PON Papua, Atlet IPSI Surabaya Siap Persembahkan 3 Emas

MOTIVASI ATLET: Bambang Haryo, motivasi atlet pencak silat Surabaya sebelum bertolak ke PON XX Papua. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
MOTIVASI ATLET: Bambang Haryo, motivasi atlet pencak silat Surabaya sebelum bertolak ke PON XX Papua. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Empat atlet pencak silat Surabaya segera bertolak ke Papua, 30 September mendatang. Mereka akan bertarung di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX, 2 hingga 15 Oktober 2021.

Keempat atlet tersebut, yakni Amri Rusdana dari Persinas Asad yang akan berlaga di Kelas F Putra, Sarah Tria Monita (Sawunggaling/Kelas E Putri, Luthfi Athallah (Tapak Suci/Seni Regu Putra) dan Nizam Umarushalih (Tapak Suci/Seni Regu Putra).

Sebelum bergabung dengan kontingen Jatim, mereka terlebih dahulu dibekali motivasi dari para pengurus dan pelatih dalam sebuah perjamuan makan di salah satu restoran di Kawasan Gubeng Surabaya, Rabu (22/9/2021) malam.

Turut hadir dalam jamuan tersebut, yakni Ketua Pengurus Kota (Pengkot) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Surabaya, Bambang Haryo Soekartono (BHS), pelatih senior Karyono (Perisai Diri), pelatih Momon Ageng (Perisai Diri), pelatih Hamdani (Tapak Suci), dan pelatih Randhika Asiani (Tapak Suci).

“Jadi kita ada empat atlet yang ikut di dalam kontingen Jatim. (Acara) ini melepas atlet Surabaya yang ikut kontingen Jatim, yang persiapannya luar biasa. Ini (dari empat atlet) ada dua yang juara dunia dari Surabaya,” kata BHS.

Melihat kesiapan para atlet, BHS optimistis Surabaya bisa menyumbang tiga medali emas untuk Jatim. “Kita punya terget bisa minimal dua emas, maksimal tiga emas. Jadi kita sebet semua, insyaallah untuk tiga emas,” katanya.

Di PON XX, lanjut BHS, ada 16 atlet pencak silat Jatim yang akan mengikuti 13 dari 19 nomor yang dipertandingkan. Enam nomor gugur saat pra-PON.

“Moga-moga ini bisa memperkuat Jatim secara maksimal. Terget Jatim kan empat emas, tapi dari Surabaya saja insyaallah bisa tiga emas. Jadi kayaknya tiga emas atau terget KONI empat emas bisa tercapai,” katanya.

Tinggal Finishing Touch

TIGA EMAS: Bambang Haryo, pesilat Surabaya siap persembahkan 3 medali emas untuk Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
TIGA EMAS: Bambang Haryo, pesilat Surabaya siap persembahkan 3 medali emas untuk Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Sementara itu pelatih pencak silat Pengurus Provinsi (Pengprov) IPSI Jatim, Karyono menuturkan soal persiapan secara fisik, teknik, maupun strategi sudah berlangsung lama.

“Kita berlatih dua tahun. Karena (pelaksanaan PON XX) mundur satu tahun, (berlatihnya) sampai tiga tahun. Jadi pada saat mau berangkat ini kita sudah tinggal finishing touch saja, tinggal memelihara kondisi fisiknya,” ungkapnya.

Terlebih, lanjut Karyono, dari tes bulanan yang dilakukan KONI, mulai tes kesehatan, fisik, maupun teknik silat, hasilnya cukup membanggakan.

“Tinggal nanti di Papua kita tunggu ridhanya sajalah. Supaya harapan-harapan yang disampaikan bapak ketua Pengkot Surabaya tadi ataupun pengurusnya, kita pun juga demikian sama atlet, itu bisa terlaksana,” katanya.

Soal calon lawan terberat, Karyono menyebut kekuatan atlet pencak silat di Nusantara hampir semua merata, tapi konsentrasinya memang masih di Jawa. Petanya yakni DKI, Jateng, Jabar, dan Jatim.

“Yogyakarta ini baru muncul juga. Biasanya cuma lolos satu dua, ini sekarang bisa lolos banyak sekali, makanya hampir merata. Jawa masih menjadi barometer pencak silat,” ujarnya.

Terkait prestasi di PON, kata Karyono, mulai 2004, 2008, dan 2016 pencak silat Jatim mampu bertengger sebagai juara umum. Namun raihan medali emas terbanyak (lima) terjadi saat PON Palembang.

Improvisasi Jadi Wajib

DARI KIRI: Aji Nur Sudarusman, Bambang Haryo, dan Karyono, berjuang demi medali emas Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
DARI KIRI: Aji Nur Sudarusman, Bambang Haryo, dan Karyono, berjuang demi medali emas Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Pengurus Harian Pengkot IPSI Surabaya, Aji Nur Sudarusman menambahkan, selain teknik dan fisik, pembekalan aspek psikologi juga memiliki peran penting bagi pesilat, termasuk muatan spiritual.

“Kita selalu membekali, ini situasi baru, kamu jadi atlet pada kondisi yang baru, semuanya baru. Jadi harus benar-benar sebuah kreativitas dan perencanaan kalkulatif itu bukan sebuah pilihan, tetapi sebuah kebutuhan bagi mereka,” paparnya.

Artinya, improvisasi dan sebagainya yang di masa lalu tidak begitu atau hanya sesekali dibutuhkan, sekarang berubah menjadi wajib.

“Situasi di sana seperti apa, dan dia harus langsung mengeksplore apa yang diinginkan. Saya rasa pelatih juga sudah memahami itu,” kata Aji Nur.

“Kita sudah sampaikan berulang kali, (dalam situasi) Covid-19, PON ini harus kita hadapi dengan cara kerja-kerja yang kreatif dan inovatif,” tandasnya.

» Baca Berita Terkait Jawa Timur