Sabtu, 21 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Sekjen PBNU Singgung Etika PWNU Jatim, Gus Luqman Tremas: Masyaallah, Hati-hati Ada Kiai Sepuh!

Berita Terkait

HATI-HATI SOAL ETIKA: Gus Luqman, hati-hati singgung soal etika karena di PWNU Jatim ada kiai sepuh. | Foto: IST
HATI-HATI SOAL ETIKA: Gus Luqman, hati-hati singgung soal etika karena di PWNU Jatim ada kiai sepuh. | Foto: IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tremas Pacitan, KH Luqman Haris Dimyathi angkat suara soal pernyataan Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf alias Gus Ipul yang menyebut langkah PWNU Jatim memobilisasi PCNU untuk menolak kebijakan transisi dan moratorium tidak layak dari sisi etika.

Menurut kiai yang akrab disapa Gus Luqman tersebut, soal transisi dan moratorium memang ranah policy jamiyah dan NU sangat menghormati apa pun keputusan PBNU. Artinya NU wajib menaati struktural, tapi jangan lupa NU juga kulturalnya kuat.

“Artinya begini, ketika bicara tentang etika yang tentu hati-hati dari sisi struktural maupun kultural. Sebab apa, di PWNU Jatim khususnya, kan ada Rais (Syuriyah) Kiai Anwar Manshur, kulturalnya pun juga pengasuh Ponpes Lirboyo dan sesepuh,” katanya pada Barometerjatim.com, Selasa (22/3/2022).

“Alangkah eloknya bila dalam hal yang hubungannya dengan moratorium dan sebagainya itu sebuah policy yang kita hargai. Saya sebagai pribadi sangat menghargai, tapi bila bicara bahasanya ada kata-kata atau kalimat etika ini saya pikir harus hati-hati, siapa pun orangnya,” sambungnya.

Maksudnya Gus Ipul harus hati-hati? “Ya tentu yang di media kan Gus Ipul sebagai Sekjen. Ya mohon Gus Ipul hati-hati karena bicara tentang etika mungkin ada rasa: lho! Ini nurani saya ya, saya tidak bicara tentang apa,” katanya.

Apalagi, sekali lagi, di Jatim ada kiai sepuh. Selain KH Anwar Manshur ada pula Wakil Rais Syuriyah yang juga Pengasuh Ponpes Bumi Sholawat KH Agoes Ali Masyhuri alias Gus Ali. Hal ini bisa memunculkan pola pikir serta penafsiran yang macam-macam di kultural NU.

“Seperti saya sajalah lha ya, masyaallah bicara etika, etika ini kan.. saya ndak nambahi akhlak atau apa karena yang muncul di media itu etika. Ini rasanya ya.. opo yo (apa ya),” katanya.

Jadi rasanya enggak enak ada kiai sepuh di struktural PWNU Jatim tapi disebut tak layak dari sisi etika organisasi?

“Itu saya lho ya, tapi kalau beliau-beliau enak, saya enggak tahu. Saya pribadi merasa enggak enak, enggak nyaman. Ini kiai-kiai sepuh, pengasuh Ponpes besar yang menjadi panutan,” katanya.

Menurut Gus Luqman, justru lebih beretika lagi bila mungkin pendekatannya secara kultural-struktural, bisa dengan sowan terlebih dahulu sama kiai sepuh, tabayyun, dan seterusnya.

“Ini tentu lebih beretika,” tandas kiai yang mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung dari Keraton Surakarta tersebut.

Soal pernyataan Gus Ipul yang menyebut PWNU Jatim tidak tabayyun ke PBNU, Gus Luqman memahami sebagai Sekjen memang harus menegakkan policy dari sisi organisasi. Tapi sebaiknya tabayyun bisa dilakukan dua arah karena di dalamnya ada kiai sepuh.

“Dari sisi umur Pak Sekjen bisa lah sowan gitu kan. Bukan berarti Pak Kiai Anwar sesepuh sowan, itu saya pikir ndak enak juga, ini NU, ndak enak juga. Jadi urusan tabayyun bisa dua arah,” katanya.

“Saya cuma berharap soal kalimat etika dan sebagainya, jangan sampai pemahaman NU yang di bawah salah. Ini penting, karena nuwun sewu lagi-lagi ini kehati-hatian gitu sajalah. Kesimpulannya hati-hati dalam hal komunikasi,” tuntas Gus Luqman.

» Baca berita terkait PWNU Jatim. Baca juga tulisan terukur lainnya Roy Hasibuan.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -