Sebelum Maju Lewat PDIP, Dwi Astutik Pamit ke PKB-Gus Ali

PILBUP SIDOARJO: Dwi Astutik, pamit ke PKB dan Gus Ali sebelum maju Pilbup Sidoarjo lewat PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILBUP SIDOARJO: Dwi Astutik, pamit ke PKB dan Gus Ali sebelum maju Pilbup Sidoarjo lewat PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Cawabup Sidoarjo nomor urut tiga, Dwi Astutik menegaskan, seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU) tetap utuh dan bersatu. Soal perbedaan pilihan dalam Pilkada, hal itu dinilainya biasa karena bagian dari proses demokrasi.

Bahkan, sebelum memutuskan pinangan PDIP, perempuan yang juga wakil sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Jatim itu tetap menjaga komunikasi dengan berbagai elemen ‘hijau’, termasuk pamit ke PKB — Parpol yang kelahirannya dibidani NU.

“Jangan dikira Dwi Astitik tidak pamit dulu ke PKB. Saya masih menghargai Gus Halim (Ketua DPW PKB Jatim, Abdul Halim Iskandar), tapi Gus Halim tidak komentar. Saya WA (kirim pesan via WhatsApp),” katanya, Kamis (8/10/2020).

Pesan yang sama, menurut Astutik, juga dikirim ke Wakil Ketua DPC PKB Sidoarjo, Anik Maslachah untuk meminta arahan. Namun jawaban Anik disebutnya tak memberikan solusi, sampai akhirnya menerima pinangan PDIP.

“Jadi mohon, saya itu sebenarnya sudah mengikuti irama, selalu. Saya juga sudah izin, komunikasi dengan pimpinan Muslimat NU,” katanya.

Tak hanya Halim dan Anik, Astutik juga pamit ke sesepuh NU dan PKB yang juga Pengasuh Ponpes Progresif Bumi Sholawat Sidoarjo, KH Ali Agoes Masyhuri alias Gus Ali lewat putranya, Ahmad Muhdlor — Cabup yang diusung PKB.

Pamit dilakukan Astutik, karena semula dirinya tidak ingin berhadapan dengan Gus Muhdlor di Pilbup Sidoarjo 2020. Tapi hingga menerima pinangan PDIP, Astutik belum berkesempatan bertemu Gus Ali.

Namun Astutik menjalani semua proses yang terjadi sebagai jalan untuk ibadah. Dia percaya, pasti akan dituntun oleh Allah Swt dengan sendirinya.

Bahan selama empat hari, Astutik tidak langsung menjawab lamaran PDIP lewat Ketua DPD PDIP Jatim, Kusnadi, tapi memilih meminta pertimbangan terlebih dahulu ke para kiai.

“Jawabannya luar biasa, orang NU itu ada di mana-mana, itu penting. Orang NU harus ada di mana-mana dan harus bergerak. Ini bahasa kiai-kiai, enggak apa-apa,” ujarnya.

Karena itu, Astutik meminta PKB jangan terlalu kasar kalau ada tokoh atau kader yang mendukung dirinya di Pilbup Sidoarjo 2020. Cukup disayangkan jika sampai ada pemecatan dan sebagainya.

“Eman banget jika perlakuan kasar itu diberikan, eman banget. PKB itu lho butuh tokoh-tokoh. Kalau dipecati semua, memang PKB enggak butuh tokoh selamanya,” katanya.

Iki lho mek diluk (Pilkada hanya sebentar), tiga tahun. Jadi tolonglah jangan terlalu kasar, perlu ada kesopansantunan dalam politik,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilbup Sidoarjo