Sempat Beda di Pilgub, PWNU Jatim-Khofifah Makin Kompak!

Sukap tawadhu! Khofifah sungkem ke KH Zinudin Djazuli. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Sikap tawadhu! Gubernur Khofifah sungkem ke KH Zainudin Djazuli. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sempat terjadi friksi politik di Pilgub Jatim 2018, kini hubungan kiai struktural Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim dengan Khofifah Indar Parawansa terlihat semakin harmonis dan kompak.

Hal itu ditandai dengan kunjungan pertama Khofifah sejak dilantik menjadi gubernur Jatim ke kantor PWNU Jatim di Jalan Masjid Al Akbar, Gayungan, Surabaya, Senin (25/2/2019).

Sebenarnya, 18 Juli 2018, Khofifah juga sowan ke PWNU Jatim usai memenangi kontestasi Pilgub. Namun pertemuan kali ini lebih istimewa karena dihadiri struktur lebih lengkap, mulai mustasyar, syuriyah dan tanfidziyah.

Di antaranya KH Zainudin Djazuli (mustasyar), KH Anwar Manshur (rais syuriyah), KH Anwar Iskandar, KH Agoes Ali Mashuri, KH Ubaidillah Faqih, KH Hasan Mutawakkil Alallah, KH M Nuruddin A Rahman (kelimanya wakil rais syuriyah), serta KH Marzuki Mustamar (ketua tanfidziyah).

Sementara Khofifah ditemai Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak dan istrinya, Arumi Bachsin serta Juru Bicara Khofifah-Emil di Pilgub Jatim 2018, KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans.

Kiai Marzuki menuturkan, kunjungan ini membuktikan kalau Jatim tetap satu meski sempat terjadi perbedaan politik terkait dukung mendukung pasangan calon di Pilgub.

“Intinya kunjungan ini mengkonkretkan Jatim menjadi satu. Ya namanya ada proses politik Pilgub, macam-macam kan, ya khawatir ada friksi macam-macam,” katanya usai pertemuan.

Apakah ini menunjukkan PWNU Jatim dan Khofifah kembali harmonis pasca Pilgub Jatim? “Ulama kompak, NU kompak, pejabat kompak, rakyat juga tetap kompak. Jatim satu. Pokoknya tetap jadi satu. Jangan ada Jatim yang macam-macam,” tandasnya.

Sementara Khofifah menuturkan, dirinya dan Emil berkunjung ke PWNU untuk meminta masukan dalam menjalankan pemerintahan di Jatim selama lima tahun ke depan. Sebab, sangat banyak kontribusi strategis NU, baik dalam skala regional, nasional maupun internasional.

“Peran strategis NU baik pada awal kemerdekaan, masa pembangunan dan hari ini, rasanya akan tetap menjadi tumpuan bagaimana membangun kehidupan yang damai, menghadirkan Islam rahmatan lil ‘alamin,” katanya.

Strong Partnership

Harmonisasi Jatim! Khofifah sowan ke kiai struktur PWNU Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Harmonisasi Jatim! Khofifah sowan ke kiai struktur PWNU Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

Karena itu, kata Khofifah, dirinya dan Emil harus banyak mendengarkan pikiran-pikiran strategis dan nasihat kiai, yang diharapkan bisa memandu, mengawal dan mendoakan proses perjalanan pemerintahan di Jatim lima tahun ke depan.

“Tentu tak hanya membutuhkan pikiran-pikiran yang strategis, pikiran genuine, pendekatan rasional semata, tapi pendekatan spiritualitas, religiusitas dan keumatan juga menjadi bangian yang sangat penting,” ucapnya.

“Ini artinya, seperti yang didawuhkan Kiai Marzuki, nyambung hati, pikiran dan program. hal-hal yang terkait ikhtiar secara programatik, kami akan membangun strong partnership.

Jadi prinsip kerja sama, seperti tagline waktu kampanye “Kerja Bersama untuk Jatim Sejahtera”, akan terus menjadi bagian penguatan partnership di antara Pemprov dan elemen strategis di Jatim.

“Khususnya jajaran PWNU, khususnya lagi para pengasuh Ponpes dengan kekuatan jaringan pesantren, santri, kiai, semuanya akan jadi kekuatan strategis bagi proses pembagunan di Jatim,” tegasnya.

Seperti diketahui, saat Pilgub 2018 kiai struktural PWNU Jatim mendukung pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno, sementara Khofifah-Emil lebih banyak didukung kiai kultural NU.•

» Baca Berita Terkait Khofifah, PWNU Jatim