Pola Kelana-Astutik Raih Suara Mirip Khofifah, Seperti Apa?

PILBUP SIDOARJO: Peresmian Posko Tim Barokah Berkelas (Bersama Kelana-Astuti). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILBUP SIDOARJO: Peresmian Posko Tim Barokah Berkelas (Bersama Kelana-Astuti). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Menyandang status mayoritas, suara warga Nahadlatul Ulama (NU) alias Nahdliyin, bakal menjadi perebutan sengit pasangan yang berkontestasi di Pilbup Sidoarjo 2020.

Terutama pasangan calon nomor urut dua yang diusung PKB, Ahmad Muhdlor-Subandi dan Kelana Aprilianto-Dwi Astutik (nomor urut tiga, diusung PDIP dan PAN) yang sama-sama berlatar belakang ‘hijau’.

Lantas, pola apa yang akan dimainkan untuk merebut irisan suara Nahdliyin?

“Kata Bu Dwi Astutik itu menyeseri dan menyisiri,” terang Ketua Tim Barokah Berkelas (Bersama Kelana-Astutik), Nur Kholisoh usai pembukaan posko pemenangan di Jalan Kombes Pol M Duryat, Sidoarjo, Jumat (2/10/2020) sore.

Makna dari menyeser dan menyisir, jelas Kholisoh, “Yang tidak ke sana (pasangan calon lain) berarti kami ambil, gitu. Kami tidak merebut. Yang memang ikut alhamdulillah kami didukung, yang tidak ya  tidak apa-apa.”

Jadi, tim Kelana-Astutik akan menyisiri dan menyeseri mereka yang belum punya pilihan. “Kami bukan memaksa untuk mendukung kami, tidak! Kami memberi pengertian yang santun siapa Pak Kelana dan Bu Dwi Astutik, mereka bisa berpikir sendiri,” paparnya.

Pola menyisir dan menyeser suara ini, mirip dengan cara Khofifah Indar Parawansa yang berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak saat bertarung di Pilgub Jatim 2018.

Kala itu, 29 Mei 2018, di hadapan pengurus DPD Partai Golkar Jatim — salah satu Parpol pengusung Khofifah-Emil — Khofifah membeber kalau undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan alias masih bimbang) masih tinggi, 19,8 persen atau sekitar 6 juta dari total 30.155.719 Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Lantaran undecided voters masih tinggi, kata Khofifah yang juga ketua umum PP Muslimat NU, mengajak seluruh kader Parpol pengusung untuk menyisir dan menyeser para pemilih bimbang tersebut.

“Kalau menyisir itu yang agak besar-besar, dan menyeser yang kecil-kecil kita ambil semua,” kata Khofifah kala itu.

IKUTI CARA KHOFIFAH: Nur Kholisoh, adopsi pola Khofifah di Pilgub Jatim untuk memenangkan Kelana-Astutik. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
IKUTI CARA KHOFIFAH: Nur Kholisoh, adopsi pola Khofifah di Pilgub Jatim untuk memenangkan Kelana-Astutik. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Pola itu, sekaligus diharapkan Khofifah menjadi momen penting untuk bisa terus mengkomunikasikan dengan potential voters yang belum menentukan pilihan atau yang masih memungkinkan pindah pilihan.

Nah, dua diksi Khofifah yang akhirnya memangi Pilgub Jatim 2018 dengan selisih tebal, 7,1 persen atas Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno, kini diadposi Kelana-Astutik di Pilbup Sidoarjo 2020.

Akankah kemenangan Khofifah-Emil menular ke Kelana-Astutik? Kholisoh optimistis, terlebih posko Tim Barokah Berkelas dulu juga dipakai untuk memangkan Khofifah-Emil di wilayah Sidoarjo.

“Ini napak tilas. Maksudnya, dulu ini ditempati Bu Khofifah dan menang dengan kemenangan yang luar biasa, kami yakin sekarang akan memengkan Pak Kelana dan Bu Dwi Astutik,” tegasnya.

» Baca Berita Terkait Pilbup Sidoarjo