Sebelum Wafat, Kiai Hasyim Ingin Khofifah Maju Pilgub Jatim

WASIAT KIAI HASYIM: Nyai Mutammimah, sampai detik terakhir mau wafat KH Hasyim Muzadi ingin Khofifah maju di Pilgub Jatim 2018. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
WASIAT KIAI HASYIM: Nyai Mutammimah, sampai detik terakhir jelang wafat KH Hasyim Muzadi ingin Khofifah maju di Pilgub Jatim 2018. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sosok almaghfurlah KH Hayim Muzadi tak bisa dilepaskan dari kiprah Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim. Sebab, di dua Pilgub Jatim sebelumnya (2008 dan 2013) mantan ketua umum PBNU dua periode itulah yang menopang penuh perjuangan Khofifah.

“Sampai detik terakhir mau wafat, beliau masih menginginkan Bu Khofifah maju di Pilgub Jatim 2018,” ungkap istri almarhum Kiai Hasyim, Nyai Mutammimah di Jemursari, Surabaya, Minggu (14/1).

Alasan Kiai Hasyim, kata Mutammimah, karena masyarakat Jatim mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) dan hanya Khofifah yang dinilai bisa mendatangkan kesejahteraan untuk Nahdliyin (warga NU).

• Baca: 43 Cabang Muslimat NU se-Jatim Ikrar Menangkan Khofifah

“Tentu saja kesejahteraan ini tidak hanya untuk Nahdliyin tapi seluruh masyarakat Jatim. Kalau masyarakat Jatim sejahtera, otomatis warga NU juga merasakannya,” katanya.

Ketua PC Muslimat NU Kota Malang itu juga optimistis Khofifah akan meraih kemenangan di Pilgub Jatim 2018. Apalagi selama 10 tahun sejak Pilgub Jatim 2008 sudah di-branding Kiai Hasyim.

“Umpama jalan itu tinggal menapakkan kaki. Sekarang tinggal dibuktikan lewat dukungan dan komitmen kita semua agar Bu Khofifah meraih kemenangan,” katanya.

• Baca: Istri Ketum PBNU Ikut Antar Khofifah-Emil Daftar ke KPU

Salah satunya lewat ikrar cabang Muslimat NU se-Jatim untuk lebih memantapkan dukungan. “Sebab, tidak mungkin kita mendukung orang lain sementara Ibu kita maju. Insyaallah warga Muslimat NU sudah paham semuanya,” katanya.

“Secara etika dan moral, tidak etis sebagai warga Muslimat NU tidak mendukung ketua umumnya. Apalagi beliau ini bukan hanya kader dan tokoh Muslimat NU, tapi sekaligus figur nasional yang dimiliki NU yang notabene Muslimat NU,” jelasnya.