Rahasia ‘Jalan Cepat’ Khofifah: Pakai Sepatu Buatan Sidoarjo

MADE IN TANGGULANGIN: Mensos Khofifah Indar Parawansa menunjukkan sepatu yang dipakainya buatan perajin Tanggulangin, Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Meski seorang menteri, jangan bayangkan kalau busana maupun aksesoris yang dipakai Khofifah Indar Parawansa bermerek terkenal dan mahal. Sepatu, misalnya, ternyata yang dipakai selama ini buatan perajin Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Kok?

Ya, sepatu jenis wedges — hak atau sol tebal merata setinggi lima sentimeter — berwarna hitam dengan model sederhana, terlihat selalu menemani Khofifah yang dikenal dengan cara berjalan yang cepat saat blusukan di berbagai daerah.

“Oh, itu rahasia cara berjalan Bu Menteri yang cepat, ternyata beliau pakai sepatu buatan Tanggulangin,” seloroh salah seorang jamaah sambil tersenyum bangga.

• Baca: Tak Lupa Akar NU, Mensos Hadiri Istighotsah Kubro

Ikhwal rahasia ‘sepatu murah’ tersebut terungkap di sela Khofifah memberikan ceramah pada peringatan Harlah ke-71 Muslimat NU yang dirangkai dengan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw yang digelar PC Muslimat NU Sidoarjo di Gedung Serbaguna GOR Delta, Minggu (23/4).

“Ibu-ibu, saya punya sepatu ini, ngapunten (mohon maaf), mereknya sama dengan sepatunya Pak Bupati (Saiful Ilah). Bikinan Tanggulangin,” kata Khofifah sambil menunjukkan sepasang sepatunya yang disambut senyum sekitar 10 ribu warga Muslimat NU yang hadir.

Pesan yang ingin disampaikan Khofifah, selain mencintai produk lokal, juga menegaskan kalau Tanggulangin gudangnya ekonomi kreatif. Apalagi kepedulian dan keberpihakan bupati terkait inovasi, produksi hingga pemasarannya sangat tinggi.

“Saya ingin ini (ekonomi kreatif) menular ke bidang usahanya Muslimat NU, mudah-mudahan koperasi An-Nisa tambah maju. Saya berharap koperasi An-Nisa betul-betul bisa menjadi pintu masuk bagi peningkatan kesejahteraan warga Muslimat NU,” katanya.

TELADAN PEMIMPIN: Sepanjang memberikan ceramah, Khofifah melepas sepatunya karena panggung beralas karpet sekaligus untuk menghormati tuan rumah dan para kiai. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

Sementara terkait pemaknaan isra’ dan mi’raj, menurut Khofifah, Allah telah mengajarkan kepada kita bagaimana Nabi Muhammad Saw di-isra’-kan dengan minal Masjidil Haram ilal Masjidil A’qsa. “Maka kegiatan Muslimat NU, saya mohon kita mulai minal masjid ilal masjid,” pintanya.

Khofifah juga berharap di setiap masjid terbangun pesan damai dan kasih, karena hal tersebut merupakan substansi dari ukhuwah islamiyah atau persaudaraan antarumat Islam.

• Baca: Dibonceng Ajudan, Mensos Naik Motor Tembus Kemacetan

Perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap organisasi massa atau kelompok, hendaknya dilihat sebagai sebuah rahmat. Maka perbedaan harus berjalan dalam koridor berlomba menuju kebaikan, jangan sampai membawa perpecahan.

“Karena masjid adalah rumah Allah maka mari kita jaga bersama. Jangan sampai muncul pertentangan dan perbedaan yang akhirnya menjadikan friksi-friksi keumatan, kebangsaan, persatuan serta persaudaraan.”

“Jangan sampai ketika seseorang melangkah keluar dari masjid setelah shalat Jumat atau tarawih malah bimbang dan tidak tercerahkan,” tambahnya.