Rawat Toleransi, Gus Hans Ajak Aktivis AS-Kanada ke Surabaya

SIMBOL TOLERANSI: Gus Hans dan para aktivisi sosial mancanegera di Taman Pelangi Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SIMBOL TOLERANSI: Gus Hans dan para aktivisi sosial mancanegera di Taman Pelangi Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sejumlah aktivis sosial yang concern di bidang pelayanan masyarakat dari Amerika Serikat (AS) dan Kanada mengunjungi Taman Pelangi di Jalan A Yani, Surabaya, Sabtu (13/7/2019).

Mereka datang ke Kota Pahlawan, selain melakukan kunjungan persahabatan dengan tokoh muda Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans, juga ingin melihat secara langsung bagaimana Jatim — khususnya Surabaya — dalam merawat budaya toleransi.

“Mereka sengaja saya ajak ke Taman Pelangi, karena taman ini menunjukkan simbol bahwa kita akan menjadi indah ketika berbagai warna bisa bersatu,” kata Gus Hans pada Barometerjatim.com.

“Saya jelaskan Taman Pelangi menunjukkan tentang keragaman di Surabaya yang sangat heterogen, yang bisa menerima apapun asalkan tetap menjaga kesatuan NKRI, dan mereka sangat impresif sekali melihat yang ada di sini,” paparnya.

Penggagas Foorball for Peace itu menambahkan, lewat kunjungan persahabatan ini juga akan dibahas apa saja yang bisa dikerjasamakan, terutama untuk kalangan milenial.

“Tadi mereka saya arahkan untuk membuat semacam millennial meeting antara yang dari Surabaya dengan AS, Kanada, serta beberapa negara lainnya,” kata Gus Hans yang namanya meroket di bursa Pilwali Surabaya 2020.

Millennial meeting tersebut, lanjutnya, menjadi semacam ruang untuk berdiskusi, membuka wawasan tentang bagaimana merawat toleransi dan membangun bangsa ini dengan wawasan terbuka.

“Mereka bisa membawa para milenial dari sana untuk berkunjung di sini, atau kita yang bikin program semacam student exchange about social. Tentu, karena saya bukan government ya, mungkin dengan biaya mandiri,” paparnya.

Selain Surabaya, para aktivis mancanegara tersebut juga akan melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang asuhan Gus Hans.

“Kita akan pertemukan dengan para santri dan mahasiswa di sana, karena mereka penasaran tentang konsep bagaimana kita menjaga jiwa toleransi yang ada di Jatim ini,” ucapnya.

Seperti diketahui, Pusat Studi ASEAN (PSA) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) menjadi perhatian aktivis mancanegara, setelah menjadi tuan rumah kegiatan ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC), 28-30 Oktober 2017.

Adakah agenda bertemu dengan Pemkot Surabaya atau Pemkab Jombang? “Tidak, kita lebih ke grass root, ke masyarakat, karena mereka ingin tahu tentang sesuatu yang alami, tidak ada setingan-setingan begitu,” tandas Gus Hans.

Komitmen Gus Hans

TAMAN PELANGI: Gus Hans dan para aktivisi sosial mancanegera rawat toleransi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
TAMAN PELANGI: Gus Hans dan para aktivisi sosial mancanegera rawat toleransi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Sementara Will Archer, salah seorang aktivis sosial asal Virginia, AS, menuturkan, dia datang bersama rombongan karena mengaku peduli dengan keadaan di Indonesia.

“Saya datang pertama kali 11 tahun yang lalu, dan langsung jatuh cinta kepada negara ini,” katanya penuh semangat.

Kedatangannya di Surabaya juga bukan yang pertama. “Hari ini saya membawa sukarelawan dari Kanada dan AS, serta tahun lalu kami datang ke Surabaya ketika kami mendengar ada hal yang menyedihkan (teror bom 13-14 Mei 2018),” katanya.

Archer juga mengaku tergerak dengan semangat Gus Hans yang bergerak di bidang pendidikan, serta mempunyai komitmen tinggi dalam toleransi. “Sebagai suatu komunitas, sangat penting kita dapat bekerja sama,” katanya.

“Di komunitas saya berasal (Virginia) kami menjunjung tinggi sebuah komitmen, tidak hanya secara teori tetapi juga tindakan nyata,” tandasnya.

Selain sangat bersyukur melihat komitmen Gus Hans, Archer berharap di masa depan akan banyak generasi muda yang menaruh perhatian terkait kondisi di Surabaya dan melakukan hal-hal hebat untuk komunitas yang ada.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Gus Hans