Sabtu, 21 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Positif Covid-19 Naik Jadi 587, Surabaya dalam Bayang-bayang Status PPKM Level 2

Berita Terkait

NAIK: Per 2 Februari 2022 pukul 15.00 WIB, kasus Covid-19 di Surabaya 587 orang. | Data: Lawan Covid
KASUS COVID-19 NAIK: Per 2 Februari 2022 pukul 15.00 WIB, kasus Covid-19 di Surabaya 587 orang. | Data: Lawan Covid
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kasus Covid-19 di Surabaya terus bertambah. Merujuk data di lawancovid-19.surabaya.go.id per 2 Februari 2022 pukul 15.00 WIB, total ada 587 warga yang terpapar.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengingatkan, jumlah tersebut akan terus merangkak jika tidak dilakukan mitigasi secepat mungkin dan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) terancam naik ke level 2.

“Saat ini kita masih berada di angka 16,4 persen jumlah kasus positifnya. Jika menginjak angka 20 persen per 100 ribu penduduk, maka bisa jadi daerah atau kota tersebut meningkat menjadi level 2. Untuk saat ini Surabaya berstatus level 1, artinya masih di bawah 20 persen,” kata Eri, Rabu (2/2/2022).

Agar Surabaya bertahan di Level 1, Eri membuat sejumlah langkah tegas. Di antaranya menerapkan disiplin protokol kesehatan (prokes) dan menggerakkan swab hunter keliling setiap hari. Bukan itu saja, dia mengimbau setiap kampung untuk melakukan blocking area.

Selain blocking area di perkampungan, Eri meminta jajarannya menerapkan pembatasan Rekreasi Hiburan Umum (RHU), taman, hingga alun-alun dan tempat yang berpotensi menyebabkan kerumunan lainnya. Pemilik usaha lainnya juga diminta turut serta berkontribusi dalam penerapan prokes ketat.

“Gerakkan lagi Kampung Wani kita, lakukan swab massal di RT/RW, vaksin tidak boleh berhenti dan saya nyuwun (minta) tolong prokesnya, pakai masker. Jangan sampai merugikan orang lain dan kita harus saling menjaga,” kata Eri.

”Kita akan patroli, misal ada RHU atau pelaku usaha seperti warkop, restoran dan lain sebagainya yang tidak menerapkan prokes, maka akan dikenakan sanksi. Sanksinya apa? berupa penutupan dalam kurun waktu tertentu,” tegasnya.

Eri menambahkan, dari hasil diskusinya dengan pakar Biostatistika Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Dr Windhu Purnomo beberapa waktu lalu, bahwa saat ini 90 persen virus yang menyebar varian Omicron dan untuk varian Delta sudah tidak lagi menjadi ancaman serius.

“Jadi jangan tanya ini Omicron atau bukan Omicron. Ini sudah Omicron semua, karena penyebarannya lima kali lebih cepat ketimbang varian terdahulunya. Saya mohon, warga Surabaya jangan lengah, kalau kita lengah, yang terkonfirmasi semakin banyak. Kalau banyak, bisa-bisa naik ke level 2,” tuturnya.

Perekonomian Tetap Jalan

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Agus Hebi Djuniantoro telah mengeluarkan surat edaran penutupan delapan taman untuk kegiatan rekreasi. “Kalau untuk kegiatan edukasi tetap kami izinkan buka. Kapan bukanya? Kita lihat dahulu perkembangan Omicron,” kata Hebi.

Begitu pula dengan Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (DKKORP) Wiwiek Widayati yang menginstruksikan pembatasan kunjungan di Alun-Alun Surabaya. Pembatasan ini berlaku di seluruh area alun-alun, mulai dari basement dan seluruh area di halaman Balai Pemuda.

Lantas, bagaimana dengan nasib Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di Alun-Alun Surabaya? Wiwiek menambahkan, untuk UMKM tetap berjalan seperti biasa. Karena menurutnya roda perekonomian harus tetap berjalan, meskipun terjadi pembatasan.

“Setelah diasesmen Satgas Covid-19, maksimal kunjungan 500-600 orang per hari di seluruh area alun-alun. Begitu dengan hiburan di dalam basement juga kita berhentikan sementara, seperti grup kesenian dan lain sebagainya. Sampai kapan diberlakukan pembatasan? Kita lihat terlebih dahulu perkembangan Omicron di Surabaya,” tandasnya.

» Baca berita terkait Covid-19. Baca juga tulisan terukur lainnya Moch Andriansyah.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -