Pilwali Surabaya soal Harga Diri! PDIP Hati-hati Pilih Calon

ERI CAHYADI DAN WHISNU: PDIP pilih kader atau non kader di Pilwali Surabaya 2020? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
ERI CAHYADI DAN WHISNU: PDIP pilih kader atau non kader di Pilwali Surabaya 2020? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tak berlebihan kalau Surabaya dilabeli “Kandang Banteng”. Di kota yang dipimpin Wali Kota Tri Rismaharini alias Risma tersebut, PDIP memang digdaya dalam berbagai ajang kontestasi demokrasi pasca reformasi.

Di level Pilpres, dua kali PDIP mengantarkan kemenangan untuk Jokowi (2014 dan 2019). Di ajang Pilwali Surabaya, PDIP juga dua kali memenangkan Risma (2010 dan 2015). PDIP hanya kecolongan di Pilgub Jatim 2018, saat jagoannya Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno dipecundangi Khofifah-Emil Dardak.

Di saat luka kekalahan Pilgub Jatim 2018 masih membekas, kini PDIP dihadapkan pada kontestasi berikutnya, Pilwali Surabaya 2020. PDIP harus mengusung calon hebat, untuk menggantikan Risma yang sudah dua priode memimpin Kota Pahlawan.

Bagi Ketua DPD PDIP Jatim, Kusnadi, Pilwali Surabaya 2020 tak sekadar kontestasi demokrasi, tapi sekaligus harga diri bagi partainya untuk tetap menjadi penguasa di Surabaya.

“Tentunya harapan kita, Surabaya ini karena sejarah ya. Dari masa reformasi Surabaya ini dipegang PDIP, maka untuk 2020 jangan sampai lepas dari PDIP karena berhubungan dengan kita, harga diri kita,” katanya jelang persiapan Konfercab serentak di kantor PDIP Jatim, Jalan Kendangsari Surabaya, Jumat (5/7/2019) sore.

Soal siapa yang kemudian akan dicalonkan, lanjut Kusnadi, PDIP juga perlu ekstra hati-hati karena rasionalitas masyarakat di Surabaya begitu tinggi.

“Maka kita memang perlu cermat, hati-hati untuk menentukan siapa yang akan dicalonkan PDIP. Tapi targetnya untuk Surabaya masih tetap dipegang PDIP,” ujarnya.

Akankah PDIP mengusung duet kader? Menurut Kusnadi, prinsipnya PDIP memprioritaskan mengusung kader di semua level kontestasi demokrasi. “Syukur alhamdulillah kalau yang bisa mempertahankan itu adalah kader,” katanya.

“Tapi kalau kemudian kader itu tak bisa mempertahankan dari segala pertimbangan, berbagai aspek, tidak diikuti dengan subjektivitas tapi ada orang lain yang lebih mampu untuk itu, kenapa tidak?” tandasnya.

Karena itu, PDIP mempersilakan siapa saja untuk ikut penjaringan. “Siapapun, jangan sampai dihalangi untuk mendaftarkan diri menjadi calon kepala daerah dari PDIP. Apakah itu kader atau warga masyarakat biasa, dan sebagainya,” papar Kusnadi.

“Walaupun secara prinsip PDIP sudah menentukan, diutamakan kader. Tapi kalau kemudian dari kader ini belum memberikan suatau gambaran untuk menang, kenapa kok tidak tokoh yang di luar kader,” tandasnya.

Termasuk mempersilakan ‘anak emas’ Risma yang Kepala Bappeko, Eri Cahyadi ikut penjaringan? “Saya tidak mengatakan orang per orang, he.. he.. Siapa saja boleh, tapi nanti dalam proses, dalam rentang waktu yang sudah ditentukan,” ucapnya.

Hingga kini, PDIP belum memiliki calon karena proses penjaringan memang belum dimulai. Sementara 31 PAC dan 154 Ranting PDIP se-Surabaya solid untuk mengusulkan Whisnu Sakti Buana, wakil wali kota yang juga ketua DPC PDIP Surabaya.

» Baca Berita Terkait PDIP, Pilwali Surabaya