Ratusan Seniman Ludruk Jatim ‘Nglumpuk’ Bareng Khofifah

PENTAS BUDAYA HKSN: Mensos Khofifah Indar Parawansa didampingi Kadinsos Jatim, Sukesi (kiri) dan Stafsus Mensos, Prof Mas'ud Said (kanan) menyaksikan ludruk Kirun dkk dalam rangka HKSN 2017. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
PENTAS BUDAYA HKSN: Mensos Khofifah Indar Parawansa didampingi Kadinsos Jatim, Sukesi (kiri) dan Stafsus Mensos, Prof Mas’ud Said (kanan) menyaksikan ludruk Kirun dkk dalam rangka HKSN 2017. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ratusan seniman ludruk Jawa Timur ‘nglumpuk’ bareng Mensos Khofifah Indar Parawansa di Lapangan Parkir Grand City, Surabaya, Rabu (20/12) malam.

Mereka berkumpul untuk menghadiri Malam Pentas Budaya lewat pertunjukan “Ludruk Nglumpuk” bersama Kirun dkk dengan lakon Mutiara dari Timur yang merupakan rangkaian peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2017.

Seperti biasa, Kirun dkk cukup piawai ‘mengocok perut’ penonton — tak terkecuali Khofifah — lewat banyolan pantun berbahasa Jawa atau lebih dikenal dengan istilah “jula-juli”.

• Baca: HKSN, Mensos Sulut Semangat Kesetiakawanan Sosial

Meski ‘mbanyol abiz’, Kirun dkk tetap menyelipkan pesan moral dan sosial, untuk menyadarkan penonton tentang arti penting manusia sebagai bagian dari sebuah bangsa yang harus mampu hidup rukun dan harmoni dengan sekitarnya.

“Tolong-menolong, gotong royong dan toleransi itu adalah ciri khas bangsa kita. Jangan sampai kekuatan ini memudar,” ujar pelawak asal Madiun tersebut.

Dorong Estetik Heroik

AKSI KIRUN DKK: Kirun dkk mengocok perut penonton lewat "jula-juli" saat ngeludruk dalam rangka peringatan HKSN 207. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
AKSI KIRUN DKK: Kirun dkk mengocok perut penonton lewat “jula-juli” saat ngeludruk dalam rangka peringatan HKSN 207. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Sementara Khofifah yang menyaksikan pertunjukan hingga lewat tengah malam menuturkan, di pengujung 2017 ini Kemensos mencoba mencari format bangunan keserasian sosial melalui produk seni budaya.

Hal itu ditampakkan dalam peringatan Hari Pahlawan dan dilanjutkan dalam HKSN dengan mendorong upaya penguatan nasionalisme melalui seni budaya yang disebut Khofifah sebagai “estetik heroik”.

Menurut Khofifah, produk seni budaya bangsa Indonesia terbukti ampuh untuk mempererat dan menguatkan persatuan warga negara yang terdiri dari beragam suku, bahasa, adat istiadat dan agama.

• Baca: Yang Muda, Yang Berebut Selfie dan Idolakan Khofifah

“Seni budaya adalah sesuatu yang boarderless. Sesuatu yang tidak mengenal sekat-sekat. Kita bisa melebur bersama dengan indah dalam bingkai seni dan budaya, seperti saat menyaksikan kesenian khas Jawa Timur yakni ludruk,” paparnya.

Dikatakan Mensos, keberagaman merupakan fakta empirik di tatanan masyarakat Indonesia. Tercatat ada sekitar 714 suku dan budaya dan lebih 200 jenis bahasa daerah, serta ratusan adat budaya tersebar.

Karena itu, HKSN 2017 mengusung tema kesetiakawanan sebagai perekat keberagaman. Hal ini mengandung pula makna bahwa keberagaman bangsa Indonesia dapat dirajut menjadi sebuah persatuan melalui semangat dan langkah nyata kesetiakawanan sosial.