Quick Count Tak Lazim, Jubir Eri-Armuji Sindir Etika Poltracking!

PILWALI SURABAYA: Quick count Poltracking menunjukkan Machfud-Mujiaman meraup 60,7% saat data masuk 62,4%. | Foto: IST
PILWALI SURABAYA: Quick count Poltracking menunjukkan Machfud-Mujiaman meraup 60,7% saat data masuk 62,4%. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Juru Bicara Tim Pemenangan Eri Cahyadi-Armuji, Aprizaldi menyindir keras etika dan kredibilitas Poltracking Indonesia, lembaga survei yang kerap memenangkan pasangan Machfud Arifin-Mujiaman di Pilwali Surabaya 2020.

Etika dan kredibilitas mana yang diterjang Poltracking? Aprizaldi membeber, dalam penghitungan cepat Poltracking mencoba memainkan persepsi publik dengan menyajikan data ‘menyesatkan’.

Dia lantas menunjukkan tangkapan layar siaran langsung salah satu televisi swasta nasional. Dalam tangkapan layar tersebut, hasil quick count Poltracking menunjukkan Machfud-Mujiaman meraup 60,7 persen, sedangkan Eri-Armuji 39,3 persen dengan data masuk 62,4 persen.

Tapi kemudian data berubah menjadi 57,41 persen untuk Eri-Armuji, sedangkan Machfud-Mujiaman 42,59 persen ketika data masuk 96 persen.

“Penyajian data ini tidak lazim. Ketika data masuk sudah 62 persen, Pak Machfud menang jauh hingga 60 persen. Tapi begitu data masuk 90 persen, posisi suara berubah drastis 180 derajat,” kata Aprizaldi.

“Kami tidak tahu ada permainan apa, tapi yang jelas tren data itu jauh dari kelaziman statistik, karena lazimnya ketika data masuk lebih dari 60 persen, harusnya sudah mulai stabil,” tandasnya.

Mainkan Persepsi Publik

TAK LAZIM: Aprizaldi, tren data quick count Poltracking di Pilwali Surabaya tak lazim. | Foto: Barometerjatim.com/IST
TAK LAZIM: Aprizaldi, tren data quick count Poltracking di Pilwali Surabaya tak lazim. | Foto: Barometerjatim.com/IST

Selain itu, Aprizaldi menilai sepanjang Pilwali Surabaya 2020, Poltracking menunjukkan perbedaan signifikan dibanding lembaga survei lain.

Bahkan, dalam surveinya yang digelar pada 19-23 Oktober 2020, Poltracking memenangkan Machfud-Mujiaman dengan selisih 17,6 persen di saat mayoritas lembaga survei lainnya mengunggulkan Eri-Cahyadi degan selisih di kisaran 11 persen.

“Kalau soal survei beda, mungkin tidak ada problem berarti. Tapi ketika quick count ada ketidaklaziman, tentu publik bertanya-tanya,” kata Aprizaldi.

“Semoga itu hanya soal kesalahan input data, atau hanya kesalahan teknis teknologi informasinya, bukan karena ada keinginan memainkan persepsi publik,” sindirnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya