Ricuh di Konjen AS, Massa Bela Palestina Segel McDonald’s

LAWAN PRESIDEN AS: Massa peduli Palestina menyegel rumah makan cepat saji asal AS, McDonald's setelah gagal bertemu dengan perwakilan Konjen AS. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
LAWAN PRESIDEN AS: Massa peduli Palestina menyegel rumah makan cepat saji asal AS, McDonald’s setelah gagal bertemu dengan perwakilan Konjen AS. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Aksi peduli Palestina yang digelar ratusan mahasiswa dari berbagai elemen yang menamakan diri Forum Kebangsaan Jawa Timur di depan Konjen Amerika Serikat (AS), Jalan Citra Niaga, Surabaya, Selasa (19/12) sempat diwarnai kericuan antara demonstran dan aparat kepolisian.

Kericuan bermula dari penolakan pihak Konjen AS menemui perwakilan demonstran. lantaran kesal, demonstran lintas agama dan elemen dari GMNI, PMII, PMKRI, GP Ansor, Lesbumi NU, KMHDI, HMI, AMI  dan GMKI itu memaksa masuk gedung yang dijaga ratusan personel dari Polrestabes Surabaya.

Insiden saling dorong pun tak terelakkan yang berujung pengamanan terhadap salah seorang demonstran, namun akhirnya dilepas kembali.

• Baca: Soal Yerusalem, Ketum Muslimat NU: Cabut Keputusan Trump!

Gagal menemui perwakilan Konjen AS, demonstran mengalihkan aksinya ke McDonald’s di Jalan Basuki Rahmad. Di tengah rintik hujan, ratusan aktivis mahasiswa ini menyegel rumah makan cepat saji asal AS tersebut. Para demonstran kemudian menggelar doa bersama untuk Palestina.

Dijelaskan Koordinator Aksi, Zainuddin dari PMII, penyegelan McDonalds’s dilakukan karena aspirasi mereka di Konjen AS tidak didengar dan malah sempat terjadi kericuhan.

“Kami hanya ingin menyampaiakan pernyataan sikap, bahwa Presiden Donald Trump harus mencabut kata-katanya soal ibukota Israel di Yerusalem. Jika tidak Konjen AS harus angkat kaki dari Surabaya,” tegas mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tersebut.

• Baca: Protes Trump, Forum Dai Muda Dukung Langkah Jokowi

Menurut Zainuddin, pengakuan Trump telah melanggar statuta PBB. “Hal ini juga mengakibatkan timbulnya kembali konflik bersenjata di Yerusalem,” kata Jey, sapaan akrabnya.

Sebagai kota suci bagi agama-agama besar dunia, lanjutnya, Yerusalem memiliki ikatan emosional dan spiritual, bukan hanya bagi Israel dan Palestina.

“Tetapi bagi seluruh bangsa di dunia. Maka kami menilai sikap Trump adalah bentuk kesombongan di hadapan bangsa-bangsa di dunia,” tegasnya.