Selasa, 29 November 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Promotor Budaya Panji, Dunia Baru Prof Wardiman

Berita Terkait

INGATAN DUNIA: Prof Wardiman, menjadi promotor untuk mengajukan budaya panji Indonesia ke dalam ingatan dunia atau Memory of the world (MoW). | Foto: Ist

Lama tak terdengar kabarnya selepas menjabat Menteri Pendidikan Nasional, kini Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro sedang berkutat dengan ‘dunia baru’. Apa itu?

- Advertisement -

PEKAN lalu, 17 Juli 2017, Wardiman hadir di forum Sarasehan Revitalisasi Kesenian Berbasis Sastra Panji yang digelar Pemerintah Kabupaten Kediri.

Rupanya, inilah dunia baru Wardiman, “Menjadi promotor untuk mengajukan Budaya Panji Indonesia ke dalam ingatan dunia atau Memory of the World (MoW),” akunya.

Diakui Wardiman, untuk menjadi promotor yang dianggapnya tanpa sengaja itu berawal dari perbincangan bersama beberapa teman dalam satu forum ‘biasa-biasa’ saja.

Obrolan berlanjut pada keseriusan membawa sesuatu kekayaan Indonesia ke organisasi di bawah naungan PBB yang membidangi pendidikan dan kebudayaan (UNESCO). “Kata teman saya itu yang membawa ke UNESCO harusnya orang yang sudah terkenal. Kamu saja, kata teman saya itu,” kenang Wardiman.

Putra Madura itu pun bersemangat. Dia mengakui bahkan tidak tahu menahu sedikitpun mengenai cerita Panji. “Saya belajar benar-benar belajar dari nol,” kata ketua Yayasan Putri Indonesia itu sembari tersenyum.

• Baca: Dimas Kanjeng, Pria dengan Sembilan Perkara

Mulailah dia belajar. Segala sumber yang berkaitan dengan ihwal cerita Panji dicari, diburu lalu dipelajari. Sebanyak dua disertasi orang Indonesia, satu disertasi dari Thailand dan satu disertasi dari Malaysia menjadi bahan penting dalam proses pembelajarannya. Demi menyusun naskah usulan nominasi yang akan diusung ke UNESCO.

Merasa belum cukup, pria kelahiran Pamekasan, 22 Juni, 84 tahun silam tersebut menambah khazanah pengetahuan hingga Leiden, Belanda. “Saat itu, saya merasa beruntung menguasai bahasa Belanda,” tambahnya.

Setelah itu, proses persiapan pengajuan MoW dimulai dengan penyelenggaraan seminar Panji pada November 2014. Saat itu, dilakukan diskusi sampai dimana naskah cerita panji bisa dinominasikan.

• Baca: Sosok Anak Petani Lamongan Penerima Adhi Makayasa 2017

Langkah berikutnya adalah penyusunan formulir nominasi dan lampirannya. Lampiran meliputi katalog dan bibliografi atau daftar pustaka. Saat itu, keputusan yang harus diambil adalah apakah satu naskah Panji yang akan diajukan seperti lazimnya di MoW.

“Tapi karena naskah Panji tidak mencatat nama pengarang juga tahun penerbitannya, sehingga tidak dapat ditentukan naskah representatif yang dapat memenuhi kriteria MoW,” katanya.

“Akhirnya diputuskan untuk mengajukan semua naskah yang ada dalam koleksi perpustakaan nasional yaitu 76 buah. Pada 1 April 2016 naskah usulan 200 halaman dikirimkan ke sekretariat MoW.”

Perkembangan Menakjubkan

INSPIRASI BUDAYA PANJI: Cerita Panji menjadi inspirator ungkapan seni lain. Mulai dari wayang, tari maupun topeng. | Foto: Ist

Bagi alumnus Universitas Teknik di Aachen, Jerman tersebut, naskah cerita Panji berikut perkembangannya amat menakjubkan. Di antaranya menjadi inspirator ungkapan seni lain. Mulai dari wayang, tari maupun topeng.

“Yang mengagumkan adalah penyebaran luar Jawa Timur, sampai di Pulau Bali, Lombok, Sulawesi Selata, Kalimantan dan Sumatera. Di daerah Bali, dinamakan malat,” tambahnya.

• Baca: Moechtar, ‘Begawan’ Sastra Jawa itu Berpulang

Pada abad 19, cerita Wardiman, dibawa pedagang menyeberang ke Malaysia dan Vietnam, Kamboja, Myanmar hingga Thailand. Di Malaysia, berubah nama menjadi Hikayat. Di Kamboja, Eynao. Sementara di Thailand menjadi Inau. Semuanya adaptasi dari Inu.

“Keputusan dari MoW UNESCO akan diumumkan pada Oktober 2017 ini,” ucapnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -