Refleksi Kemerdekaan ke-72 RI: Berkarya atau Mati

HM FARIDZ AFIF, Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya. | Foto: Dok

HARI INI, tepat 72 tahun usia kemerdekaan Republik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan diproklamirkan secara terbuka oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945.

Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini, tidak diraih dengan mudah, melalui perjuangan, pengorbanan serta air mata. Tak sedikit darah para syuhada tumpah ke bumi pertiwi demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia berbeda dengan kemerdekaan bangsa di belahan dunia lain yang diberikan sebagai hadiah oleh sang pejajah. Kemerdekaan Indonesia itu direbut melalui perjuangan, baik lewat revolusi fisik maupun lewat jalur diplomatik.

• Baca: Bersama Polisi, Ansor Surabaya Musnahkan Narkoba

Karena itu, tak heran muncul slogan “Merdeka atau Mati” yang dikumandangkan para pejuang dan rakyat Indonesia sebagai bentuk totalitas perjuangan merebut kemerdekaan. Lebih baik mati berkalang tanah demi merebut kemerdekaan daripada hidup dijajah oleh bangsa lain.

Sejarah membuktikan, tak mudah menaklukan bangsa ini melalui sebuah pertempuran. Dari sebelum berdirinya republik, banga Portugis, Spanyol dan Belanda yang dikenal sebagai bangsa penakluk, sudah merasakan sengitnya perlawan anak bangsa.

[ctt template=”3″ link=”5eUd9″ via=”no” nofollow=”yes”]”Keberanian para laskar, pejuang dan tentara Indonesia berjuang menjemput maut tak lepas dari peran ulama.”[/ctt]

Bahkan Belanda yang saat itu masuk ke Indonesia dengan bendera kongsi dagang, Verenigde Oost Indische (VOC) harus mengalami kebangkrutan karena banyaknya dana yang dikeluarkan untuk membiayai perang ketimbang keuntungan yang mereka dapati dari komoditas alam negeri ini seperti kopi, teh dan rempah-rempah yang mereka eksploitasi.

Demikian pula pasca republik ini berdiri, tak kurang bangsa Inggris, Australia, Gurkha, Kerajaan Belanda dan Jepang juga merasakan sengitnya perlawanan bangsa ini, sekalipun minim senjata.

Bahkan tentara sekutu pun harus pulang dengan wajah tertunduk karena gagal menaklukkan Kota Surabaya yang sebelumnya mereka targetkan bisa ditaklukkan dalam waktu tiga hari. Tapi alih-alih ditaklukkan, lebih dari tiga minggu Kota Surabaya dibombardir melalui darat, laut dan udara tapi kemenangan tak kunjung mereka raih.

• Baca: Ansor Surabaya Siap Dampingi Korban Penghakiman Massa

Keberanian para laskar, pejuang dan tentara Indonesia berjuang menjemput maut tak lepas dari peran ulama. Para ulama seperti Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Chasbullah yang menjadi patron para pejuang selalu menyerukan kewajiban membela tanah air yang dikenal dengan Resolusi Jihad.

“Hubbul Wathan Minnal Iman” yang artinya Cinta tanah air sebagian daripada iman, menjadi ‘hadist’ yang melecut semangat para pejuang sehingga rela mati demi kemerdekaan. Dengan slogan merdeka atau mati, alhamdulillah, bangsa ini sudah merasakan 72 tahun kemerdekaan, bebas dari belenggu penjajahan.

Persaingan Bebas

Kini, adalah masa mengisi kemerdekaan, karena itu slogan merdeka atau mati harus ditransformasikan menjadi “Berkarya atau Mati”. Sebab, tanpa karya kita akan mati digilas oleh zaman.

Terlebih di era persaingan bebas seperti saat ini. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah berjalan sejak tahun 2015.

Tak ada lagi sekat bagi sesama negara Asean untuk berkarya. Karena itu, bila anak bangsa ini tidak siap bersaing, lambat laun akan mati digilas bangsa lain.

Karena itu, harapan besar ada di pundak generasi muda yang merupakan penerus bangsa ini di masa depan. Pemuda harus berkarya agar tetap hidup. Tidak hanya hidup secara harafiah, secara fisik, tetapi eksis dan menghidupi lingkungan sekitarnya.

Pemuda itu ibarat api dalam obor yang menyala di tengah kegelapan, ia menjadi penerang dan penunjuk arah. Tanpa karya, pemuda hanyalah sebuah obor tanpa api di tengah gelap gulita.

• Baca: Refleksi HAN dan Pergeseran Permainan Tradisional

Berkarya atau Mati, slogan ini tepat dikumandangkan saat ini oleh para pemuda. Tanpa karya, tak ada lagi yang layak diperjuangkan dalam mengisi kemerdekaan.

Dengan berkarya, kita mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan para founding father kepada kita. Dengan karya kita tunjukkan rasa terima kasih kita kepada para pahlawan yang gugur demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Dengan karya, kita buktikan kemerdekaan ini lebih bermakna.

Selamat berkarya kepada sahabatku, para pemuda, kader Gerakan Pemuda Ansor, Banser dan kader-kader muda NU. Mari isi kemerdekaan ini dengan karya nyata. Berkarya atau Mati!

* Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya