Selasa, 06 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Nahdlatul Ulama

Shalawat Badar dan Syubbanul Wathon, Diusulkan Jadi Lagu Wajib Nasional

Berita Terkait

DIUSULKAN LAGU WAJIB NASIONAL: Para kiai PWNU dan dzuriyah pencipta lagu Syubbanul Wathon dan Shalawat Badar. | Foto: IST
DIUSULKAN LAGU WAJIB NASIONAL: Para kiai PWNU dan dzuriyah pencipta lagu Syubbanul Wathon dan Shalawat Badar. | Foto: IST
- Advertisement -

KEDIRI, Barometerjatim.com – Usai hak cipta Syubbanul Wathon dan Shalawat Badar resmi tercatat di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), para kiai Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim akan mengusulkan kedua lagu tersebut menjadi lagu wajib nasional.

“Kita putuskan agar kedua lagu tersebut menjadi lagu wajib nasional, yang akan diusulkan NU kepada pemerintah,” tutur Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar usai menghadiri pertemuan para masyayikh di Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Selasa (28/12/2021).

Pertemuan tersebut digelar, selain sebagai wujud syukur juga untuk menyerahkan surat pencatatan ciptaan dari Kemenkumham kepada dzuriyah ulama pencipta lagu Syubbanul Wathon dan Shalawat Badar yang telah mendapat perlindungan HAKI.

Kiai Ahmad Syakir Abd Shiddiq mewakili KH Ali Manshur Shiddiq yang menciptakan Shalawat Badar dan Nyai Hj Mahfudhoh Aly Ubaid mewakili KH Wahab Chasbullah pencipta Syubbanul Wathon.

Nyai Mahfudhoh tampak terharu atas diakuinya karya para ulama NU tersebut. Begitu pula dengan Kiai Ahmad Syakir.

“Kami terharu, lebih dari itu karena di Pondok Lirboyo ini Abah (Kiai Ali Manshur) juga mondok. Jadi ada nostalgia tersendiri,” kata Kiai yang tinggal di Banyuwangi.

Sebelumnya, PWNU Jatim membentuk tim untuk mengurus HAKI terkait karya lagu Shalawat Badar dan Syubbanul Wathon yang dikoordinatori Sholeh Hayat.

Alhamdulillah, kita patut bersyukur karena kedua karya para Kiai di lingkungan NU mendapat pengakuan dari Kemenkumham sebagai hak cipta HAKI, ” tutur Sholeh Hayat.

Kiai Marzuki menambahkan, atas terbitnya sertifikat HAKI tersebut dirinya menyatakan rasa bahagia. Dia juga mengingatkan bahwa kedua karya tersebut menjadi bagian penting dari NU.

“Oleh karena itu tidak diperbolehkan mempergunakannya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya tanpa izin (yang bersifat komersial), karena hak cipta ini merupakan karya dari kader NU,” tutur Kiai Marzuki.

“Kami mengucapkan terima kasih, semoga kita selalu mendapatkan keberkahan untuk kejayaan NU dan negeri tercinta ini,” imbuhnya.

» Baca berita terkait Nahdlatul Ulama. Baca juga tulisan terukur lainnya Retna Mahya

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -