Rektor Unusa: New Normal Life Jangan Abaikan Halal-Haram

JAGA PRINSIP: Prof Jazidie, prinsip halal-haram tak bisa ditawar dalam dalam New Normal Life. | Foto: IST
JAGA PRINSIP HALAL-HARAM: Prof Jazidie, prinsip halal-haram tak bisa ditawar dalam dalam New Normal Life. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Seluruh negara di dunia kelimpungan hadapi pandemi Corona (Covid-19). Setiap hari, korban nyawa terus berjatuhan, disusul pasien positif yang terus pula melonjak: 22.271 kasus se-Indonesia.

Di Jatim, data Gugus Tugas Covid-19 mencatat, per Minggu (24/5/2020) jumlah pasien positif mencapi 3.642 kasus. Sementara Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 5682, dan Orang Dalam Pemantauan (OTG) 23.635.

Situasi ini membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat untuk ‘hidup berdamai’ dengan Corona, lalu ramai-ramai memuncul istilah new normal life di tengah Covid-19 yang kian menggurita.

Bagi Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof Achmad Jazidie, dalam situasi pandemi yang tak kunjung selesai mau tidak mau manusia harus mengadaptasikan diri untuk menghadapi era baru.

Meski demikian, Prof Jazidie mengingatkan, terhadap hal-hal yang prinsip seperti halal-haram tidak bisa ditawar-tawar lagi meskipun dengan alasan adaptasi.

“Itu yang mestinya haram lalu dengan alasan tuntutan kedaruratan tiba-tiba halal, bukan seperti itu,” katanya saat dihubungi wartawan di Surabaya, Minggu (24/5/2020).

“Jadi hal yang prinsip, tuntutan agama misalkan, tidak bisa ditawar lagi dengan alasan apapun kecuali keadaan yang memaksa,” tegasnya.

Soal new normal life, lanjut Prof Jazidie, setelah masing-masing individu menyesuaikan diri maka secara otomatis masyarakat ikut terbawa. Seperti hidup yang lebih bersih dan terbiasa menggunakan masker.

“Ini kan terkesan sebenarnya orang tidak gampang percaya dengan orang lain, bahwa sebenarnya new normal ini dalam kaitan dengan Corona. Tapi itu nanti akan dianggap sebagai sebuah kewajaran baru,” ulasnya.

“Jadi harus adaptif, karena manusia sebenarnya adalah makhluk sosial yang adaptif. Sangat adaptif,” imbuhnya.

Manusia Sangat Adpatif

Tuntutan new normal life, papar Prof Jazidie mengharuskan manusia menggunakan bekal adaptasi yang sudah dimiliki dan sebenarnya tidak ada yang sulit, karena tubuh kita dilengkapi dengan suatu sistem.

Dia mencontohkan sistem pengaturan suhu tubuh. Jika masuk ke daerah dingin, sebentar kemudian merasa kedinginan. “Tapi sesaat tubuh ini sudah bisa menyesuaikan dirinya. Jadi by nature tubuh kita ini dilengkapi kemampuan mengadaptasi diri,” jelasnya.

Begitu pula secara kejiwaan atau psikologis. Mekanisme tubuh manusia dilengkapi dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa.

“Psikis juga begitu. Melihat situasi yang berubah seperti ini, maka ada proses dinamika dalam kejiwaan kita dalam pikiran kita kemudian menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan baru,” ucap Prof Jazidie.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona