Sabtu, 02 Juli 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Semoga, Gus Yahya Jawab Tantangan Masa Depan NU di Era Industri 5.0

Berita Terkait

| Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
| Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
- Advertisement -

Oleh: Yusub Hidayat*

MUKTAMAR ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Bandar Lampung sudah usai. Ada harapan baru yang selama ini telah dinantikan banyak orang, NU butuh regenerasi.

Gus Yahya berhasil memikat pengurus dan warga NU dengan visinya menghidupkan Gus Dur. Sebagai mantan Jubirnya, Gus Yahya berhasil menggunakan simbol Gus Dur untuk tampil percaya diri maju menjadi ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kepercayaan diri dan semangatnya luar biasa, sebagaimana Gus Dur. Tokoh yang bersaing dengan Gus Yahya dalam Muktamar ke-34 di Bandar Lampung bukanlah orang asing atau dianggap bahaya. Prof Dr KH Said Aqil Siroj sendiri merupakan senior Gus Yahya, beliau juga santri Gus Dur, yang semasa hidupnya juga menjadi teman diskusi Gus Dur.

Artinya, baik Gus Yahya dan Kiai Said Aqil sama-sama santri Gus Dur. Di muka publik keduanya berhasil mengedepankan akhlak terpuji, sebuah prestasi bagi Kiai Said yang berhasil melakukan pergantian kepemimpinan dengan ciamik.

Kedua santri Gus Dur ini berhasil menjadikan Muktamar ke-34 NU teduh, damai, dan jenaka. Sikap saling menghormati dan penuh adab ditunjukan kedua calon pimpinan PBNU kemarin.

NU sudah melewati usia satu abad. Kontribusi NU kepada NKRI dari masa sebelum kemerdekaan hingga dewasa ini tak dapat diragukan. NU tumbuh menjadi organisasi raksasa bersama Muhammadiyah, keduanya menjadi jangkar umat Islam Indonesia.

Menjawab Tantangan NU

Perjalanan NU ke depan akan banyak tantangan. Tentu saja, Gus Yahya ke depan sudah membaca masa depan NU dan paham akan melakukan apa beserta strateginya.

Melimpahnya intelektual NU, baik itu yang lulusan dalam negeri maupun luar negeri menjadikan NU kini panen SDM. Banyak tokoh NU yang memiliki keahlian beragam. Bila dibandingkan sebelumnya, yang banyak menganggap tokoh NU hanya sebatas kebagian doa saja.

Jalan strategis sudah dibuka Gus Dur. Gus Dur merupakan perwakilan santri yang pernah menjadi presiden dan KH Ma’ruf Amin santri Gus Dur yang saat ini menjabat Wapres.

Tentu tidak hanya jabatan strategis dalam bidang politik dan pemerintahan yang sudah terbuka lebar. Gus Dur juga dahulu sangat dekat dan mau membina anak muda NU. Baik Kiai Said maupun Gus Yahya merupakan sumbangan kader terbaik dari Gus Dur. Hari ini kita semua dapat merasakan buah pengkaderan anak mudar yang dilakukan Gus Dur.

Tentu, kita berharap ke depan dalam penyusunan kepengurusan baru Gus Yahya dan KH Miftachul Akhyar mau memasukan anak-anak muda yang punya keahlian beragam, baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri untuk ikut serta dalam menggerakan NU dan membuat terobosan program kerja yang tepat.

Misalnya dalam hal era tranformasi digital di pesantren, kemandirian ekonomi pesantren, dan pemberdayaan dalam bidang pertanian. Dengan menyelesaikan program tersebut ke depan kebangkitan kaum santri dapat terwujud.

Tanpa kemauan dan kemampuan untuk  mengoptimalkan SDM yang unggul, jalan NU akan bergerak lambat bahkan mundur. Lebih-lebih situasi dan kondisi jaman sudah banyak berubah.

Ke depan NU membutuhkan pengurus yang siap bekerja dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Bukan mereka yang sekadar memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Semoga, Gus Yahya ke depan mau merekut kader-kader terbaik dan mau mengurusi NU.

*Penulis adalah Sekjen BaGusS Nasional dan Alumnus Undar.

Disclaimer: Tulisan opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Barometerjatim.com. Rubrik Opini terbuka untuk umum. Naskah dikirim ke [email protected] Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah substansinya.

» Baca Berita Terkait Nahdlatul Ulama 

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -