Rabu, 28 September 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Saat Covid-19 Disebut Bukan Pagebluk, Ketua PDNU: Ya Allah!

Berita Terkait

HASILNYA NEGATIF: Dokter Niam saat melakukan tes PCR, selalu memastikan diri negatif dari Covid-19. | Foto: IST
HASILNYA NEGATIF: Dokter Niam saat melakukan tes PCR, selalu memastikan diri negatif dari Covid-19. | Foto: IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU), Dokter Muhammad S Niam hanya bisa berkata lirih saat pandemi Covid-19 disebut bukan pagebluk.

“Ya Allah, mungkin seperti inilah dulunya Kudus dan Bangkalan sebelum meledak kemudian terungkap,” kata Niam, Minggu (25/7/2021).

Kyakinan pandemi Covid-19 bukan pagebluk tersebut, diungkap Niam ketika pembantu di rumah pulang ke desa dalam waktu agak lama.

“Kebetulan ada orang desa lain mau menggantikan sementara. Sebelum ke rumah, saya tes swab antigen ternyata positif dan suaminya malah bergejala,” tuturnya.

Lantaran positif, calon pembantu tersebut akhirnya dipulangkan lagi, dibekali uang jajan, bahan makanan, dan obat-obatan. Niam juga pesan agar melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah, jangan keluar, dan orang-orang yang berhubungan dengannya diminta tes.

Namun Niam berubah terkejut, lantaran calon pembantu tersebut menyebut di desanya tak ada yang percaya dengan Covid-19, tidak ada yang pakai masker. Pun kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan dilakukan seperti biasa, termasuk takziah atau kumpul-kumpul saat pengajian.

Padahal calon pembantu tersebut juga menceritakan kalau di desanya hampir setiap hari ada yang meninggal dunia. Tapi dia berdalih, mereka meninggal bukan karena Covid-19 melainkan pagebluk.

“Oalaaah Yu! Pagebluk itu khan bahasa Jawa, sama dengan wabah penyakit,  penyebabnya virus Corona,” kata Niam tak habis pikir.

Dokter yang juga anggota Endoscopic and Laparoscopic Surgeons of Asia (ELSA) itu lantas membayangkan, mungkin seperti ini dulunya Kudus dan Bangkalan sebelum Covid-19 meledak dan  kemudian terungkap.

Niam yakin tentu kondisi seperti itu terjadi di banyak desa di kota-kota lain. Mereka menyadari ada sesuatu yang mereka yakini sebagai pagebluk, menyebabkan banyak orang sakit dan meninggal.

“Tetapi para tokoh di desanya meyakinkan mereka bahwa itu bukan Corona, sehingga tidak perlu menaati aturan prokes dari pemerintah yang dianggap merepotkan bagi keseharian mereka,” katanya.

Padahal, lanjut Niam, kurang dahsyat apa ledakan kasus Covid-19 di Indonesia. Sangat banyak yang tidak tercatat saja masih menduduki peringkat pertama dunia dalam hal jumlah kasus positif harian.

“Inilah momen Indonesia mengalahkan Brasil walaupun bukan urusan bola. Capaian vaksinasi masih rendah, sementara jumlah kasus tak terdeteksi begitu banyak. Mungkin herd immunity alami yang bakal terjadi, tentu korban akan sangat banyak,” katanya.

Coreng Kepala Daerah

Dulu di awal pandemi, lanjut Niam, setiap ada yang terkonfirmasi positif  pihak rumah sakit atau lab pemeriksa melapor ke Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk dilakukan tracing.

“Rasanya sekarang upaya seperti itu sudah tidak ada lagi paling tidak karena dua hal,” kata Penanggung Jawab Pusat Pelatihan Bedah Endoskopi dan Laparoskopi FKUB/RSSA (Rumah Sakit dr Saiful Anwar) Malang itu.

Pertama, jelas Niam, andai Dinkes mampu melacak semua kontak dan mampu mengungkap setiap kasus, hanya akan menambah jumlah data tersimpan karena laporan riil dapat mencoreng prestasi kepala daerah.

Kedua, andai ketemu ratusan atau ribuan orang terkonfirmasi positif mau diapakan kalau rumah sakit penuh semua? Sedangkan sejawat dokter atau keluarganya yang positif saja, kesulitan mencari tempat perawatan.

Menambah kapasitas rumah sakit dengan kontainer-kontainer di halaman hanya mengurangi persoalan hilir yang tidak akan pernah selesai, jika persoalan hulu terjadinya penyebaran tidak ditangani lebih serius.

“Seperti bila ada kebocoran pipa air, kita hanya sibuk menambah jumlah ember untuk menampung tumpahan air tanpa upaya cukup untuk menutup lubang yang bocor,” katanya.

PPKM Darurat diberlakukan tapi kasus justru semakin meningkat. Harus bagaimana lagi jika partisipasi masyarakat malah menurun, karena semua berada kondisi kelelahan pandemi?” tuntas Niam.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -