Senin, 23 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Resolusi Jihad Bukan Cerita Ngawur

Berita Terkait

FAKTA SEJARAH: Choirul Anam, Resolusi Jihad bukan dongeng, bukan cerita ngawur, tapi fakta sejarah.

22 Oktober 1945. Sekitar 200 kiai Nahdlatul Ulama (NU) — di antaranya KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Masykur dan KH Zainul Arifin — berkumpul di kantor PCNU Surabaya (dulu HBNU), Jalan Bubutan VI Nomor 2. Mereka duduk bersama, satu suara, mengobarkan Resolusi Jihad: membakar semangat arek-arek Surabaya dan para santri yang tergabung dalam laskar Hizbullah-Sabilillah untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan RI. Puncaknya pertempuran 10 November.

- Advertisement -

PERISTIWA 68 tahun silam itu dikisahkan kembali oleh tokoh NU, Drs H Choirul Anam, Minggu, 24 November 2013. Sayang, perjuangan kiai dan santri nan patriotik tersebut tak pernah tercatat dalam sejarah peristiwa 10 November — sebuah pertempuran paling brutal dalam sejarah mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

“Padahal ini bukan dongeng, bukan cerita ngawur, tapi fakta sejarah. Ada naskah resolusinya, ada yang membacakan, saya juga ketemu dengan pelakunya,” terang Cak Anam, sapaan akrabnya.

“Santri yang menjadi korban tidak sedikit, ribuan, mayat mereka dibawa dengan trem. Bayangkan, ada 500 bom yang dijatuhkan sekutu saat itu. Lalu kenapa tak diakui? Ini harus diluruskan!”

Sebagai bentuk ‘protes sejarah’, Cak Anam beserta tokoh NU dan komponen masyarakat lainnya, saat ini tengah berjuang keras memasukkan Resolusi Jihad menjadi bagian dari peristiwa 10 November, “Agar jasa para kiai dan syuhada tak ditenggelamkan begitu saja.”

Beragam acara pun digelar, mulai saresehan hingga napak tilas. Sebuah upaya untuk menjaga sejarah dan meneruskan perjuangan NU di masa lalu dengan menyodorkan revitalisasi resolusi jihad: demi perbaikan bangsa yang karut marut pasca reformasi.

Cak Anam, selama ini peristiwa 10 November identik dengan pertempuran heroik arek-arek Surabaya yang dimotori Bung Tomo. Dengan munculnya Resolusi Jihad, adakah sejarah yang hendak diluruskan?
Ya. Selama ini orang melihat peristiwa 10 November hanya pertempuran saja. Padahal sebelum pertempuran itu, mulai September 1944 ketika Jepang meresmikan berdirinya Laskar Hizbullah, umat Islam sudah mempersiapkan diri.

Ini pasukan cadangan khusus dan pasukan Hizbullah diminta tidak dikirim ke perang Asia Timur Raya. Alasan kiai-kiai waktu itu kalau sewaktu-waku ingin merdeka kita akan melawan Jepang juga.

Hizbullah angkatan pertama dilatih sendiri oleh Kapten Yanagawa (opsir Jepang) di Cibarusah, Bekasi, selesai pada Mei 1945. Angkatan pertama ini kemudian berkembang, membuat markas-markas di Jawa dan Madura.

Waktu dilatih Jepang, angkatan pertama ada 500 orang, termasuk Zainul Arifin sebagai panglima. Mereka itu anak-anak pesantren dari seluruh Jawa dan Madura. Dilatih selama enam bulan, tidak main-main, tidak sekadar baris berbaris, tapi dilatih dengan cara militer yang benar. Setelah itu pulang dan membentuk simpul-simpul sampai batalyon kedua dibentuk di Kediri. Akhirnya di Jatim terbentuk semua.

Untuk angkatan kedua rencananya dilatih Juli-Agustus 1945. Tapi pada Agustus, Presiden AS Harry Truman menginstruksikan untuk mengebom Heroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (9 Agustus).

Imbasnya, angkatan kedua di Cibarusah mulai goyang. Pasca pengeboman Jepang menjadi tidak semangat. Pelatihan lalu dipindahkan ke Masjid Kauman Jombang, sementara konsentrasi para kiai di Tebuireng. Jadi setelah latihan di Kauman kemudian digembleng di Tebuireng. Ini kenapa napak tilas dimulai dari Tebuireng, jadi ada sejarahnya.

17 Agustus sore, Kiai Wahab Chasbullah dan Wahib Wahab datang ke Jombang memberitahukan bahwa Soekarno telah mengumumkan kemerdekaan. Kiai Wahib ini putra Kiai Wahab tapi dimasukkan ke Peta (Pembela Tanah Air), bukan Hizbullah karena memang bagian dari strategi.

Mendengar kabar itu semua sujud syukur, tapi Mbah Hasyim minta tetap waspada karena Radio Australia menyatakan bahwa Republik Bung Karno tidak akan diakui. NICA dan sekutu akan masuk dan menjajah kembali. Karena itu semua tentara Hizbullah diminta tetap siaga.

Itu yang membuat Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Jihad?
Para kiai berpikir harus ada fatwa untuk bertempur melawan sekutu. Agustus sudah ada fatwa yang dikeluarkan Mbah Hasyim tapi belum resolusi resmi. Jadi semuanya sudah siap di situ untuk pertempuran 10 November.

Resolusi Jihad kemudian diresmikan 22 Oktober, bagaimana ceritanya?
Selain menindaklanjuti fatwa jihad, resolusi itu permintaan NU kepada pemerintah agar ada tuntunan untuk melanjutkan perang fisabilillah. Waktu itu, 22 Oktober 1945, 200 kiai berkumpul di sini (kantor PCNU Surabaya). Mereka di antaranya KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Masykur dan KH Zainul Arifin.

Mereka ini paling berperan. Karena apa? Kiai Wahab itu memimpin Markas Besar Oelama (MBO), kantornya di Waru. Zaman Pak Narto (almarhum Sunarto Sumoprawiro, mantan walikota Surabaya) saya minta agar diurus karena itu petilasan perjuangan ulama. Oleh Pak Narto dibeli, diserahkan ke PCNU dan sekarang markas besar di Waru dipelihara PCNU Surabaya. Itu bukti sejarah masih ada.

Lalu Kiai Masykur, dia panglima Sabilillah di Blimbing, Malang. Sekarang masih ada petilasannya, Masjid Sabilillah. Sementara Zainul Arifin, panglima tentara Hizbullah, Beliau yang mengkoordinir pasukan di Surabaya, Gresik, Mojokerto, Jombang, dan seterusnya.

PERJUANGAN NU: Napak tilas Resolusi Jihad, mengawal fatwa untuk bertempur melawan sekutu.

Lalu apa hubungannya dengan Bung Tomo?
Ikhtiar para kiai dan semangat jihad ini kemudian nyambung dengan Bung Tomo yang saat itu juga melakukan pergerakan. Bung Tomo, selain wartawan media cetak dan radio, dia pejuang tulen. Bahkan saat wartawan sudah membentuk Laskar BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia).

BPRI hanya dimusyawarakan empat orang saja. Tiga orang lainnya yakni Suwarsono, Amiaji dan Hasan Basri. Hasan ini orangnya sarungan, santri, tapi pintar dalam elektro. Dia mencuri peralatan di Perak lalu bikin radio ilegal dan siaran yang di-relay radio ilegal lainnya. Lama-lama radio resmi ikut me-relay dan siaran ini sampai ke luar negeri.

Rupanya Bung Tomo tahu persis kondisi rakyat kalau “revolusi tak bisa ditahan”, meskipun pusat waktu itu hanya memilih berunding, bukan bertempur. Sampai kemudian terjadilah peristiwa 10 November yang bersejarah. Banyak pidato luar biasa lainnya, bukan hanya satu. Yang biasa kita dengan itu kan waktu menghadapi Inggris.

Jadi pertempuran 10 November tidak lahir begitu saja, tapi sudah direncanakan dengan matang oleh para kiai yang nyambung dengan pergerakan Bung Tomo?
Benar. Pertempuran itu tidak lahir begitu saja, ada yang merancang dan semangatnya dipicu lewat Resolusi Jihad. Saat pertempuran, laskar-laskar itu (Hizbullah dan Sabilillah) menjadi bagian di dalamnya. Ketika perobekan bendera di Hotel Yamato, lokasi sudah dikepung arek-arek Surabaya dan laskar Hizbullah. Bung Tomo sendiri tidak ikut merobek, waktu itu dia di kantor Antara, di sebelahnya.

Terus ada penyerbuan ke kamp-kamp Jepang. Mobil tentara Jepang disita, senjata diambil sampai sangkurnya. Direbut semua oleh arek-arek Surabaya bersama para laskar dan Bung Tomo menyaksikan itu semua.

Jenderal Mallaby kan tewas sebelum 10 November, karena waktu itu pertempuran sudah terjadi. Sebelum tewas, Mallaby dan panglima sekutu di Jawa menemui Bung Karno supaya tembak-menembak dihentikan. Semua sepakat, termasuk Gubernur Suryo. Begitu Bung Karno datang tembak-menembak tidak ada lagi.

Tapi ternyata itu hanya akal bulus Inggris. Bung Tomo kan pidatonya begitu: Kita jangan menembak dulu. Sebelum Mallaby ke Jembatan Merah yang di situ memang pusatnya tentara Inggris, ternyata tentara Inggris menyebarkan pamflet melalui pesawat supaya orang-orang di Surabaya menyerahkan senjatanya.

Padahal sudah ada perjanjian kalau semua harus tertib. Di situlah salah paham terjadi, Mallaby sendiri bilang tidak tahu siapa yang menyebarkan famflet. Nah, saat masuk gedung ternyata mobilnya diledakkan dengan granat. Sampai sekarang tidak ketahuan siapa yang meledakkan.

Korban pertempuran di Surabaya mencapai ratusan ribu, karena menurut sejarah dari Belanda, saat itu ada 500 bom yang dijatuhkan. Bisa dibayangkan betapa hancurnya Surabaya.

Mereka yang mati, arek-arek Surabaya, para santri, kemudian dimasukkan trem. Ada yang dibawa ke Jombang, Kediri dan daerah lainnya. Hebatnya, tidak ada orang tua yang menangis melainkan bangga karena putra-putra mereka syahid membela negara.

Itu yang membuat anda menangis saat diperdengarkan pidato Bung Tomo?
Saya lihat pejuang-pejuang dulu tanpa pamrih, menyerahkan jiwa raga untuk kemerdekaan. Tapi kemerdekaan itu sekarang dinikmati orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Jadi menangis saya di situ.

Bung Tomo tahu, ini yang dihadapi tentara dengan senjata modern, dilawan arek-arek Surabaya yang tidak tahu apa-apa, nekat saja. Tapi kemudian dilindungi Tuhan, tiga minggu pertempuran dengan Inggris berlangsung.

Begitu tahu banyak mayat bergelimpangan, tentara Inggris ketakutan luar biasa. Mereka bukan pulang, tapi lari ketakutan karena jika diusut bisa menjadi kejahatan perang.
Nah, saya terharu begitu tulusnya mereka mengorbankan jiwa dan raga, membela negara, untuk anak cucunya supaya tidak ditindas, dijajah. Tapi sekarang kok kayak begini, kemerdekaan dinikmati orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri.

Anda ingin memasukkan Resolusi Jihad menjadi bagian sejarah dari peristiwa 10 November?
Ya, karena faktanya memang begitu. Ini bukan dongeng, tapi fakta sejarah.

Kenapa selama ini fakta sejarah itu tidak pernah muncul?
Tidak muncul karena para politisi nggak ingin ada sejarah yang dipelopori para kiai. Jadi, oleh para politisi, bagian sejarah ini sengaja ditenggelamkan. Padahal, bisa dibilang, NU sudah menyelamatkan negara sejak 1945 sampai sekarang. Mulai zamannya Bung Karno, Pak Harto, itu semua diselamatkan NU supaya negara tidak seperti ini.

Ribuan orang NU rela mati, negara seperti apa yang dibela dan diinginkan waktu itu?
Negara yang berkedaulatan rakyat berdasar Pancasila dan UUD 1945. Bukan negara Islam!  Kapitalis! Apalagi Komunis! Karena itu Pak Harto agak bingung ketika mau membikin asas tunggal Pancasila. Ketika ada yang menentang kalau asas tunggal Pancasila itu musyrik, NU justru menerimanya. Kenapa? Ya karena Resolusi Jihad membela itu.

Situasi itu kemudian didudukkan oleh NU kalau agama jangan disamakan dengan ideologi. Agama itu wad’un ilahiyun, bikinan Tuhan, bahkan rasul pun tak boleh bikin. Tapi kalau ideologi Pancasila, Marxisme, Kapitalisme, Humanisme itu adalah wad’un basyarun, buatan manusia.

Kedudukan agama lebih tinggi. Orang Islam boleh berideologi asal tidak bertentangan dengan Islam. Nah, Pancasila menurut NU Ketuhanan Yang Maha Esa itu tauhid atau boleh dibaca amanu, kita beriman. Sementara sila kedua sampai kelima amanu sholihah. Ini klop dengan Islam, jangan dipertentangkan. Jadi yang kita bela itu nilai-nilai luhur Islam yang dijadikan dasar negara.

