Power ‘Tak Terkontrol’ Risma Bumerang bagi Gus Ipul-Puti

SOWAN KE KHOFIFAH: Jelang Pilwali Surabaya, Tri Rismaharini bersama Whisnu Sakti Buana saat sowan ke kediaman Khofifah di Jemursari, Surabaya, 14 Oktober 2015. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
SOWAN KE KHOFIFAH: Jelang Pilwali Surabaya, Tri Rismaharini bersama Whisnu Sakti Buana saat sowan ke kediaman Khofifah di Jemursari, Surabaya, 14 Oktober 2015. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pilgub Jatim 2018 menjadi pertaruhan dari The Battle of Prestige antara Saifullah Yusuf (Gus Ipul) versus Khofifah Indar Parawansa. Namun belakangan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) terlihat lebih dominan melampaui Cagub yang didukungnya.

Bahkan Risma yang didukung penuh Khofifah di Pilwali Surabaya 2015, secara ‘menggebu-gebu’ menyerang Khofifah dengan kata “keminter” alias sok pintar.

Tak berhenti di situ, wali kota yang dikenal temperamental itu juga meminta paslon nomor satu agar tidak meniru pendidikan gratis yang digagas Gus Ipul-Puti. Padahal, sejak awal, Khofifah-Emil mengusung program tak sekadar pendidikan gratis tapi juga berkualitas alias “TisTas”.

• Baca: ‘Serang’ Khofifah, Muslimat NU Sebut Risma Kurang Adab

Menurut Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman, sebetulnya Risma hanya diperlukan untuk mendongkrak suara bagi Gus Ipul-Puti yang didukung PDIP, tempat Risma berpartai.

“Hanya saja, kalau power tersebut tidak di dikontrol dengan baik, malah bisa jadi bumerang bagi calon yang didukung,” nilai pengamat yang akrab disapa Angga tersebut kepada wartawan, Sabtu (23/6).

Airlangga menandaskan, pernyataan menggebu-gebu dan dominasi Risma belum tentu bermanfaat bagi Gus Ipul-Puti. Sebaliknya, malah menjadi kontraproduktif karena seakan-akan Risma berhadapan langsung dengan Khofifah. Padahal Risma bukanlah Cagub yang sedang berlaga.

• Baca: Dulu Minta Dukungan, Kini Risma ‘Lukai’ Khofifah dan Muslimat NU

“Kita harus ingat yang bertarung di Pilgub Jatim ini Gus Ipul melawan Khofifah, bukan Risma versus Khofifah,” jelas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unair tersebut.

Sebab, tegas Airlangga, siapapun yang terpilih nanti, Risma tetap menjadi wali kota Surabaya. “Artinya yang kita ingin saksikan adalah bagaimana antara Khofifah dan Gus Ipul saling beradu argumen dan program, bukan antara Khofifah dan Risma,” imbuhnya.

Apa yang dilakukan Risma, tambah Airlangga, menjadi efektif ketika dia menjadi Cagub Jatim. Namun kenyataannya Risma dari awal memilih tidak maju dengan berbagai alasan.

JURKAM GUS IPUL-PUTI: Tri Rismaharini menjadi salah satu juru kampanye Saifullah Yusuf-Puti Guntur di Lapangan Gulun, Kota Madiun, Kamis (21/6). | Foto: Ist
JURKAM GUS IPUL-PUTI: Tri Rismaharini menjadi salah satu juru kampanye Saifullah Yusuf-Puti Guntur di Lapangan Gulun, Kota Madiun, Kamis (21/6). | Foto: Ist

“Kenapa waktu dulu mau dicalonkan PDIP untuk menjadi kandidat Cagub, Bu Risma tidak mau. Kalau maju, barulah bisa menggunakan cara-cara seperti itu,” terangnya.

Ditambahkan Airlangga, gerakan Risma dengan cara yang terlalu menggebu-gebu yang puncaknya cenderung menyerang Khofifah menjadi tidak berdampak besar untuk mendulang suara Gus Ipul-Puti.

• Baca: Bawa Nama Jokowi, Pengamat: PDIP Tak Pede Gus Ipul-Puti

Ini bisa dilihat dari survei terakhir suara di Surabaya antara Khofifah dan Gus Ipul yang imbang. Hasil survei Lembaga Saiful Mujani Research Centre yang dirilis Jumat (22/6) menunjukkan, di Kota Surabaya Khofifah-Emil dan Gus Ipul-Puti sama-sama meraih 45 persen suara.

Padahal di Pilwali Surabaya 2015 lalu Risma mengantongi 86 persen lebih suara. Artinya, “Cara yang dilakukan Bu Risma ini tidak terlalu signifikan berdampak pada tingkat keterpilihan Gus Ipul,” sebutnya.