubbul wathon mestinya tidak dibenturkan dengan karya keilmuan yang terukur. Tentu tidaklah bijak ketika kita mempertaruhkan nyawa anak bangsa dengan isu-isu nasionalisme.

Saya tidak tertarik untuk membahas tentang kadar nasionalisme dari vaksin Nusantara ini selain namanya “Nusantara” yang sangat Indonesia, karena saya belum tahu apakah isolat (bahan)-nya dan mayoritas penelitinya asli dri Indonesia sehingga layak diklaim sebagai produk Indonesia.

Di bulan yang suci ini adalah saat yang tepat untuk bermuhasabah dan memurnikan niat kita, untuk turut serta bersama ulil amri menyelesaikan masalah yang belum kunjung usai ini dengan bertindak secara proporsional.

Kapan kita harus menggunakan kacamata ahli dan kapan kita harus menggunakan kacamata kepentingan, apalagi dengan kacamata politik yang melik-melik.

Di bulan suci inilah saat yang tepat kita berdoa semaksimal mungkin, sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw:

“Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa hingga berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi.”

Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang bisa memberikan manfaat bagi kemanusiaan dengan cara berbangsa yang mencerahkan dan beragama yang menyejukkan.

KH Zahrul Azhar As’ad Sip Mkes (Gus Hans)
Wakil Ketua ISNU Jawa Timur
Wakil Rektor Unipdu Jombang

» Baca Berita Terkait Vaksinasi Covid-19