Sampai akhirnya kita berjihad mati-matian dan itu jihad beneran. Kalau jihad sekarang, ada bomber masuk masjid lalu ngebom itu bukan jihad. Matinya pun sangit (hangus) bukan syahid. Jihad ini betul-betul muncul saat negara krisis serta ada kemauan dari ulama.

NAPAK TILAS RESOLUSI JIHAD: Muslim boleh berideologi asal tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Apakah saat ini negara yang dibela NU sudah banyak berubah?
Ya. Kedaulatan rakyat itu sekarang tidak ada. Ini yang ngomong Pak Mahfud MD, mantan ketua MK. Kedaulatan rakyat itu hanya lima menit, sementara lima tahun kurang lima menit itu kedaulatan penguasa yang mabuk dan sibuk bagi-bagi kue kekuasan.

Lima menit kedaulatan rakyat itu hanya saat memilih, itupun sekarang katanya “Demokrasi Wani Piro?”. Lihat saja, kalau bapaknya sudah dua periode menjadi walikota atau bupati, giliran anak atau istri yang maju dan jadi. Lucunya lagi, sudah dua kali menjabat bupati atau walikota, malah nyalonkan jadi wakil dan jadi pula. Ini yang sempel (gila) UU-nya atau orangnya yang nggak waras.

Apa penyebab itu semua?
Korupsi. Kalau tidak ada korupsi tidak akan seperti ini sekarang Indonesia, sudah sejahtera. Pak Mitro (Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi Indonesia) pernah bilang, zaman Pak Harto kebocoran APBN hingga 30 persen.

Kalau sekarang APBN Rp 1.000 triliun, 30 persennya berarti Rp 300 triliun, itu yang dikorup. Angka itu kalau untuk menangani orang miskin, selesai. Persoalannya di situ. Berat memang melihat bangsa kalau pemimpinnya masih begitu, korup semua.

Karena itu, kita inginkan agar PBNU mengoreksi lagi Resolusi Jihad. Kalau tidak dikoreksi, bahaya lagi. Bukan karena penjajahan, tapi orang-orang kita sendiri. Apalagi asing kian deras masuk Indonesia. Sekarang bank mana yang nggak asing? Sahamnya coba dilihat, milik asing semua.

Baik. Jadi istilah yang tepat “meluruskan” atau “melengkapi” sejarah?
Meluruskan sejarah.

Saifullah Yusuf (Wagub Jatim) memilih istilah “melengkapi”?
Ya nggak apa-apa kalau dia memilih istilah itu. Yang penting jangan memperingati 10 November hanya melihat pertempurannya saja, tapi harus ada Resolusi Jihad di dalamnya. Sebab ini fakta sejarah, bukan dongeng, bukan cerita ngawur. Resolusinya ada, yang membaca ada, saya juga ketemu pelakunya dan sudah banyak dimuat di koran, kenapa tidak diakui? Korban dari para santri tidak sedikit.

Artinya, terutama bagi warga NU, Resolusi Jihad wajib dimasukkan setiap memperingati peristiwa 10 November?
Boleh jalan sehat, misalnya, tapi fakta sejarah ini tolong dimasukkan ke dalam rangkaian peringatan 10 November untuk setiap tahunnya. Makanya ada pemberian panji Resolusi Jihad dalam acara tadi (Napak Tilas Resolusi Jihad, red).

Anda juga membuat Resolusi Warga NU Jawa Timur, apa maksudnya?
Resolusi Warga NU Jawa Timur itu tentang jihad untuk meluruskan kembali konstitusi negara sesuai khittah 1945.

Mengacu seresehan Resolusi Jihad (22 Oktober 2013 di Gedung Juang 45 Surabaya), semua pihak sepakat mengajak komponen bangsa untuk berjihad mengambalikan Indonesia kepada khittah aslinya. Mengembalikan konstitusi negara kepada jiwa, semangat, paham dan kerangka pikir yang telah dirumuskan para pendiri negara, para pemimpin pejuang kemerdekaan RI saat membentuk negara. Jadi kita semua prihatin karena perjalanan negara seperti ini.

Mengapa resolusi harus dititipkan Try Sutrisno (Ketua Dewan Pembina Gerakan Pemantapan Pancasila) dan KH As’ad Said Ali (Wakil Ketua Umum PBNU)?
Supaya ‘dimasak’ di Jakarta dan ini harapan kita semua. Generasi sekarang yang diinginkan yakni sejahtera, hidup enak, kerja lebih tenang dan berpolitik yang santun, demokratis yang tidak ada transaksi-transaksi. Kita ingin kembali meluruskan negara ini dengan cara NU, yakni konstitusional dan santun.• mdm

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -