Senator: Kaji Lagi, Terutama Dampak Sosial-Ekonomi

KAJI LAGI: Pemerintah diminta mengkaji sebelum melarang masyarakat menanam tembakau guna mengurangi produksi rokok. (Ist)

SURABAYA, Barometerjatim.com – Anggota DPD RI asal Jatim, Ahmad Nawardi meminta pemerintah agar mengkaji lebih dalam lagi sebelum melarang masyarakat menanam tembakau guna mengurangi produksi rokok. Terlebih dampak sosial dan ekonomi.

“Dampak sosialnya kemungkinan jumlah orang miskin akan bertambah, angka pengangguran juga akan bertambah,” kata pria yang juga ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim itu saat dikonfirmasi Jumat (20/1).

“Jika ini terjadi dikhawatirkan juga meningkatkan angka kriminal dan bisnis-bisnis haram akan semakin marak, seperti narkoba dan barang haram lainnya.”

Wakil ketua Komite II DPD RI itu menambahkan, di Jatim ada lebih dari enam juta orang yang hidup dari sektor tembakau, maka larang pemerintah secara kasat mata akan menjadikan mereka kelimpungan. Termasuk di antaranya ada di Pulau Madura yang sebagai penduduknya menggantungkan hidup dari tembakau.

Karenanya dia meminta agar dampaknya mulai petani hingga industri rokok dikaji lebih dalam. “Saya mendorong pemerintah melakukan kajian lebih mendalam dan berdiskusi dengan stakeholder, mulai petani, buruh, organisasi petani, pakar pertanian dan pengusaha sebelum menerapkan kebijakan tersebut,” tandas pria kelahiran Sampang, Madura tersebut.

Reaksi sama juga muncul dari Gubernur Jatim, Soekarwo. Keduanya sepakat agar pemerintah pusat mengkaji dan mencari solusi terlebih dahulu atas kebijakan itu.

“Fungsi pemerintah, sesuai konstitusi kita UUD 1945 adalah mengatur. Saat melarang, ya harus ada gantinya,” kata gubernur.

Pakde Karwo, sapaan Soekarwo, mengatakan pemerintah perlu menyiapkan tanaman pengganti apabila memang ada larangan petani menanam tembakau. Sebab, katanya,  tidak etis ketika di satu sisi cukai rokok ditarik, sementara petani tidak boleh menanam tembakau.

Saat ini tidak kurang enam juta penduduk Jatim bergantung pada industri rokok, termasuk para petani tembakau. Jawa Timur tahun lalu juga menyumbangkan Rp 110 triliun dari cukai rokok.• spm